Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
KEMBALINYA YUSLITA


__ADS_3


Ketika Engkau bertanya padaku. Dimanakah rumah Tuhan itu? Letak sesungguhnya ada di hatimu. Dia mendengar segala suara- suara baik lisan maupun dalam hati kamu. Betapa PENGASIH DAN PENYAYANG NYA TUHAN. Dan apakah kamu harus meragukan itu? Di manapun ingatlah! Tuhan MAHA BAIK.


Segala bentuk perbuatan yang kamu lakukan, baik itu hanya menyingkirkan batu di tengah jalan, akan mendapatkan balasan dari Nya. Niatan di hati kamu itu lah sebagai penentu nilai yang akan didapatkan. Demikian juga segala niatan dan tindakan yang buruk, tetap mendapatkan balasan dan karmanya. Entah dalam waktu dekat maupun dimasa depan yang tidak kita ketahui secara pastinya. Bercermin lah pada tokoh yang bisa dijadikan panutan dalam hidup kamu. Sesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas mu. Tuhan tidak akan membebani mu serta memberatkan mu dalam beribadah dan beramal sholeh.


*******



" Waktu sudah mulai dekat di hari pernikahan kita. Ada kekhawatiran dan rasa takut." ucap Winda sambil menatap jauh ke luar di sekitar tempat makan yang bernuansa santai beralaskan tikar dari pandan.


" Apakah kamu mulai ragu menikah dengan aku, my queen?" tanya Bang Hendra sambil memandangi wajah polos Winda seolah menelanjangi segala yang tersirat di pikiran wanita yang sudah menjadi penjaga hatinya saat ini.


Winda hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil melihat balik ke arah pria yang memperhatikan dirinya tanpa berkedip.


" Lalu, apa yang kamu risau kan, my queen? Jangan khawatir dengan pelaksanaan dan acara pernikahan kita nanti. Serahkan semua pada WO nya. Kita tinggal duduk manis dan menikmati kebahagiaan kita bersama keluarga besar kita.


" Bukan itu yang saya khawatir kan, my king. Takut saja, kalau hari itu tidak terjadi." sahut Winda sambil menarik nafas nya.


" Eh ya Tuhan, my queen! Jangan berpikir jauh seperti itu dong, sayang!" kata Bang Hendra lalu mengambil minuman di depannya.


Winda kini menatap jauh di seberang. Di seberang sungai yang mengalir deras sekitar tempat makan itu ada bangunan rumah kayu yang mulai tak terawat. Di sampingnya ada bangunan yang merupakan rumah peribadatan bagi umat muslim sekitar. Masjid yang digunakan sebagai tempat beribadah, bersujud, rukuk dalam tasbih, tahmid, takbir itu terlihat begitu indah dan nyaman. Lampu- lampu yang ber kelap-kelip menambah keindahan pemandangan nya. Terlihat kontras dengan rumah kayu yang akan roboh itu.


Tiba-tiba ada seorang wanita cukup cantik dengan penampilan yang seksi datang menghampiri mereka. Mata Hendra seketika melotot menandakan keterkejutan nya dengan kedatangan wanita tersebut. Winda hanya diam ikut memperhatikan kedatangan wanita itu yang sok kenal dan sok akrab dengan Hendra, kekasih hatinya.


" Halo sayang! Kamu disini yah? Kita memang benar-benar berjodoh." kata wanita itu sambil menyerobot pipi kanan milik Hendra.

__ADS_1


Hendra tidak bisa mengelak nya. Pergerakan wanita itu sangat cepat mencium Hendra tanpa bisa menolaknya. Winda seketika terkejut dibuatnya. Tanda tanya dalam dirinya mulai muncul dipikirannya. Kecemburuan itu seketika ada di benaknya. Hatinya kacau seperti anak kecil yang balonnya tiba-tiba meletus dan membuat sedih dan kecewa.


" Ka.. kamu? Kamu kenapa di sini, Yuslita?" tanya Hendra sedikit gugup, takut Winda marah dengan situasi tersebut.


" Kenapa? Bukankah ini tempat umum? Siapa saja bisa masuk, makan dan minum disini, bukan? Apakah kamu tidak merindukan aku, sayang?" ujar Yuslita menggoda sambil melirik ke arah Winda.


Winda yang melihat sikap Yuslita kurang bersahabat dan menantang dirinya hanya bisa terdiam, tidak mau ribut serta tidak mau berkomentar.


" Saya mau ke toilet dulu!" kata Winda sambil bangkit dari tempat duduk nya.


