
Pohon mangga itu belum berbuah. Tidak ada satu orang pun yang mau melemparinya. Tentu saja! Di sana belum ada buah dari pohon itu, yaitu buah mangga yang ranum, matang di pohon lebih menggoda. Terkadang tidak sabar menunggu tua dan matang, masih muda pun mata beberapa anak-anak atau orang tertarik ingin mengambilnya. Apalagi buahnya bergerombol dan lebat.
Itulah perumpamaan yang terjadi dalam situasi saat ini. Jikalau seseorang berada di posisi tinggi pun akan di lempari berbagai macam problem hidup. Dengan begitu, ketika lemah dan dalam pegangannya akan terjatuh, tersungkur. Perlu ada dukungan dan semangat dari orang maupun sahabat nya yang selalu memberi kekuatan untuk bisa berdiri tegar dalam menghadapi segala tantangan dan roda kehidupan ini. Hidup harus terus berputar tanpa henti. Ketika letih pejamkan mata, istirahatkan dulu sejenak. Setelah terbangun, harapan akan lebih segar dan melupakan segala masalah yang sempat menghimpit dada. Masalah hanyalah masalah yang mampir dan harus di sikapi dan hadapi dengan jiwa besar. Jangan mencoba berlari dan menjauh. Tapi putuskan langkah, karena ini adalah cara kita bersikap dari kita. Yang pasti, kita perlu bahagia. Kita wajib bahagia, walaupun kebahagiaan kita ketika bisa menyaksikan orang yang kita sayangi dan kasihi bisa tersenyum dan tertawa lepas. Inilah Hidup itu. Tertawa, menangis dalam bahagia dan sedih.
Sendiri terpaku menatap rindang hijau pohon. Daunnya mulai banyak berguguran karena musim gugur yang kini. Aku masih tertuju dalam paras mu. Walaupun salah itu sudah pernah aku buat, hingga menorehkan cerita buruk tentangku. Aku bukanlah laki- laki yang sempurna. Aku pria normal yang mudah tergoda. Ketika paras cantik mu yang polos menatapku lekat. Aku semakin merasa bersalah karena celah noda itu. Tapi bantulah aku untuk menghapus langkah dari kaki ku yang kotor karena lumpur ini. Hilangkan rasa kecewa mu dan maafkan aku dengan tulus mu. Kan ku perbaikan cerita indah tentang kita. Bukankah kisah kita tidak melulu tentang kebahagiaan? Kedukaan dan kesulitan sudah kita jalani. Aku dan kamu harus kuat, karena hidup tidak selalu mencari kesempurnaan sejati. Hanya Lah DIA yang mempunyai kesempurnaan itu. Dan aku hanya bisa bersujud dan bersimpuh memohon maaf itu. Agar engkau kembali ridlo dan ikhlas berjalan beriringan dengan aku.
(flashback percakapan antara Surya dan Pak Koko beberapa hari setelah Sarwenda datang ke rumah kediaman Pak Hartono dalam pengaduannya)
" Pak Koko! Bapak lah yang tahu persis segala permasalahan yang terjadi diantara kami. Dalam kehidupan ku dengan kehadiran Sarwenda yang sudah menjadi istri kedua ku walaupun kami nikah secara agama." kata Surya dalam awal percakapan mereka di rumah kontrakan kecil di luar kota.
" Iya Mas Surya! Saya akan berusaha menyimpan nya rapat- rapat rahasia ini." sahut Pak Koko pelan sambil menarik nafasnya dan membuangnya pelan.
" Awalnya saya ingin serius dan menjadi suami yang adil bagi Sarwenda. Tapi setelah penyelidikan ini, aku sudah tidak ingin menganggap Sarwenda adalah istriku lagi. Aku sudah men talak nya dengan ucapan 'cerai' kepada Sarwenda. Tentunya Sarwenda tidak menginginkan dan tidak terima semua itu." cerita Surya.
