
Beberapa pilihan yang harus kita pilih menentukan cerita masing-masing perjalanan hidup kita. Akan menjadi indah atau penuh kebahagiaan. Harmoni yang kita susun dan rencana baik didalamnya ada duka, sedih, kecewa, senang, bahagia akan menjadi warna bahwa selamanya hidup tidak melulu penuh tawa. Di balik tawa seseorang masih tersimpan kedukaan. Di dalam kesedihan masih ada kegembiraan yang tertunda. Jalani saja semua dengan ikhlas. Jalani semua dengan penuh keridhoan. Bukankah dalam kehidupan ini ada Lika- liku duri tajam dan juga jalan- jalan yang berkelok-kelok. Ujian hidup bagi manusia mau tidak mau harus berani dihadapi nya. Tetapi bukan berarti, semua nasib buruk dan kesusahan hidup adalah Tuhan yang menentukan secara mutlak. Nasib seseorang itu ditentukan dari semangat usaha dari orang tersebut. Kemalasan lah yang menjadi jurang kesuksesan dan keberhasilan dari orang tersebut. Dan kebahagiaan itu sendiri, ditentukan dan merupakan standar hati masing-masing. Bukan berarti orang kaya raya lah yang memiliki kebahagiaan itu. Orang sederhana yang cukup pun, bisa merasakan kebahagiaan itu sendiri. Jadi bahagia itu karena hati manusia yang membuatnya. Ketenangan dan ketentraman masing-masing individu yang bisa menciptakan nya.
" Jadi? Kenapa kamu berani datang kepadaku ketika kamu sedang dalam masalah?" kata Hendra terdengar ketus.
" Kerena aku merasa, kamu pasti akan membantu aku dan tidak akan membiarkan aku mengalami kesusahan dan kesukaran ini sendiri." jawab Yunita serius.
" Kamu terlalu percaya diri sekali!" sahut Hendra sinis.
" Kenyataannya kamu masih ingin tahu kenapa dan mengapa aku datang menemui kamu. Pasti kamu masih menyukai aku dan tidak berubah seperti dahulu." ucap Yuslita tersenyum.
" Oh tidak! Kamu sungguh tidak tahu malu bisa bicara seperti itu. Aku sudah melupakan kamu sejak kamu pergi meninggalkan aku dan memilih laki-laki itu." kata Hendra geram.
" Hehe. Sikap kamu yang ketus itu menunjukkan bahwa kamu masih ada perasaan terhadap aku. Kamu tidak perlu gengsi mengakui itu, Hendra. Jika kamu masih peduli dan menginginkan aku, aku mau dan dengan rela menerima kamu lagi . Kita perbaiki lagi hubungan yang dahulu pernah aku rusak sendiri. Kita bisa berpacaran lagi. Tidak ada yang salah bukan? Aku masih muda dan cantik walaupun statusku bukan gadis perawan lagi." kata Yuslita tanpa ber basa- basi.
" Astaga! Kamu ini, benar- benar tidak punya malu! Kamu seperti bukan Yuslita yang dahulu aku kenal." sahut Hendra yang bangkit dari tempat duduknya dan hendak pergi.
" Tunggu dulu, Hendra! Kita belum selesai bicara." kata Yuslita keras sambil menahan lengan Hendra.
" Aku harus berangkat ke kantor. Banyak agenda hari ini." ucap Hendra beralasan.
" Hendra! Dunia yang keras ini memaksa aku untuk bicara apa adanya. Aku bukan wanita yang lugu dan polos lagi. Jika kamu masih menyukai aku, ayolah kita jalin hubungan lagi. Aku akan menyelesaikan segala urusan dan masalah perceraian ku dengan suami aku." kata Yuslita tanpa ragu.
" Maaf Yuslita! Aku sudah ada seseorang wanita yang mengisi hati aku. Wanita itu tentu saja bukan lagi kamu. Kamu sudah terlalu membuat sakit dan luka ketika itu. Dan ketika wanita itu hadir dalam kehidupan ku, dialah yang mengobati dan mengering kan luka itu." cerita Hendra penuh kebohongan.
" Kini kamu datang, ketika aku sudah berbahagia dengan wanita itu." tambah Hendra dengan mata berbinar menceritakan semua bayangan indah dengan wanita khayalan nya.
__ADS_1
" Hendra! Kamu bohong! Kamu tidak bisa berbohong padaku. Aku sangat paham kamu. Kamu tidak semudah itu menghilangkan aku dalam kehidupan mu." kata Yuslita sambil menggenggam tangan Hendra.
" Yuslita! Sudah lah! Aku mau pergi ke kantor." ucap Hendra sambil melepaskan genggaman tangan Yuslita.
" Aku ikut dengan mu! Aku juga ingin tahu, wanita yang kamu cintai itu." kata Yuslita.
