
Kau hanya mampu menunggu tanpa berbuat. Namun kau banyak harap tanpa bergerak. Usaha pun tak ada. Lalu? Apa yang bisa kau tuntut, sedang nyata hasil dari karya mu tak ada.
Sebentar! Aku akan menjadi patung. Diam-diam diam tidak bergerak, tidak bernafas, namun mendengar setiap desah, keluh dan ratapanmu. Dalam pikir, aku akan mengusik hidupmu dalam tiap doa- doa. Harap cemas semoga Tuhan selalu melindungi mu.
Mungkin saja aku bukan malaikat untuk mu. Yang setiap saat bisa menjaga mu dari gangguan dan godaan hatimu. Mungkin saja aku tidak bisa menjaga hatimu. Walaupun ada namaku sudah terpahat di dinding hatimu. Lalu, apa gunanya aku, jika kau masih bermain- main dengan sosok lain selain aku. Apakah ada yang tidak kau dapat dari diriku. Jika itu benar! Katakan, setidaknya aku akan menjadi apa yang kau mau. Demi segala rasa ini, sudah terlanjur sayang dan tak ingin kau lepas dari genggaman ku.
*******
" My king!" kata Winda setelah panggilan keluar nya itu tersambung dan diangkat oleh si pemilik nomer itu.
Namun tidak ada sahutan di seberang sana. Beberapa kali Winda mengatakan hallo dan menyapa orang di seberang sana yang tidak lain adalah Bang Hendra terapi belum ada suara yang terdengar dari ponsel itu.
" Sayang? Sayang masih di sana kah?" kata Winda yang masih setia menunggu suara di seberang sana.
" Bang Hendra! Abang marah atau..." ucap lagi Winda.
" Oh ayolah, my king sayang! Jangan seperti anak- anak dong. Aku tadi hanya makan sebentar. Lagi pula kami bertiga tidak berdua saja. Ketemu kawan lama kampus jadi asyik ngobrol nya." cerita Winda namun tidak ditanggapi Bang Hendra yang masih di seberang sana.
" Abang! Ayolah! Tadi kami bawakan makanan untuk kamu, loh sayang! Tapi abang sudah keburu pulang." cerita Winda masih berkelanjutan.
" Abang, dia Herika sahabat dari Mas Surya dulu waktu kuliah. My king jangan cemburu dong!" ujar Winda sambil menarik nafasnya dengan kasar lalu cukup lama terdiam.
Sambungan itu masih terhubung dan keduanya akhirnya tidak berkata-kata apa pun. Winda diam dan hanya suara hembusan nafasnya saja sesekali terdengar dari seberang sana. Mungkin saja, Bang Hendra sedang merokok dan membiarkan ponselnya Digeletak kan begitu saja.
Winda akhirnya mematikan ponselnya dan bergegas keluar dari kamar milik Wisnu. Kaki Winda melangkah dengan gontai menuju sofa diruangan santai rumahnya. Sedangkan Herika masih juga pulang karena sedari tadi Winda belum keluar dan masih di kamar Wisnu.
" Eh, astaga! Aku sampai melupakan kamu Herika! Maaf!" kata Winda sambil memaksakan untuk tetap tersenyum ramah.
" Ada apa? Apa abang kamu merajuk?" tebak Herika sambil tersenyum.
" Gak tahu juga! Aku hubungi namun tidak ada suara. Memang tersambung, namun aku bicara seolah tidak di gubris. Akhirnya aku matikan saja. Hadeuh!" keluh Winda sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
" Abangmu besok juga tidak bisa lama- lama mendiamkan kamu, Win. Kekasih secantik dan seramai kamu, mana dia tahan berpura-pura marah dengan kamu." kata Herika.
" Ah, itu jika kekasihku itu kamu. Eh?" sahut Winda tanpa sadar nyeplos berkata begitu.
" Hahaha. Iya jika itu aku, paling yang sering ngambek kamu nya." ujar Herika.
" Kenapa begitu?" tanya Winda sambil mendelik matanya.
