Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
MEMORY


__ADS_3

Gelas ini sudah tidak bisa menampung air karena telah terisi dengan susu. Seperti halnya ilmu pengetahuan dalam diri seseorang. Jika sudah memenuhi isi otak manusia itu, tidak akan sanggup menerima pengetahuan baru. Dalam hal ini, pelan-pelan disimpan dalam memory penyimpanan jika ingin menerima data baru.


Seiring perjalanan waktu, manusia akan melupakan sebagai kecil dari kisah perjalanan hidup nya. Memory manusia itu sendiri pun juga terbatas bukan? Tapi ketika membuka kembali lembaran foto- foto jadul, kita akan kembali dan berusaha mengingat kembali kejadian- kejadian serta peristiwa yang telah kita lalui. Itulah kerja otak manusia. Segala bentuk karya dan cipta Tuhan yang paling sempurna yang membedakan dari makhluk lainnya adalah manusia memiliki otak, akal untuk berpikir. Dengan akal itu, manusia akan memilah dan memilih apa yang terbaik dari jalannya. Dengan akal itulah manusia bisa menentukan mana yang baik dan salah sesuai aturan dan norma yang sesuai dengan keyakinan serta agama masing-masing.


Hidup adalah secuil kisah perjalanan manusia yang sesaat. Ketika binasa dan meninggal sudah tutup cerita.


*******


Di kamar Intan bersama Bu Hartini, mamanya.


" Mama! Di kamar inilah aku dan Mas Wardha sering menghabiskan waktu bersama. Kami enggan keluar kamar kalau sudah berduaan, ber manja, sambil menonton film action romantis terbaru. Tapi sekarang ini, aku menjadi sedih kalau sudah berada dikamar ku." kata Intan sambil tiduran dipangkuan mama nya.


" Kalau begitu, besok kita ubah dekorasi kamarmu ini. Supaya kamu tidak lagi mengingat- ingat kembali kebersamaan ketika bersama mantan suami kamu itu." sahut Bu Hartini.


" Iya ma!" ucap Intan.


" Terkadang aku masih kangen dan rindu dengan Mas Wardha, ma!" keluh Intan.


" Hadeuh! Ngapain kamu rindu kepada orang yang sudah menyakiti hati kamu, hah!" ujar Bu Hartini sinis.


" Perlu waktu untuk menghapus semua jejak dia dihati aku, ma." sahut Intan.


" Di kantor atau kawan sekolah kamu dulu, tidak adakah yang keren,baik, yang menyukai kamu, dan lebih ganteng dibanding Wardha, hah! Pikiran kamu hanya Wardha...Wardha saja." kata Bu Hartini sewot.


" Hahaha..mama ini loh. Anak mama ini tidak jelek- jelek amat loh. Pasti adalah! Apalagi beberapa orang sudah mengetahui status aku, dan mulai mendekati aku, ma." cerita Intan.


" Nah, itu dia. Asal jangan suami orang yah! Ingat itu baik-baik!" ucap Bu Hartini.


" Tidak mama, sayang!" sahut Intan sambil membenarkan duduknya duduknya.


" Keluar yuk!" ajak Bu Hartini sambil bangkit dari duduknya.


" Kemana ma?" tanya Intan.


" Makan! Mama sudah lapar." jawab Bu Hartini sambil menarik tangan Intan dan keluar dari kamar itu.


Di meja makan itu, Intan dan mamanya mulai menyantap makanan yang sudah tersaji diatas meja itu.

__ADS_1


" Sarwenda sudah makan belum?" tanya Bu Hartini kepada Intan.


" Tadi sih, aku lihat sudah makan." jawab Intan.


" Jangan sampai anak orang kelaparan dan kurus kering karena tinggal di rumah kita ini." ucap Bu Hartini sambil terkekeh.


" Hahaha!" Intan tertawa terbahak- bahak.


" Winda dan Surya sedang apa yah?" tanya Bu Hartini sambil nyengir.


" Mereka lagi bersenang- senang, mama! Mas Surya sengaja mengajak Mbk Winda keluar kota, supaya bisa berduaan. Bulan madu kedua,mama. Bikin adek nya Wisnu, ma! Hehe." kata Intan sambil nyengir.


" Siapa yang di luar kota, Tan?" sahut Sarwenda yang tiba-tiba muncul dan mulai bergabung di meja makan itu.


" Eh Sarwenda! Ayo makan!" sahut Bu Hartini sambil menyantap makanan nya.