" Aku sudah tahu, Sarwenda menjalin hubungan dengan Wardhana ketika aku tidak ada di rumah itu. Tentu saja sudah awal memang aku mulai mencurigai nya ketika di rumah Papa. Kecurigaan ku terbukti bukan? Kehamilan Sarwenda memang di sengaja supaya bisa memojokkan aku, agar aku tidak menceraikan nya dan menikahi nya secara hukum. Pak Koko tahu bukan? Pak Koko lah yang selalu ikut dalam penyelidikan ini. Kita tinggal menunggu hasil dari DNA nya, ketika anak Sarwenda lahir." tambah Surya dalam keluh kesahnya.
Surya menarik nafasnya dalam-dalam dan berusaha membuangnya dengan kasar.
"Aku bukan tidak merasa bersalah terhadap Winda. Tapi aku pun juga tidak bisa memungkiri nya, kalau aku menikmati segala perjalanan hidup ku saat itu bersama Sarwenda. Pak Koko, dengan pembukaan kantor cabang baru di luar kota ini, aku sedikit menghindar dari Winda. Karena ketika aku melihat wajah Winda dan juga anakku Wisnu, betapa aku tidak bisa menahan rasa sesak karena rasa penyesalan dan salah ku. Akhirnya aku, banyak menginap di tempat ini bersama bapak. Dan ini malah semakin menjadi kesalahan pahaman dari Winda itu sendiri." keluh Surya sambil mengambil batang rokok miliknya lalu menyalakan rokok nya.
__ADS_1
" Iya Mas Surya! Saya sangat memahami apa yang Mas Surya alami. Di khianati oleh istri muda juga." sahut Pak Koko terkekeh.
" Hahaha.. Bukan itu masalah nya pak! Tapi lebih ke penyesalan karena aku telah bermain api. Atau lebih tepatnya bermain bom, dan bom itu sudah meledak sekarang. Dan Winda masih dalam situasi berusaha menerima aku dan memaafkan salah aku yang telah ku ciptakan. Entahlah! Apakah Winda akan menyerah dengan keadaan ini lalu meninggalkan aku, Pak?" ucap Surya sedikit bergetar suaranya.
" Jangan khawatir mas! Nona Winda sangat mencintai mas Surya. Tidak semudah itu ingin lepas dan menuntut perceraian dengan Mas Surya. Apalagi sudah ada Wisnu dari buah hati mas Surya dengan Nona Winda." ujar Pak Koko sedikit membuat tenang Surya.
"Amin! Semoga saja Winda tidak menyerah dengan keadaan ini. Kuat dan kembali percaya lagi dengan saya pak." sahut Surya sambil menghisap batang rokok nya yang sudah menyala itu.
" Mas Surya! Mas Surya harus membenahi semua nya dan menyakinkan kembali nona Winda, supaya hati nya tetap kukuh dengan mas Surya. Buktikan kalau Mas Surya benar- benar tidak bisa lepas dan pisah dengan Winda dan Wisnu." nasihat Pak Koko.
" Tentu saja pak! Cuma untuk saat ini, Winda masih belum siap jika aku selalu berada di sisi nya. Seperti nya melihat aku saja, jijik dan hina." sahut Surya sambil membuang nafas kasarnya.
" Iya kamu benar! Tapi aku sungguh jadi malas pulang, karena Sarwenda ada di rumah itu. Aku harus menjaga Winda dengan situasi saat yang tidak bagus itu. Tapi aku pun tidak bisa berlaku jahat dan semena - mena dengan Sarwenda ketika dalam masa kehamilan nya. Walaupun dia hamil bukan dengan aku. Tapi bukankah kami dulu pernah menjadi suaminya? Ini sungguh menyulitkan sikap aku, pak." keluh Surya.
" Apakah mas Surya juga menyukai Non Sarwenda, sebelum Non Sarwenda terbukti melakukan pengkhianatan itu, terhadap mas Surya?" tanya Pak Koko hati- hati.