" Karena cewek yang suka dan mengejar aku banyak, Winda. Kamu tahu kan, orang mengenalku bukan karena aku pribadi yang baik atau ganteng. Melainkan karena aku dikenal lahir dari keluarga berada dan aku salah satu pewaris dari kekayaan keluarga ku itu. Selain itu, aku sudah mulai mandiri memiliki perusahaan dan sukses menjadi pengusaha muda." cerita Herika bukan bermaksud menyombongkan.
" Kalau begitu, aku akan senang hati menerima kamu untuk menjadi sopir pribadimu." sahut Winda sambil tertawa terbahak-bahak.
" Hahaha. Jangan diungkit lagi dong!" ujar Herika malu dan tersipu malu.
" Tapi boleh juga deh, jika aku bisa menjadi sopir pribadimu. Tapi dengan satu syarat." canda Herika.
" Syarat nya apa itu? Hahaha." tanya Winda ikut bercanda.
" Jadi kekasih aku!" jawab Herika sambil menatap dengan tajam dan tanpa berkedip ke wajah ayu Winda.
" Bagaimana? Aku serius loh!" tanya Herika lagi masih tidak lepas memandang wajah ayu Winda.
" Sudah jangan bercanda!" sahut Winda.
" Lagi pula, kenapa kamu memandang aku tak berkedip seperti itu. Kamu tidak takut jika bola mata kamu lepas dari tempat nya?" canda Winda.
" Serius lah, Winda! Dari dulu kalau dengan aku tidak pernah serius kamunya." kata Herika.
" Karena aku suka candaan kamu, Herika." sahut Winda.
" Tapi aku gak mau bercanda jika urusan perasaan ini, loh Winda." kata Herika.
" Bagiku, kamu enak di ajak ngobrol dan aku sangat nyaman dengan ini." ucap jujur Winda.
__ADS_1
" Asyik! Benarkah? Kalau begitu besok aku jemput kamu yah?" kata Herika.
" Mau kemana?" tanya Winda.
" Loh, bukankah kamu besok kerja?" tanya Herika
" Besok? Hem, besok ke kantor perusahaan Keluarga Hartono. Ada pertemuan klien." kata Winda.
" Oh iya, Herika! Aku ada adik ipar atau adik dari Mas Surya. Dia bernama Intan. Kamu masih ingat bukan?" kata Winda.
" Tentu! Yang paling judes dan tidak menyukai aku ketika kita berjumpa di rumah makan di pusat pembelanjaan tempo hari itu kan?" jawab Herika.
" Hehehe. Dia sebenarnya baik, ramah, tidak sombong. Mungkin karena tidak mengenal kamu, Herika. Jadi dia berprasangka tidak baik dengan kamu." kata Winda.
" Oh iya, namanya Intan. Bagaimana kalau kamu coba dekati dia." tambah Winda.
" Ogah!! Aku hanya mau dengan kamu!" sahut Herika dengan tenang.
" Hahaha!" kembali Winda hanya tertawa menanggapi semua sikap dan perkataan Herika tidak serius.
" Winda! Kopi aku habis nih. Bisa tambah lagi gak?" pintar Herika sambil tersenyum.
" Tidak boleh! Sudah malam! Eh sudah larut malam. Kamu melupakan kalau Pak Jackie menunggu di depan?" kata Winda sambil tersenyum.
" Biarkan saja! Pak Jackie paling kalau tidak betah turun ikut nimburung dengan satpam di depan." sahut Herika santai.
" Herika?" kata Winda seperti memohon supaya Herika cepat pulang dari rumahnya.
" Winda! Kita kan sudah lama gak berjumpa dan bercerita panjang lebar. Aku loh, masih kangen sama kamu." sahut Herika dengan santai.
" Masih ada besok, bukan?" kata Winda dengan terkekeh.
" Ayolah! Ini gelasnya! Satu gelas kopi lagi, baru aku pulang!" pinta Herika sambil menyerahkan gelas bekas kopi yang diminum nya.
__ADS_1
" Astaga! Belum nanti nunggu dingin kopi nya, lalu nunggu habis rokoknya. Terus pulangnya bisa pagi. Herika.. Herika!" omel Winda sambil melangkah menuju belakang rumahnya.
" Woy! Kalau bikin kopi jangan sambil menggurutu. Bisa- bisa rasa kopi nya menjadi kecut." teriak Herika sambil terkekeh.