Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
BERHENTI BEKERJA


__ADS_3

Rosiana beberapa kali melakukan tes pack dengan beberapa merk. Dirinya masih belum percaya dan yakin akan hasilnya. Sesekali dia mengucek matanya dan mendekati jendela kamarnya untuk melihat hasilnya. Rosiana melihat hasil tes pack itu, ada kekhawatiran dan rasa bahagia dihatinya. Namun pada akhirnya dia sedikit lega, karena dirinya teringat sudah memiliki suami dan akan melindungi dirinya. Apapun ceritanya dia tidak perlu khawatir karena dirinya memang sudah menikah dengan Wardhana secara agama dan hukum.


" Ros!" panggilan Mbak Santi membuat kaget Rosiana yang masih melihat hasil tes kehamilan nya.


Mbak Santi langsung ikut melihat alat yang masih dipegang oleh Rosiana.


" Iya mbak Santi!" sahut Rosiana sambil menunjukkan alat yang sedari tadi dia bawa.


" Kamu hamil, Ros?" tanya Mbak Santi dan Rosiana hanya menganggukkan kepalanya saja.


" Apa rencana kamu setelah mendapati kamu hamil sekarang ini?" tanya Mbak Santi penuh selidik.


" Aku akan keluar dari rumah ini sebelum Sarwenda mencurigai hubungan kami, Mbak." jawab Rosiana dengan jujur.


" Ya sudah! Secepatnya kamu bersiap, jangan tunda- tunda lagi sebelum non Sarwenda mencurigai hubungan kalian. Aku hanya tidak ingin non Sarwenda terganggu pikiran nya. Dia sebentar lagi akan pilih dari keluhan penyakitnya. Nona sangat semangat untuk sembuh karena dia benar-benar ingin sehat demi anak dan suami yang di sayangi." kata Mbak Santi panjang lebar.


" Iya, Mbak Santi! Setelah mereka sarapan, saya akan berbicara dengan Sarwenda." kata Rosiana yang sudah tidak memanggilnya kata nyonya atau nona untuk Sarwenda jika berdua dengan Mbak Santi maupun dengan Wardhana.


" Ya sudah, apapun keputusan kalian dan resiko nya harus kamu Terima Rosiana. Karena ini sudah menjadi pilihan hidup kamu, menjadi istri kedua dari tuan Wardhana. Jika suatu hari nanti Wardhana harus memilih atau memang mempertahankan keduanya." kata Mbak Santi sambil berusaha menerawang.


" Aku maunya tetap dipertahankan, apapun masalahnya. Aku tetap ingin menjadi istri mas Wardhana karena aku sudah berani mengambil keputusan ini Mbak. Menjadi istri yang kedua dan harus menerima berbagi suami." keluh Rosiana.


Mbak Santi menarik nafasnya dengan kasar.


" Ya sudah! Aku mau lanjutkan masak untuk makan siang dulu, Ros! Kerjaan kamu, apakah sudah beres?" tanya Mbak Santi.


" Sudah, Mbak Santi!" jawab Rosiana.


" Oke! Aku ke dapur dulu!" sahut Mbak Santi sambil keluar dari kamar Rosiana.


*******


Di ruang makan Sarwenda masih menemani Wardhana minum kopinya setelah mereka selesai dengan sarapan nya. Rosiana sudah duduk tidak jauh dari Sarwenda dan Wardhana. Rosiana sudah mengutarakan untuk berhenti dari pekerjaannya di rumah itu.

__ADS_1


" Apakah kamu ada masalah, kok tiba-tiba saja kamu ingin berhenti kerja di rumahku, Ros?" tanya Sarwenda penuh selidik.


" Saya hanya ingin pulang kembali ke kampung halaman saya saja, non!" jawab Rosiana sambil menundukkan matanya.


Wardhana yang duduk di meja makan itu sesekali melirik Rosiana. Wardhana masih belum mengetahui hal kehamilan itu dari Rosiana yang baru ia ketahui pagi tadi setelah melakukan tes pack. Tes pack yang dia beli di pagi tadi bersama Mbak Santi ketika ikut keluar belanja ke pasar.


