Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SURYA DAN SARWENDA


__ADS_3

Cerita telah dimulai. Langkah kaki dengan semangat pasti. Tekad membara demi satu tujuan.



Aku suka jingga. Aku suka warna mu yang menyejukkan mata. Mata hati yang harus tajam menatap sang waktu. Waktu yang kian berlalu menyudahi masa. Masa yang berkarat karna mulai uzur. Uzur usia kian melemah. Lemah karena mengikis kekuatan di raga. Raga tak lagi muda menopang zaman. Zaman sudah semakin merajalela. Merajalela menumpahkan titik - titik dosa. Aku dan kamu masih di kuasai, Mau dan Kemauan mu.


Kamu tidak akan sakit karena memang tidak pedulikan ku. Kamu tidak akan terluka karena cinta ini hanya aku yang rasa. Kamu tidak akan merasakan kepedihan itu karena cinta ini bertepuk sebelah tangan. Tragis dan memilukan bukan? Biar lah aku yang menikmati penderitaan karena rasa ini. Biarlah aku pendam dalam hati. Perih lara yang tersakiti.


Surya sudah berada di rumah Sarwenda. Sarwenda duduk berhadapan Surya. Tatapannya penuh dengan rasa senang dan puas karena kehadiran Surya. Secangkir kopi hitam menemani Surya dalam tarikan rokok nya yang menyala. Surya mulai risih di pandangi Sarwenda tanpa berkedip.


" Sudah kenyang melihat aku? Aku pulang dulu sekarang." kata Surya sambil bangkit dari duduknya.


" Nanti dulu! Kita belum makan malam loh! Kamu jangan buru - buru begitu dong!" sahut Sarwenda sambil menahan Surya yang hendak melangkah keluar pintu rumah Sarwenda.


" Aku sudah kenyang Sarwenda." ucap Surya.


" Kamu tidak boleh menolak kali ini, Surya!" ujar Sarwenda sambil mengeluarkan paper bag yang berisi bungkusan kecil.


" Ini hadiah untuk kamu! Karena kamu mau dan berkenan datang menemui aku malam ini, Surya." ucap Sarwenda sambil memberikan paper bag itu kepada Surya.


"Apa ini?" tanya Surya sambil meneliti paper bag pemberian Sarwenda.


" Lihat saja! Kamu tidak boleh menolak loh!" kata Sarwenda sambil tersenyum manis.


Surya mulai mengambil bungkusan kecil itu lalu membuka nya. Bungkusan yang berisi kotak dan isinya jam tangan mewah dan mahal.


" Oh ini! Aku sudah punya jam tangan Sarwenda. Aku tidak memerlukan ini lagi." ucap Surya.


" Astaga! Kamu ini jahat sekali. Itu kan pemberianku, walaupun kamu sudah memiliki jam tangan. Ku belikan khusus jam tangan itu, khusus buat kamu Surya." cerita Sarwenda.

__ADS_1


" Oke! Oke! Aku terima! Terimakasih banyak Sarwenda!" ucap Surya terlihat dipaksakan.


" Yuk makan kita!" ajak Sarwenda sambil menarik tangan Surya menuju meja makan yang letaknya di belakang rumah nya.


Surya dengan terpaksa mengikuti langkah Sarwenda. Sarwenda terlihat gembira dan ceria, Surya menurut saja atas ajakan nya.


" Nah! Bukankah ini semua makanan kesukaan kamu Surya?" tanya Sarwenda sambil menunjuk kan beberapa menu yang di sukai Surya.


" Iya! Tapi aku sudah kenyang Sarwenda!" sahut Surya sambil duduk di meja makan.


" Makan saja dikit - dikit!" sahut Sarwenda sambil mengambilkan piring dan mengisinya dengan sedikit nasi lalu diberikan nya ke Surya.


" Terimakasih Sarwenda!" kata Surya sambil mengambil piring yang berisi nasi pemberian Sarwenda.


Sarwenda mengamati Surya yang melahap makanan yang sudah di sajikan. Walaupun tidak banyak yang di makan Surya, paling tidak Sarwenda merasa lega karena Surya mau makan dari hidangan yang sudah di siapkan.


" Ini minum kamu!" kata Sarwenda sambil memberikan gelas air putih ke Surya. Surya menerima gelas yang berisi air mineral itu begitu saja pemberian Sarwenda.


" Tidak apa-apa! Aku paham itu. Sangat paham Surya! Paling tidak aku sangat senang, orang yang aku sukai sehat dan bahagia." ucap Sarwenda sambil tersenyum.