" Awalnya saya memang berusaha menerima Sarwenda dengan tulus, karena dia benar-benar menyukai saya pak. Tapi setelah dia melakukan berbagai cara yang tidak baik, saya mulai hilang kepercayaan nya terhadap nya. Saya tahu, Sarwenda melakukan semua itu karena aku pun jarang kembali ke rumahnya dan dia tidak sabar di posisi nya. Dia ingin supaya aku menikahi nya secara hukum. Dan hadirnya Wardhana di kehidupan nya, membuat jalan pikiran Sarwenda jadi berubah. Aku jadi tidak mengerti jalan pikiran wanita ini. Katanya benar-benar mencintai saya tapi mau berhubungan dengan Wardhana. Memang Wardhana dari dulu menyukai Sarwenda sebelum perjodohan dengan saya itu terjalin." cerita Surya panjang lebar kepada Pak Koko.
"Iya Mas! Saya sangat paham cerita ini dulu." sahut Pak Koko.
" Jadi. Masalah hubungan Wardhana dengan Sarwenda, jangan di ungkap dulu pak Koko. Ini sangat menyakitkan bagi adik saya, Intan. Bakal runyam kalau ini terungkap untuk saat ini. Kita hanya perlu mengumpulkan bukti-bukti dahulu, dari foto - foto kemarin waktu penyelidikan antara Sarwenda dan Wardhana. Dan menunggu hasil DNA anak Winda lahir. Saya hanya tidak ingin ribut pak." ucap Surya.
__ADS_1
" Satu hal lagi pak Koko. Secepatnya urus perpindahan kami di rumah baru itu pak Koko. Supaya Winda mendapatkan ketenangan di rumah baru itu. Setidaknya, saya akan memulai dari awal bersama Winda di rumah itu." kata Surya dengan senyumnya.
" Siap mas Surya!" sahut Pak Koko akhirnya.
*******
Di kafe Bu Hartini, Intan dan Pak Koko.
" Saat ini, saya sudah dipusingkan juga masalah rumah tangga Intan, Pak Koko. Wardhana juga mulai bertingkah, sudah menceraikan Intan secara agama. Bagi saya dari pada berlarut- larut, akhirnya kami urus saja perceraian itu secepatnya secara hukum. Wardhana juga bersikeras untuk menceraikan Intan. Mau bagaimana lagi?" cerita Bu Hartini sambil melihat ke arah Intan.
Intan kini menjadi pusat perhatian antara Bu Hartini dan Pak Koko. Intan hanya menunduk sambil memainkan gelas minumannya dengan mengkacaukan nya dengan sendok kecilnya.
Pak Koko yang mendengar cerita dari Bu Hartini hanya menarik nafasnya dalam-dalam.
" Anak muda sekarang tidak sekuat dulu nyonya, ada masalah kecil saja langsung minta cerai dan menyerah." sahut Pak Koko.
" Saya pun sangat menyayangkan jika perceraian ini terjadi, pak. Tapi Wardhana sudah tidak menginginkan Intan menjadi istrinya. Lalu bagaimana lagi? Apakah Intan harus mengemis-ngemis pada Wardhana, supaya menarik ucapan talak nya? Tidak bisa bukan? Lagi pula, Masalahnya apa pun saya juga tidak tahu pasti, pak. Wardhana hanya mengeluhkan Intan belum bisa mempunyai keturunan atau hamil. Bagi saya ini alasan klise." ucap Bu Hartini sambil menatap Intan.
" Mama! Sudah deh. Kita bahas Mas Surya saja Ma. Toh aku masih muda ma, suatu hari aku akan mendapatkan yang lebih baik dari pada Mas Wardhana." ucap Intan akhirnya.
" Baguslah! Akhirnya kamu sadar dan tidak merengek supaya bertahan dengan Wardhana itu." sahut Bu Hartini sambil melihat Pak Koko. Pak Koko hanya diam melihat Intan yang masih memainkan gelas minumannya.
__ADS_1