" Tidak! Tidak bisa!" ujar Hendra.
" Tolong, Hendra! Bantu aku juga. Aku ingin bekerja dengan kamu." pinta Yuslita.
" Tidak bisa! Galuh yang akan membantumu dalam urusanmu. Sekarang aku tidak bisa memasukkan kamu di perusahaan ku. Aku tidak ingin, kamu merusak hubungan aku dengan kekasih ku." alasan Hendra.
" Kamu bohong! Kamu hanya tidak mau dengan aku karena aku sudah janda, bukan?" kata Yuslita.
" Terserah! Terserah kamu beranggapan apa tentang aku. Yang pasti aku sudah tidak bisa menerima kamu lagi." kata Hendra sambil berjalan cepat meninggalkan Yuslita di ruang tengah itu.
" Hah? Aku seperti tidak ada harga dirinya. Aku mengemis cinta kepada Hendra lagi. Apakah ini pantas? Tetapi aku yakin, Hendra masih punya rasa dengan aku. Lalu kenapa dia tidak mengakuinya? Apakah aku terlalu terburu-buru." gumam Yuslita menyesali sikapnya terhadap Hendra.
" Tetapi kalau aku bersikap polos, ini akan merugikan diri aku juga. Zaman sekarang, wanita harus lebih agresif dengan pria yang sudah mapan. Kalau tidak, semua akan lepas digenggaman." kata Yuslita pelan.
" Aku akan bersikap manis dengan Galuh. Dia akan membantu aku. Aku harus bisa masuk di perusahaan milik Hendra ini. Supaya aku bisa lebih dekat dengan nya." kata Yuslita penuh dengan rencana.
*******
" Kenapa kamu tidak kerja hari ini, Winda?" tanya Hendra yang sudah berada di kantor melalui sambungan teleponnya.
" Maaf pak! Saya hendak mengundurkan diri." jawab Winda dari sebrang sana.
__ADS_1
" Kamu pikir, ini perusahaan milik keluarga kamu! Kamu bisa masuk dan keluar seenaknya saja. Kamu masih terikat kontrak kerja selama 3 tahun. Dan baru berjalan beberapa bulan saja. Kamu sudah baca dan mempelajari isi perjanjian kontrak nya bukan? Setelah 3 tahun baru kamu bisa menjadi karyawan tetap di Perusahaan ini. Konsekwensinya pasti tahu kan, jika kamu melanggar kontrak dan perjanjian itu, Winda!" kata Hendra penuh dengan kemarahan.
" Iya pak saya tahu dan sangat jelas. Saya akan menanggung segala konsekuensinya." jawab Winda dengan lembut.
" Astaga! Sombongnya kamu! Apakah kamu tidak ingat ketika kamu sangat ingin bekerja di perusahaan ku. Kini kamu pergi begitu saja, ketika aku..aku eh.." kata Hendra tidak melanjutkan kalimatnya.
" Pak Hendra! Kenapa pak?" tanya Winda penasaran.
" Sebelum nya saya meminta maaf pak. Saya harus membantu Intan dalam mengelola perusahaan milik keluarga Pak Hartono. Apalagi Mas Surya suami saya sudah meninggal. Saya tidak ingin membiarkan perusahaan milik keluarga suami saya menjadi terbengkalai karena beberapa posisi yang kosong." kata Winda menjelaskan dengan detail.
" Pak Hendra! Halo pak! Apakah Bapak masih di sana?" tanya Winda.
" Iya! Tapi aku membutuhkan kamu disini, Winda." sahut Hendra rasanya ingin menumpahkan perasaan nya kepada Winda. Hendra tidak ingin jika setiap hari tidak melihat wajah Winda lagi di kantor.
Perasaan nya yang tidak menentu itu akan semakin kacau ketika Winda mulai jauh darinya karena tidak lagi bekerja di perusahaan yang sama.
"Apakah ada alasan lagi untuk menahan kamu disini, Winda? Aku sudah mulai terbiasa dengan senyum dan kehadiran mu didekat aku." gumam Hendra dalam diam.
" Pak Hendra? Baiklah saya sebentar lagi ke kantor. Saya harus menghadap Pak Hendra secara langsung." kata Winda akhirnya.
" Itu lebih baik bukan? Aku tunggu kamu! Aku harap, kamu mengurungkan niat kamu untuk meninggalkan perusahaan ku." kata Hendra sambil menutup sambungan telepon itu.
" Astaga! Dadaku sesak seketika." kata Hendra.
" Arrggh!!!" Hendra berteriak di ruangan nya.
" Ada apa pak?" tanya Satpam yang dengan cepat masuk ke dalam ruangan Pak Hendra.
__ADS_1
" Tidak apa-apa! Tolong sampaikan ke OB, untuk membuatkan kopi capuccino untuk ku." ujar Hendra sambil menarik rambut kepala nya sendiri.