Terlihat Surya mulai memegang kepalanya. Tangannya mulai memijat pelipisnya sendiri.


" Kamu kenapa Surya?" tanya Sarwenda sambil mendekati Surya.


" Kepalaku kenapa tiba-tiba pusing yah?" tanya Surya.


" Apa kolesterol mu tinggi Surya?" tanya Sarwenda mencoba menebak - nebak.


Tidak ada komentar dan tanggapan dari Surya. Surya duduk bersandar di kursi makan itu.

__ADS_1


" Kamu istirahat dulu ya! Biar aku memapah kamu ke dalam kamar." kata Sarwenda sambil bangkit dari kursinya dan mendekati Surya.


" Aku harus pulang, Sarwenda!" sahut Surya.


" Aku tidak bisa mengantar kamu pulang! Jadi kamu istirahat dulu di sini Surya." kata Sarwenda sambil memapah badan Surya masuk ke dalam ruangan dan menuju kamar utamanya.


Rencana jahat Sarwenda berhasil. Sarwenda memasukkan sedikit obat perangsang kedalam minuman air mineral milik Surya. Air mineral terminum habis oleh Surya dan reaksinya tidak lama. Hati Sarwenda sangat bahagia. Malam ini, Sarwenda akan menguasai Surya. Dan selangkah lagi, Surya sudah ada dalam genggaman nya.


Surya dibaringkan di ranjang mewah milik Sarwenda di kamar utama nya. Surya mulai kegerahan dan kepanasan.


" Panas Sarwenda!" kata Surya sambil membuka kancing atas kemejanya.


" Biar aku yang buka kemeja mu, Surya!" sahut Sarwenda sambil membantu melepas kemeja milik Surya.


" AC nya sudah aku hidupkan kok!" tambah Sarwenda.


" Iya panas sekali!" sahut Surya.


Sarwenda merapatkan badannya mendekati Surya. Sangat dekat sampai Surya mulai kepanasan.


" Apa yang kamu lakukan Sarwenda?" tanya Surya sedikit panik dengan kesadaran akalnya yang sudah berkurang.


" Aku hendak melepaskan celana panjang kamu. Bukankah kamu mulai kepanasan?" jawab Sarwenda sambil membuka gesper yang melingkar di pinggang Surya.


Surya terdiam menyaksikan Sarwenda melakukan aksinya. Berikutnya Sarwenda mulai pelan - pelan mendekati wajah Surya yang super - super ganteng. Surya seperti cacing kepanasan, menegang tanpa perlawanan terhadap tindakan dari Sarwenda. Tangan - tangan nakal Sarwenda mulai menjelajahi daerah-daerah sensitif milik Surya. Rangsangan demi rangsangan telah dilakukan oleh Sarwenda di tubuh atletis Surya. Surya tidak mampu menolaknya. Ia sangat membutuhkan perlakuan khusus itu. Surya menginginkan tindakan lebih dari itu untuk memenuhi segala apa yang dirasakan mengganggu nya.


Sarwenda tersenyum puas. Reaksi obat yang diberikan nya sudah bekerja di tubuh Surya. Surya mulai memanas badannya. Surya seperti meminta perlakuan yang lebih dan lebih dari itu. Sarwenda mulai satu persatu melepas pakaian yang melekat di badannya. Surya melotot tajam melihat pemandangan yang membuat hasrat dan keinginan nya semakin menggelora. Seketika Surya jadi lupa dan melupakan segala nya.


Surya malam ini seketika lupa bahwa nya ada istrinya, Winda telah menantinya di rumah. Surya terbaring di ranjang panas milik Sarwenda. Surya pasrah dalam cengkraman Sarwenda. Jiwa nya meronta ingin terpuaskan. Api yang menyala-nyala itu harus segera di padamkan. Gejolaknya harus segera mendingin dan tercurahkan.

__ADS_1


Sarwenda tersenyum penuh kemenangan. Laki - laki yang biasa menolak dirinya,kini sudah ada di genggaman nya. Laki - laki itu mulai menguasai dirinya. Sarwenda tersenyum menang. Malam ini, mereka melalui dunia yang menggairahkan. Mereka melalui awan - awan yang indah terbang di angkasa yang melenakan. Puncaknya mereka memanjat gunung - gunung yang penuh lekukan yang bikin jantung berhenti berdetak.


" Surya! Pelan - pelan sayang! Aku milik mu malam ini!" kata Sarwenda pelan sambil menggigit bibir nya menikmati segala perlakuan Surya yang sudah sekian lama dia nanti - nantikan.


__ADS_2