Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SANTAI SAJA


__ADS_3

"Jadi, apa yang terjadi dengan kamu sayang?" tanya Galuh setelah Winda dan Galuh sedang duduk mengobrol di ruang tengah.


Wisnu saat ini sudah tidur pulas. Wisnu di temani Mbak Tata asisten pribadinya Galuh.


" Tidak apa-apa. Aku butuh tenang dulu.Galuh." jawab Winda sambil meminum air hangat yang sudah ada di atas meja.


Galuh menikmati kopi hitam lalu menghirupnya perlahan-lahan dan meminum nya sedikit. Bungkus rokok yang ada di kantongnya pun di keluarkan. Sebatang rokok mulai dinyalakan. Hisapan rokoknya di hirup secara perlahan lalu dibuangnya. Winda melihat Galuh yang mulai merokok hanya melihat nya dengan getir.


" Sejak kapan merokok mu kambuh lagi, Galuh?" tanya Winda yang ikut- ikut an mengambil batang rokok milik Galuh lalu menyalakan rokok itu.


" Eh? Ibu menyusui jangan merokok dulu sayang." ujar Galuh sambil merebut batang rokok yang sudah diambil Winda.


" Eh cuma satu doang loh." sahut Winda.


" Jangan! Nanti keterusan, sayang!" ujar Galuh.


" Iye. Iye! Galak amat sih!" kata Winda kesal.


" Hehe! Jadi ibu yang baik dulu yah sayang!" sahut Galuh.


Galuh mulai menikmati rokoknya sedangkan Winda hanya melihat dan menyaksikan Galuh dengan kenikmatan tiap hisapan rokok dan kopi hitamnya.


" Surya sudah menghubungi kamu, Winda?" tanya Galuh.


Winda mulai melihat jam tangannya. Waktu ini, seharusnya Surya sudah sampai di rumah. Dan sesuai apa yang dia katakan, Surya akan lebih awal pulang nya. Jadi kemungkinan besar Surya sudah sampai di rumah.


" Belum! Karena Hp aku matiin." jawab Winda dengan polosnya.


" Weleh!" sahut Galuh.


" Malam ini biar tenang dulu, aku disini." kata Winda.


" Mama mertua dan suami kamu pasti khawatir, loh Winda." ucap Galuh.


" Aku sudah titip pesan dengan Pak Satpam di rumah. Kalau aku ke rumah orang tua aku." kata Winda.


" Kalau mereka mencari kamu di rumah orang tua kamu, gimana?" tanya Galuh.


"Enggaklah!" sahut Winda.


" Kok, enggaaaakk sih? Memangnya gak ada kemungkinan mereka dan Surya menyusul kamu ke sana?" tanya Galuh.


" Rumah orang tua aku di Semarang, Galuh! Sedangkan ponsel ku aku matikan. Orang tua ku kalau ke Jakarta selalu di rumah pak Dhe. Surya belum tahu rumah Pak Dhe. Dulu waktu kami masih ngontrak, orang tua ku bisa tinggal di kontrak an itu bersama kami." cerita Winda.


" Iya! Iya! Aku tahu! Bilang saja kamu tidak ingin menjumpai Surya saat ini." sahut Galuh.

__ADS_1


" Iya! Aku gak akan bisa marah dengan Surya jika sudah melihat wajahnya. Aku mudah luluh ketika perhatian nya membuat aku melayang." ucap Winda.


" Weleh! Inikah cinta itu ya?" sahut Galuh.


" Kamu kan tahu Galuh! Di dunia ini tiada laki- laki yang aku sukai selain Surya. Banyak laki-laki yang mendekati aku ketika di kampus dulu tapi tidak ada semenarik Surya. Mas Surya lah yang membuat aku gila." ucap Winda.


" Katanya ingin tenang! Kamu malah cerita indah dan Romansa nya Surya saat bersama kamu." sahut Galuh.


" Aku sungguh dilema, Galuh. Aku juga kecewa dan sakit hati Ketika mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh mas Surya. Tapi aku juga belum siap dan mampu meninggalkan Mas Surya. Mas Surya masih penuh perhatian dengan aku, Galuh. Walaupun perhatian nya kini penuh dengan kepalsuan dan terlalu berlebihan karena menutupi segala kesalahannya." ucap Winda.


