
" Ayo mbak, kita pulang!" ajak Intan sambil mengambil dua tas belanjaannya dan masih tersisa tiga tas besar yang berisi belanjaan tadi.
" Oke! Oh iya Heri, kami duluan yah." kata Winda sambil bangkit dari tempat duduk nya lalu mengambil tas belanjaan yang belum diangkat oleh Intan.
" Biar aku saja yang bawain, Win! Sekalian juga aku ke parkiran kok." sahut Herika yang dengna cepat merebut tas belanjaan yang hendak dibawa oleh Winda.
Winda hanya tersenyum dengan bantuan dari Herika sedangkan Intan mulai memajukan bibirnya yang kurang suka dengan sikap modus dari Herika.
" Halah, moduska...!" sindir Intan ketus.
Herika yang mendengar sindiran dari Intan hanya cuek saja sambil berjalan mengikuti Intan yang sudah melangkah lebih dulu keluar dari rumah makan itu.
" Winda! Aku minta nomernya boleh kan?" tanya Herika.
" Nomer apaan? Nomer togel?" sahut Intan ya g mendengar Herika tidak putus asa memintanya pada Winda.
" Eh, untuk apa Heri?" tanya Winda.
" Aku mau masukkan nomer kamu di grup alumni. Waktu dekat ini, akan mengadakan acara besar reunian di kampus kita dulu." alasan Herika.
" Oh, baiklah! Nanti aku kasih." kata Winda.
Intan yang mendengar nya menjadi kurang suka.
Setelah sampai di tempat parkir, Herika meletakkan tas belanjaan milik Winda.
__ADS_1
" Terima kasih, Herika!" kata Winda sambil tersenyum.
" Oh iya, kamu naik apa?" tanya Winda lagi.
" Aku? Aku tadi naik taksi kok." jawab Herika bohong.
" Oh, kalau begitu ikut aja sekalian dengan kami." ajak Winda.
" Eh tidak! Tidak! Tidak boleh!" sahut Intan yang mendengar pembicaraan diantara Winda dengan Herika.
" Lah laki-laki berpenampilan keren, ternyata orang miskin juga." kata Intan pelan namun cukup di dengar oleh Herika dan Winda.
" Eh? Maafkan Intan, Herika." sahut Winda.
" Oh iya, jadi kamu tidak kasih nomer WA mu, lantaran aku orang miskin yah?" kata Herika berusaha memojokkan Winda.
" Eh, ti.. tidak kok. Akan aku kasih. Mana ponsel kamu?" tanya Winda.
" Eh? Waduh, aku gak bawa." alasan Herika.
" Baiklah, akan kutuliskan di kertas yah." kata Winda sambil mengambil notebook dan bolpen di tasnya.
" Ini! Jadi, kamu tidak ikut bareng kami pulang?" kata Winda.
" Tidak! Terima kasih Winda. Ini sudah dari pada cukup. Mendapatkan nomer WA kamu, aku sangat bahagia. Lain waktu boleh kan aku singgah ke rumah kamu? Mana tahu, kamu perlu karyawan untuk mengurus taman di rumah kamu." ucap Herika.
__ADS_1
" Hah? Kamu ada- ada saja." sahut Winda.
" Loh, aku tidak mengada-ada kok. Memang aku orang yang miskin." kata Herika sambil melirik Intan yang masih memandang Herika dengan pandangan tidak suka dan memandang sebelah mata.
" Oh baiklah, kalau ada waktu dan kesempatan main lah ke rumahku. Mana tahu aku bisa membantu kamu dengan pekerjaan yang lebih menjanjikan gajinya." kata Winda dengan tersenyum.
" Terima kasih, Winda." ucap Herika.
" Kalau begitu, kami duluan yah!" kata Winda lalu masuk ke dalam mobil setelah Intan sudah mulai menghidupkan klakson mobilnya.
" Hati-hati Winda!" kata Herika.
" Iya, terimakasih Herika. Sampai jumpa." teriak Winda.
Herika memandang mobil yang ada Winda sampai tak terlihat oleh matanya.
" Tuan muda!" panggil laki-laki dengan perawakan tinggi besar datang menghampiri Herika.
" Oh iya, maaf Pak Jackie jadi lama menunggu yah? " sahut Herika yang menjadi tidak enak.
" Tidak apa, tuan! Hem itu wanita yang dulu tuan muda sukai yah ketika kuliah dulu?" tanya Pak Jackie.
" Iya betul pak. Tapi katanya dia sudah berkeluarga. Setelah ini selidiki dia. Aku ingin tahu kehidupan nya selama ini." perintah Herika dengan tegas sambil berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat nya tadi.
" Baik tuan muda!" sahut Pak Jackie sambil berjalan mengikuti tuan mudanya.
__ADS_1