
Hari yang sudah dinanti kan oleh Wardha telah dekat. Kini Sarwenda sudah menjalani operasi Caesar dalam proses pengambilan bayi dengan menyayat perut sampai rahimnya. Sebenarnya tidak ada permasalahan yang terjadi dalam kandungan atau proses persalinan itu jika harus menghendaki kelahiran secara normal. Tetapi Wardha dan juga Sarwenda menginginkan jalan operasi sesar.
Wardha mulai mencemaskan proses operasi itu berlangsung sampai akhir nya proses itu pun telah dilalui Sarwenda. Sarwenda kini sudah menjadi seorang ibu. Baginya ini adalah suatu kebahagiaan dan kepuasan yang dirasakan seorang wanita ketika bisa melahirkan anak dari rahimnya. Air mata mulai menetes tanpa disadari oleh Sarwenda. Kini dia sudah menjadi seorang ibu. Kodrat nya sebagai wanita yang mengandung dan melahirkan karena memiliki rahim yang tidak dimiliki oleh kaum Adam. Seorang wanita menjadi sempurna tatkala sudah dipercaya oleh Tuhan dengan dititipkan bayi kecil dengan ruh didalam rahim itu.
" Syukurlah Sarwenda, sayang. Kita sudah menjadi ayah dan ibu. Terimakasih kamu sudah menjaga anak kita." kata Wardha sambil memegang tangan Sarwenda ketika Sarwenda sudah dipindahkan ke kamar rawat inap.
Sarwenda hanya tersenyum. Ditatapnya lekat wajah laki- laki yang sering dia acuhkan. Laki- laki itu sungguh menyayangi dirinya tanpa syarat. Seharusnya dia bahagia, ada seseorang yang selalu menyayangi dan menghargai dirinya sebagai wanita.
Sarwenda mulai mencari keberadaan papi nya yang berada diluar kamar. Papi nya adalah Pak Danu sudah datang bersama istrinya, mama tiri Sarwenda.
" Papi mana?" tanya Sarwenda dengan suara pelan.
" Papi dan mami lagi pergi sebentar. Katanya membelikan perlengkapan yang diperlukan untuk kamu disini dan juga makanan dan buah-buahan." jelas Wardha.
" Papi dari dulu sangat menyayangi aku. Tetapi akulah yang selalu bikin kecewa papa." ucap Sarwenda penuh sesal.
" Sudahlah jangan diperpanjang. Setiap orang akan berbuat apa saja untuk menarik perhatian orang tua nya. Benarkan?" kata Wardha menebak.
" Iya kamu benar! Setelah kepergian mami. Aku merasa papi tidak perhatian dan tidak peduli lagi dengan aku. Papi seperti fokus dengan wanita yang dicintainya. Mungkin saja jatuh cinta yang kedua itu membuat lupa diri terhadap aku, anak semata wayangnya. Padahal aku masih butuh perhatian dan kasih sayang papi. Aku dari dulu lebih dekat dengan papi dibandingkan dengan mami aku. Tetapi bukan berarti aku tidak sayang atau dekat dengan mami aku." cerita Sarwenda.
" Biasanya memang begitu. Anak wanita akan lebih dekat dengan ayahnya. Dan anak laki- laki akan lebih dekat dengan ibunya." ucap Wardha sambil membelai rambut Sarwenda.
" Jadi, setelah ini maukah kamu menikah dengan aku, sayang?" tanya Wardha.
Sarwenda hanya mengangguk pelan. Ditatapnya Wardha dengan pandangan penuh kasih. Sarwenda merasa beruntung dan bersyukur ada laki-laki yang bersikukuh dengan tekad nya. Dia tidak putus asa mengejar wanita yang dicintainya.
__ADS_1
" Wardhana! Terimakasih banyak atas cinta kamu yang tulus ini. Aku menjadi wanita yang beruntung telah kamu cintai dengan tulus dan tanpa syarat." ucap Sarwenda sambil menggenggam erat tangan Wardha.
" Aku juga sangat beruntung, kamu sudah menyukai aku. Kamu adalah wanita yang sedari dulu aku mimpikan untuk menjadi ibu bagi anak-anak ku. Terimakasih kamu sudah membalas kasih sayangku ini." kata Wardha penuh dengan kebahagiaan.
*******
" Halo sayang!" sapa mami tiri Sarwenda yang baru masuk kedalam kamar inap itu bersama papi Sarwenda, Pak Danu.
Wardha menghampiri mereka lalu menjabat tangan kedua orang tua yang masih berusia sekitar 45 tahun itu secara bergantian.
" Kamu sudah makan, Wardha? Tante belikan makanan buat kalian juga." kata mami tiri Sarwenda yang bernama Bu Martha.