" Yo wes! Tenangkan diri kamu saja Winda. Kalau kamu masih kuat untuk di madu, jalani saja. Kalau kamu sudah tidak sanggup, sudahi juga. Yang pasti kamu perlu bahagia juga, Winda." ujar Galuh akhirnya.


" Nih! Satu batang saja yah!" kata Galuh sambil melemparkan bungkus rokok nya ke arah Winda. Winda hanya nyengir saja. Lalu dengan cepat menyalakan batang rokok itu lalu menghisapnya pelan.


" Kamu perlu kopi tidak?" tanya Galuh.


" Tidak! Aku mau juz pir dengan anggur merah." pinta Winda.


" Baiklah! Akan ku bikinkan untuk kamu." sahut Galuh.


" Assalammualaikum!" teriak seorang laki-laki yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah milik Galuh.


Dia adalah kakak dari Galuh yang bernama Hendra. Hendra adalah kakak Galuh selisih dua tahun usianya dari Galuh. Selama ini, Hendra sekolah S1 dan S2 di luar negeri, tidak heran jika Winda tidak pernah mengenal kakak dari Galuh ini.


" Om? Memangnya aku cukup tua untuk dipanggil om?" protes Hendra si kakak Galuh yang super galak dan dingin.


"Eh, maaf bang!" sahut Winda.


Hendra tidak menghiraukan ucapan Winda. Hendra tetap berjalan angkuh ke arah dapur mencari Galuh. Sesampainya di dapur, di jumpai lah adiknya.


" Woy! Lagi ngapain loh?" sentak Hendra.


" Bang! Bisa tidak gak bikin kaget?" sahut Galuh.


" Enggak bisa!" ujar Hendra sambil mencium pipi kanan dan kiri milik Galuh.


Hendra walaupun terlihat kaku, galak, dingin tetapi dengan adiknya tetap penyayang.


" Siapa sih, wanita yang duduk di ruang tamu?" tanya Hendra penuh selidik.


" Kenapa bang? Cantik kan? Naksir yah?" tanya Galuh menggoda.


" Weleh! Tidak level!" sahut Hendra.


" Awas saja yah, kalau suatu hari jatuh cinta dengan itu wanita!" ancam Galuh.

__ADS_1


" Memangnya siapa sih, wanita itu?" tanya Hendra mulai penasaran.


" Kawan kuliah aku dulu bang! Kenapa? Aku ada nomer Wa nya kalau mau." goda Galuh.


" Ogah! Tidak doyan!" sahut Hendra.


" Bikin apaan sih?" imbuh Hendra.


" Bikin juz pir dengan anggur merah." jawab Galuh.


" Aneh-aneh aja! Buat siapa sih?" tanya Hendra.


" Buat Winda!" jawab Galuh.


" Siapa Winda?" tanya Hendra.


" Bang Hendra! Winda kawan aku yang duduk di ruang tengah itu. Abang naksir apa?" goda Galuh.


" Gak level! Aku mau bikin nasi goreng. Kau mau gak?" tawar Hendra.


" Boleh! Jangan pedes- pedes yah bang. Winda biar bisa makan." ucap Galuh.


" Yeh siapa yang mau kasih, kawan kamu!" sahut Hendra sewot.


" Dasar Abang pelit!" ucap Winda seraya melangkah ke ruang tengah menghampiri Winda yang masih menikmati rokoknya.


"Hayo! Sudah ku bilang satu batang saja kan? Ini sudah habis berapa batang, Winda?" teriak Galuh mulai geram.


" Baru satu, Galuh. Dari tadi belum habis kok!" sahut Winda.


" Bohong!" kata Galuh akhirnya.


" Aku kan sudah lama tidak menikmati rokok, dan satu batang ini aku nikmati dengan senikmat- nikmat nya." ucap Winda.


" Oh iya, Galuh! Tuh cowok siapa sih, galak amat?" keluh Winda.


" Itu Abang aku, Winda! Kamu berani bilang Abang aku galak?" teriak Galuh sambil menoel hidung Winda.


" Habis jutek banget! Dingin macam es krim." sahut Winda.


" Weleh. Awas saja kalau suatu hari nanti kalian saling jatuh cinta, aku orang pertama yang akan menyiram air ke muka kalian semua." ancam Galuh.


" Sadis banget!" sahut Winda.


" Hahaha." Galuh terkekeh

__ADS_1


__ADS_2