" Iya mama!" kata Sarwenda manis.


" Haduh, tiba-tiba jadi kenyang!" ucap Intan yang berdiri dari tempat duduknya.


" Kemana, Tan?" tanya Bu Hartini.


Bu Hartini menarik nafas panjang. Sarwenda diam tidak bersuara sambil mulai memakan cemilan yang ada di meja makan itu.


" Jadi, siapa yang keluar kota, ma?" tanya Sarwenda penuh selidik.


" Itu Winda!" jawab Bu Hartini singkat.


" Dengan Mas Surya, ma?" tanya Sarwenda lagi.


Bu Hartini diam tidak menjawab dan masih fokus dengan makanan nya.


"Dulu aku juga pernah berlibur bersama dengan Mas Surya, di Bali. Saat itu bulan madu kami, ma. Setelah kami menikah, yah walaupun menikah secara agama." cerita Sarwenda dengan bangganya.


"Uhuk...uhuk..uhuk." Bu Hartini ter batuk mendengar cerita dari Sarwenda.


" Kenapa ma! Saya ambilkan minum dulu ma." ujar Sarwenda sambil berdiri dan mengambilkan air mineral untuk mama mertua nya.

__ADS_1


" Ini ma! Minum dulu!" kata Sarwenda sambil tersenyum.


" Jadi, kami ketika di Bali itu benar-benar menikmati keindahan alam berdua. Betapa bahagianya aku saat itu ma. Mas Surya seperti, memanjakan aku dan akulah satu-satunya wanita yang dia sayangi dalam hidupnya." cerita Sarwenda.


" Uhuk..uhuk..!" Bu Hartini terbatuk kembali.


" Mama! Pasti mama ikut senang yah, sampai terbatuk- batuk gitu." sahut Sarwenda sambil terkekeh.


" Sarwenda! Kamu makanlah! Mama lagi makan, loh. Ceritanya nanti saja, yah sayang." kata Bu Hartini yang sebenarnya enggan untuk mendengarkan semua cerita Sarwenda apalagi ketika bersama Surya.


" Aku lagi malas makan masakan rumahan, mama. Aku mau minta belikan rujak cingur, sama Pak Mamat saja." kata Sarwenda sambil berdiri dari kursinya.


" Ya sudah sana!" sahut Bu Hartini.


" Mama mau gak?" tanya Sarwenda.


" Tidak usah! Mama sudah kenyang ini."jawab Bu Hartini.


" Gila! Aku bisa mati tersedak gara- gara cerita dari Sarwenda." gumam Bu Hartini setelah Sarwenda berlalu dari meja makan itu.


" Ada yah, manusia seperti Sarwenda?" kata Bu Hartini pelan.


" Nyata-nyata nya memang ada! Untung saja, dulu tidak jadi perjodohan itu." kata Bu Hartini seperti bermonolog sendiri.


" Telepon Surya, ah!" kata Bu Hartini sambil meraih ponselnya dan mencari nomer anak laki-laki nya itu.


Di dunia ini sesuatu yang tidak mungkin terjadi adalah kembali ke rahim ibu. Apa mungkin ketika bayi sudah lahir atau anak sudah besar bisa kembali ke rahim ibunya? Tidak bukan? Walaupun ibu nya merasakan penyesalan ketika melahirkan anak nya ketika anaknya nakal,bandel, jahat atau cacat dan tidak sesuai dengan keinginan nya.


Manusia masih diliputi hawa nafsu dan hasratnya. Segala sesuatu nya akan terkontrol dengan pikiran dan akalnya. Akal lah sebagai pemimpinnya dalam dirinya. Jika pemimpin dirinya adalah hawa nafsunya, manusia itu akan dikuasai oleh ambisi dan kejahatannya.


"Surya! Kamu lagi ngapain, sayang?" tanya Bu Hartini setelah sambungan telepon itu tersambung dengan nomer Surya.


" Mama! Ini lagi di Studio, mau nonton film." Jawa Surya.


" Widih, jauh- jauh ke luar kota hanya nonton film saja loh. Mana asyiknya." sahut Bu Hartini.


" Moment nya lain, mama! Tadi seharian sudah keliling- keliling kota dan tempat wisata." cerita Surya dengan suara ceria.

__ADS_1


" Okelah! Salam buat Winda ya! Selamat bersenang-senang, sayang!" kata Bu Hartini setelah itu mematikan panggilan keluar nya.


__ADS_2