" Terimakasih Tante." sahut Wardha sambil tersenyum ramah.
" Bagaimana kabar anak papi? Sudah lebih baik kah?" tanya Pak Danu sambil mendekati putri satu-satunya.
" Sudah tidak apa-apa. Sekarang yang terpenting kamu bahagia, kan? Ada Wardha yang selalu menemani dan memperhatikan kamu." kata Pak Danu seolah paham dan memahami apa yang akan Sarwenda katakan.
" Sarwenda minta maaf, Pi. Saya selalu membuat kecewa papi." ucap Sarwenda pelan.
" Sudah jangan dibahas lagi. Papi paham semuanya. Sekarang kamu sudah menjadi ibu. Dan papi kamu ini sudah memiliki cucu. Kamu sudah menjadi orang tua bagi anak-anak kamu kelak. Kesalahan masa lalu masih bisa kita perbaiki. Manusia tidak selalu berbuat salah. Dan manusia tidak melulu berbuat baik." ucap Pak Danu sambil membelai lembut rambut Sarwenda.
" Sudah ya! Kamu makan dulu. Wardha, Sarwenda mau makan nih." kata Pak Danu sambil melangkah duduk di kursi sudut mendekati istrinya.
" Jadi anak Sarwenda itu, anak Wardha atau anak dari putranya Pak Hartono, sayang?" bisik Bu Martha setelah suaminya, Pak Danu duduk disampingnya.
__ADS_1
" Maksud kamu almarhum Surya?" tanya Pak Danu.
" Iya, putra dari Pak Hartono yang meninggal karena kecelakaan itu?" jawab Bu Martha.
" Aku rasa, anak yang dikandung Sarwenda adalah anak dari Wardha, yang. Tadi Sarwenda meminta maaf. Aku rasa, dia akan menjelaskan semuanya. Aku tidak akan mengungkit hal ini. Saat ini yang terpenting adalah ada seseorang yang mau peduli, sayang, perhatian dan mencintai anak semata wayang ku dengan tulus. Setelah ini, kita akan menikahkan Sarwenda dengan besar- besaran. Aku sangat bahagia." kata Pak Danu.
" Iyalah! Aku ikut bahagia, sayang. Anak kamu, menjadi anak aku juga." sahut Bu Martha.
" Terimakasih, sayang. Itu yang aku suka dari kamu." kata Pak Danu sambil tersenyum.
*******
" Lihat papi, kamu! Terlihat bahagia sekali dengan Tante Martha. Wajah papi kamu menjadi lebih cerah dan terlihat muda. Kebahagiaan terpancar dari muka keduanya. Seperti anak muda yang sedang berpacaran." kata Wardha menilai.
" Iya! Aku yang dulu sangat egois, tidak mempedulikan kebahagiaan papi. Melarang papi untuk menikah lagi setelah mami lebih dahulu pergi meninggalkan kami karena sakit yang dideritanya. Padahal papi masih muda, yang memerlukan pendamping hidup." cerita Sarwenda.
" Ketika papi nekat menikah lagi dengan Bu Martha, aku pergi dari rumah papi dan tinggal di rumah sendiri." imbuh Sarwenda.
" Ternyata masing-masing orang punya banyak cerita yah!" sahut Wardha.
" Iya! Inilah jalan cerita keluarga kami, Wardha. Aku jadi nakal dan tanpa kendali setelah papi menikah lagi." ungkap Sarwenda.
" Sudahlah, kehidupan ku juga tidak lurus- lurus saja, Sarwenda. Kalau aku memang lahir dari keluarga yang sederhana. Ayah dan mamak ku punya cinta kasih yang tulus, walaupun kami tidak hidup dalam kemewahan tetapi kami cukup senang dan bahagia dengan saling memahami satu dengan yang lain. Aku bersyukur, mereka selalu diberikan kesehatan. Setelah ini, aku akan mengenalkan kamu dengan mereka, Sayang." kata Wardha.
" Benarkah? Tapi apakah mereka akan menyetujui hubungan kita. Aku takut jika ayah dan mamak kamu, tidak menyukai aku." kata Sarwenda khawatir.
__ADS_1
" Tidak akan! Mereka sangat bijaksana, sayang. Kamu akan menyayangi mereka, ketika sudah mengenalnya lebih dekat." sahut Wardha sambil menyuapi Sarwenda dengan bubur ayam yang dibelikan oleh papi dan mami Sarwenda.
( Tulisan dimalam hari, di taman dekat depan teras rumah dengan ditemani nyamuk dan beberapa anggota yang menikmati kopi. I love you all.,,,)