
Winda sudah terbaring di bangsal rumah sakit. Di sampingnya ada ibu mertuanya, Ibu Hartini. Dengan penuh kasih sayang, Ibu Hartini setia menemani mantunya yang sudah mulai meringis kesakitan karena mulai kontraksinya. Wajahnya Winda mulai memijat. Kegelisahan nya mulai terlihat. Mata nya masih tertuju kearah pintu keluar. Seolah menanti seseorang yang diharapkan nya datang di dekatnya. Iya! Winda sangat menanti kedatangan suaminya, Surya. Disaat - saat seperti ini, dia sangat membutuhkan kehadiran Surya yang bisa menemaninya dalam kesakitan ketika melahirkan buah hati cinta mereka. Sudah beberapa lama tapi yang dinantinya tidak kunjung datang.
Pintu kamar itu dibuka. Ternyata yang datang adalah Pak Hartono beserta putrinya yaitu Intan yang tidak lain adalah adik dari Surya. Wajah kecewa terpancar dari Winda. Seseorang yang diharapkannya ternyata belum tiba. Ibu Hartini yang menangkap kegelisahan Winda yang menanti Surya mulai menenangkan Winda.
" Winda! Jangan kwatir atas Surya. Kamu fokus saja dengan kelahiran anak mu ini, ya sayang. Mungkin saja Surya sedang dalam kesibukan yang tidak bisa di ganggu." ucap Bu Hartini.
" Memangnya HP nya tidak bisa dihubungi ya Ma?" tanya Intan yang blak-blakan. Seketika di cubit oleh Pak Hartono.
" Tidak! Mungkin saja baterei nya nge drop." sahut Pak Hartono.
Tidak berapa lama pintu kamar dibuka lebar. Beberapa suster masuk dengan membuka dua daun pintu itu. Suster itu mendekati Winda yang sedang berbaring.
" Ibu, bapak, maaf! Pasien akan kamu bawa ke ruang persalinan." ucap salah satu suster itu dengan sigap mendorong tempat tidur besi itu.
__ADS_1
" Oh iya suster!" sahut Bu Hartini sambil memberikan ruang gerak supaya suster itu bisa leluasa mendorong tempat tidur pasien.
" Winda! Kamu harus semangat ya sayang!" ucap Ibu Hartini sambil memegang kepala Winda dengan lembut.
" Winda! Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak ya nak!" sahut Pak Hartono.
" Mbk Winda! Semangat mbk Winda!" ujar Intan ikut memberi semangat.
" Iya, terimakasih banyak Ma,Pa, Intan! Doakan saya dan bayi saya baik - baik saja." ucap Winda pelan.
Suster itu membawa dan mendorong tempat tidur besi yang di atasnya Winda berbaring itu ke ruangan bersalin.
__ADS_1
Ya Tuhan! Apa yang sedang aku risau kan? Siapa yang aku harapkan, ketika kesakitan ini dalam bertaruh nyawa? Apa yang aku nanti, jika kesepian ini sangat membunuh batinku? Kerinduan ini menyelimuti kebekuan tubuhku yang menggigil pilu. Aku sangat rindu akan sosok mu. Kenapa kau tidak hadir ketika aku sangat membutuhkan kamu ada mendampingi. Kemana kah kamu, sayang? Derita dan kesakitan ini seperti menusuk jantungku. Ketika bayangan mu pun tidak bisa ku gapai dengan tanganku.
Ketika tanganku pun tidak mampu meraih dan menggenggam sekelebatan itu. Aku terjatuh dalam sepi dan rindu. Hadirmu bagaikan dipandang tandus yang menanti air hujan jatuh. Rasanya hampa penantian itu. Berdiam pun rasanya menyesakkan kalbu. Menambah rasa kesakitan karena beban ku.
Cepatlah datang! Dan genggam lah tangan ini. Cepatlah pulang! Bantu aku meringankan kepiluan ini. Aku perlu kamu ada di sisi. Tanpa mu dunia sepi. Tanpamu hampa hidup ini. Seperti berjalan tak menginjakkan kaki di bumi. Terbang melayang karena kekosongan pandangan ini. Sayang! Cepatlah pulang! Dan berlari lah menggapai kembali tangan kecil dan mungil ini. Bersama kita mengarungi kebahagiaan kembali.
Sudah sekian lama, akhirnya pintu ruang tunggu terbuka. Salah satu suster keluar dan menghampiri Pak Hartono dan Bu Hartini yang duduk di kursi ruang tunggu.
Bu Hartini bergegas bangkit dari tempat duduknya.
" Bagaimana suster?" tanya Bu Hartini diiringi Pak Hartono dengan wajah panik dan penuh tanya.
" Alhamdulillah Bu, Pak! Ibu dan bayi selamat. Cucu bapak dan ibu, laki - laki." kata suster itu dengan tersenyum dan menjabat tangan ibu dan bapak Hartono. Intan yang mendengar semua itu ikut tersenyum gembira.
__ADS_1
" Alhamdulillah! Kita sudah jadi kakek dan nenek Ma!" ucap Pak Hartono gembira ria.
" Dan aku sudah jadi Tante dong!" sahut Intan ikut gembira dengan kelahiran ponakan nya.