Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADUKU 2 (EPISODE 14)


__ADS_3

Wardhana akhir- akhir ini mudah sakit. Keluhan berat di kepalanya dan sakit bagian itu sering dialaminya. Rosiana jadi mulai mengkhawatirkan keadaan dari Wardhana. Wardhana saat ini masih belum mencari kesibukan setelah tidak bekerja dan melepas semua kewajiban dan tugasnya di perusahaan milik Sarwenda.


Sedangkan Rosiana sendiri ikut membantu berjualan di warungnya yang ada di samping rumahnya. Arsyil sendiri tetap fokus dengan kegiatan sekolahnya.


Sidang perceraian antara Sarwenda dan Wardhana sudah digelar kemarin lusa dan hasilnya mereka sudah resmi bercerai. Sedangkan hak asuh anak jatuh di tangan Sarwenda karena alasan ada wanita kedua dalam rumah tangga mereka.


Setelah resmi bercerai itulah, Wardhana jadi banyak pikiran. Entah apa yang masih mengganjal dalam pikirannya sehingga Wardhana merasakan kegalauan, keresahan, merasa bersalah, dan juga kekhawatiran. Khawatir kalau dirinya tidak bisa menyekolahkan Anak-anak nya terutama Arsyil sampai jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ditambah dirinya belum mendapatkan pekerjaan yang baru pengganti dirinya yang selama ini bekerja di perusahaan keluarga Sarwenda.


Tidak banyak aset- aset yang dimiliki oleh Wardhana bersama dengan Sarwenda. Semua sudah diambil alihkan untuk anak-anak nya terutama Siwa dan Dahlia. Sedangkan Arsyil memang sepenuhnya urusan dari Rosiana dan Wardhana. Walaupun Siwa adalah anak Rosiana dan merupakan anak angkat Sarwenda, Sarwenda sudah menganggap Siwa seperti anaknya sendiri. Jadi Siwa dan Dahlia sudah tanggung jawab dari Sarwenda.


Saat ini Wardhana memijit pelipisnya sendiri. Wardhana merasakan pusing yang teramat sakit. Rosiana masih di warung sibuk dengan para pengunjung warung itu yang memesan beberapa menu andalan di sana. Saat itu kebetulan saja warung lagi banyak pengunjung sehingga Rosiana sangat sibuk melayani pembeli baik hendak dimakan di tempat atau ingin dibungkus dibawa pulang.


Wardhana tidak tahan merasakan pusing yang begitu hebatnya hingga Wardhana akhirnya tergeletak di atas pembaringannya. Wardhana pingsan untuk beberapa saat dan tidak ada yang mengetahui nya.


*******


Arsyil dan Rosiana kini sudah ada di rumah sakit. Kondisi Wardhana saat ini sedang mengalami penurunan kesadarannya. Serangan sakit pada otaknya itulah yang menyebabkan Wardhana mengalami mata yang tiba-tiba tidak jelas dan rabun. Wardhana masih belum belum sadarkan diri di ruang gawat darurat.


Arsyil dan Rosiana masih menunggu dengan panik di kursi tunggu luar ruangan itu. Dokter dan timnya belum keluar dari ruangan itu. Kecemasan masih terlihat di wajah Rosiana. Apalagi hal ini terjadi sangat tiba-tiba karena selama ini Wardhana tidak pernah mengeluhkan rasa sakitnya. Rosiana berpikir Wardhana selalu baik- baik saja dan memang kenyataan nya selalu menjaga pola makannya. Di samping Rosiana memang tidak masak masakan yang aneh- aneh. Rosiana selalu memperhatikan Wardhana kalau hendak makan. Rosiana lah yang selalu menyiapkan makan jika mereka hendak makan bersama.


Seorang laki-laki dan dua orang perawat sudah keluar dari ruangan itu. Rosiana dan Arsyil yang melihat nya langsung bergegas mendekati dokter itu. Rosiana belum berani berucap. Namun dokter itu seolah tahu dan paham tentang apa yang akan terucap dari mulut Rosiana itu pada dirinya.


Dokter itu mulai memberitahukan ke Rosiana kalau Wardhana akan segera dipindahkan di kamar inap.


" Ibu, jangan khawatir! Bapak sudah lebih baik. Hanya saja serangan stroke yang tiba-tiba menjadikan bapak harus dirawat secara intensif. Masalah awalnya adalah bapak mengalami tekanan darah yang cukup tinggi sehingga serangan stroke ini terjadi pada bapak." terang Laki-laki itu.

__ADS_1


Rosiana terdiam beberapa saat. Namun Rosiana juga belum tahu, saat ini kondisi terakhir Wardhana.