" Sayang! Disini saja! Nanti akan aku jelaskan, siapa wanita ini." sahut Hendra panik.


" Kenapa? Saya cuma mau ke toilet loh!" ujar Winda dan mulai melangkah meninggalkan mereka berdua.


" Yang lama ke toiletnya, ya mbak!" kata Yuslita sambil tersenyum sinis.


" Yus! Kamu merusak kencan aku dengan wanitaku." ujar Hendra.


" Aku tidak peduli! Yang penting aku ingin kembali lagi dengan kamu. Status aku sudah janda, sayang. Kita bisa memperbaiki hubungan kita lagi dan menikah seperti yang kamu janjikan dahulu." kata Yuslita.


" Tidak! Tidak akan pernah! Aku sudah memiliki Winda. Wanita yang aku cintai." sahut Hendra.


" Oh jadi wanita itu bernama Winda?" tanya Yuslita sinis.


" Aku yakin, kamu masih ngarep dengan aku. Kamu masih menyukai aku. Bukankah kamu selalu berkata, hanya aku lah wanita yang ada di hati kamu?" kata Yuslita.


" Yuslita! Semua itu sudah berlalu. Hal itu sudah lama sekali. Kamu yang memulai meninggalkan aku, menikahi pria lain ketika aku sedang sayang- sayang nya." kata Hendra.

__ADS_1


" Maaf! Semua itu karena perjodohan. Kamu tidak bisa menyalahkan aku sepenuhnya dong, sayang! Sekarang aku datang. Dan kebetulan sekali aku bertemu kamu di tempat ini." sahut Yuslita.


Yuslita meraih tangan Hendra dan menggenggam nya dengan erat. Badannya semakin dirapatkan sangat dekat, seolah tidak diberi ruang dan jarak Hendra supaya tidak lari darinya.


" Awas! Menjauh lah dari aku, sebelum kekasih aku datang kembali." ujar Hendra mulai gelisah.


" Aku rasa, Winda mu itu tidak akan kembali ke tempat duduk ini." kata Yuslita berbisik ditelinga Hendra.


Hendra mulai mencium aroma tubuh dan nafas Yuslita yang dahulu pernah akrab dengan dirinya.


" Aku tahu! Kamu tidak akan lupa bukan? Aku lah wanita yang pertama dan satu-satunya yang paling dekat dengan kamu. Dan akulah wanita yang pertama pernah kamu tiduri. Hemm." bisik Yuslita.


" Yuslita!!! Kamu! Ka... kamu jangan gila! Menjauh lah dari aku! Sebelum kesabaran aku habis." ujar Hendra sedikit tertahan kata- katanya karena mulai merasakan sensasi saat dekat dengan Yuslita.


Ingatan Hendra tentang masa lalunya bersama Yuslita mulai mengganggu dan menari- nari di matanya. Cukup dekat dan intim hubungan dengan Yuslita dan hampir saja menikah. Tetapi tiba-tiba Yuslita memutuskan hubungan sebelah pihak dan memilih meninggalkan Hendra. Yuslita menikah dengan pria kaya pilihan orangtuanya. Saat itulah, Hari-hari Hendra diliputi masa kegalauan. Kekecewaan, kesedihan hinggap dalam diri Hendra dan sulit untuk memaafkan, melupakan Yuslita.


Cinta yang berubah seketika menjadi kebencian. Benci tapi ada kerinduan yang tidak bisa di hilangkan. Berusaha mencari tahu kabar dan keadaan Yuslita namun tidak menemukan kabar berita itu dengan mudah. Yuslita memblokir semuanya supaya Hendra tidak bisa menemukan dan mengetahui kehidupan barunya bersama pria yang dinikahinya.


" Winda! Eh Winda!" kata Hendra pelan sambil bangkit dari tempat duduknya ingin mencari keberadaan Winda yang tidak ujung kembali ke tempat itu.


" Sudahlah! Jangan dicari lagi wanita itu! Ada aku disini! Setelah ini, bagaimana kalau kita menghabiskan malam ini dengan melepaskan segala kerinduan kita, sayang? Aku siap menjadi wanita kamu seumur hidup kamu, mulai hari ini." sahut Yuslita sambil menahan lengan milik Hendra sampai Hendra kembali terduduk kembali.


" Winda! Kamu di mana?" gumam Hendra.


Yuslita hanya tersenyum melihat kegalauan dan kebimbangan pada diri Hendra.


" Aku yakin, kamu masih menyukai aku. Kamu masih merindukan aku." batin Yuslita sambil tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


*******


__ADS_2