" Sebentar lagi bapak sudah bisa dipindahkan di kamar inap bu!" kata laki-laki yang berpakaian putih itu.


" Baik dokter! Terimakasih informasinya." sahut Rosiana akhirnya lalu di tuntun Arsyil kembali duduk di kursi tunggu.


" Mama yang sabar yah! Ayah pasti akan baik- baik saja!" ucap Arsyil kepada mamanya.


" Kita doakan supaya ayahmu lekas pulih dan kembali sehat seperti sedia kala." kata Rosiana pelan dengan suara bergetar.


*******


Kabar Wardhana yang masuk ke rumah sakit dan mengalami serangan stroke sampai juga ke telinga Sarwenda. Pasalnya Arsyil memberikan kabar tentang sakitnya Wardhana itu kepada kakak- kakaknya yaitu Siwa dan Dahlia. Walaupun hubungan antara Sarwenda dengan Wardhana kurang baik setelah gugatan cerai dan akhirnya cerai itu terjadi, namun anak- anaknya masih menjalin hubungan yang baik. Apalagi Dahlia yang menyayangi adiknya itu, si Arsyil.


" Jadi bagaimana Kak?" tanya Dahlia kepada Siwa.


" Kamu ada tabungan tidak?" tanya Dahlia kepada Siwa.


" Tentu saja ada! Bukankah dulu ayah selalu memberikan dua ATM kepada kita, yang satu untuk tabungan dan yang satunya lagi untuk biaya kita sekolah serta jajan." jawab Siwa.


" Iya, aku ingin membantu mamanya Arsyil untuk membayar semua administrasi ayah selama dirawat di rumah sakit beserta obat- obatnya." ucap Dahlia yang penuh perhatian.


" Setelah ayah bisa pulang dari rumah sakit kita cari pengobatan alternatif untuk memulihkan kondisi bapak setelah serangan stroke itu. Bukankah dulu mama Sarwenda juga berobat dengan pengobatan alternatif kan untuk menyembuhkan segala keluhan penyakitnya. Mama Sarwenda sekarang sudah jauh lebih baik dan sehat wal afiat." kata Siwa.


" Benar! Kita selalu berusaha dan berdoa untuk kesembuhan ayah Wardhana. Aku kalau sudah seperti ini menjadi sangat sedih sekali." ucap Dahlia.

__ADS_1


" Kak Siwa! Ayo kita ke rumah sakit segera!" ajak Dahlia tidak sabar.


" Tunggu mama keluar dari kamarnya dulu. Kita juga harus mendapatkan ijin dari mama untuk pergi menjenguk ayah Wardhana." sahut Siwa.


Sarwenda keluar dari kamarnya. Dahlia dan Siwa diam menatap mamanya itu. Mamanya berjalan melenggang menuju ruang makan. Akhirnya keduanya, Siwa dan Dahlia mengikuti mamanya ke ruangan makan itu.


" Ada apa?" tanya Sarwenda kepada Dahlia.


" Kami mau ke rumah sakit menjenguk papa!" jawab Dahlia yang saat ini sudah duduk di dekat Sarwenda.


Sarwenda menatap Siwa dan Dahlia secara bergantian. Sarwenda masih diam belum menjawab dan mengijinkan mereka pergi.


" Mama! Kami minta ijin mau ke rumah sakit. Bagaimana pun juga, papa Wardhana adalah ayah kami. Kami ini anak- anak papa Wardhana. Mama harus mengijinkan kami menjenguk papa." kata Dahlia.


Sarwenda masih diam belum berkata. Sarwenda hanya menatap bola mata anak wanita nya itu. Sedangkan Siwa hanya menundukkan kepalanya berusaha menutupi kesedihan nya karena ayahnya saat ini sedang sakit.


" Kalau mama tetap tidak mengijinkan kami pergi, kami akan tetap nekat untuk pergi juga." ancam Dahlia yang membuat mata Sarwenda membulat.


" Besok saja!" sahut Sarwenda sambil meninggalkan kedua anaknya itu yang masih duduk di kursi makan.


" Tapi, ma!! Kami ingin segera mengetahui keadaan papa!" teriak Dahlia namun Sarwenda tetap saja melenggang masuk ke kamarnya kembali.


" Bagaimana ini kak?" tanya Dahlia.


" Ya sudahlah! Kita ikuti kata mama Sarwenda! Besok saja kita ke rumah sakitnya." kata Siwa berusaha menenangkan Dahlia.

__ADS_1


" Kita masih harus terus bertanya kepada Arsyil tentang keadaan ayah Wardhana! Dan kita di rumah selalu berdoa untuk kesembuhan ayah Wardhana." tambah Siwa sambil mengelus lengan Dahlia, adiknya.


__ADS_2