" Tapi bagaimana dengan Siwa, anak kamu? Kami sudah terlanjur menyayangi Siwa dan Siwa sudah dekat dengan Dahlia. Siwa sudah sekolah disini. Apakah kamu tega akan membawa Siwa ikut pulang ke kampung bersama kamu, Ros?" tanya Sarwenda.


Wardhana kembali melihat Rosiana. Saat ini Wardhana juga kaget dengan alasan yang dibuat Rosiana yaitu berhenti bekerja dengan alasan akan kembali ke kampung.


" Kami sudah menganggap Siwa sebagai anak kami juga, Ros! Apakah kamu juga tega akan membawa Siwa pulang ke kampung dan jauh dari kami?" kata Wardhana ikut menimpali sambil melihat istrinya Sarwenda.


" Bagaimana baik nya saja, tuan! Tapi saya pribadi sudah sangat senang dan berterima kasih, tuan dan nona menyekolahkan Siwa di sini dan menganggap Siwa sebagai anak juga." sahut Rosiana masih dengan menunduk kepalanya.


" Jadi apa keputusan kamu? Aku tidak melarang kamu berhenti kerja disini, tapi bolehkah jika Siwa tetap disini bersama kami dan sekolah disini, Ros!" ucap Sarwenda tulus.


Cukup lama Rosiana diam masih menunduk memainkan jari- jarinya.


" Kamu jangan khawatir! Kami akan menjaga Siwa dan mendidik Siwa seperti kami mendidik Dahlia putri kami." kata Wardhana.


" Dan kamu bisa kok sesekali datang kemari menjenguk Siwa." tambah Sarwenda.


" Hem, tapi saya takut merepotkan tuan dan nona." kata Rosiana.


" Tidak! Siwa sudah kami anggap sebagai anak kami juga, Ros!" kata Wardhana.


" Baiklah! Saya titip Siwa, tuan!" sahut Rosiana.


Cukup lama mereka terdiam. Sarwenda dan Wardhana hanya menunggu apa yang akan dikatakan oleh Rosiana kembali. Sarwenda dan Wardhana masih menikmati kopi juga camilan yang ada di meja makan. Mbak Santi yang berada di dapur sesekali mengintip Rosiana yang duduk di tidak jauh dari tuan dan nona pemilik rumah mewah itu.


" Tuan Wardhana! Nona Sarwenda! Sore nanti saya permisi langsung berangkat ke kampung." kata Rosiana yang membuat Wardhana dan Sarwenda seketika membulat bola matanya.


" Hah? Kok secepat itu sih? Apakah kamu sudah pesan tiket nya?" tanya Sarwenda.

__ADS_1


" Sudah, Nona! Tadi pagi waktu saya ikut ke pasar dengan Mbak Santi sekalian pesan tiket untuk pulang ke kampung." kata Rosiana menjawab pertanyaan Sarwenda.


" Kok buru- buru sekali sih? Kamu seperti sudah tidak betah saja tinggal di rumah aku, Ros!" ucap Sarwenda sambil melihat Wardhana.


" Mungkin Rosiana sudah kangen dengan suasana di kampung, sayang!" sahut Wardhana.


" Tapi bukankah dua bulan yang lalu, kamu habis pulang kampung? Tapi yah sudahlah, ini sudah menjadi kemauan kamu, aku dan suami aku tidak bisa melarang kamu juga." kata Sarwenda.


" Baiklah! Nanti biar aku antar kamu!" ucap Wardhana akhirnya sambil melihat Sarwenda untuk meminta persetujuan dari istrinya itu dan Sarwenda hanya mengangguk saja tanpa ada kecurigaan.


" Sore jam lima, tuan!" jawab Rosiana.


" Oke!" sahut Wardhana.


*******


Di dalam mobil Wardhana, di dalam sudah ada Rosiana yang duduk di belakang. Tiba-tiba Wardhana menghentikan mobilnya.


"Mas! Kok berhenti?" tanya Rosiana akhirnya.


" Memangnya aku sopir kamu, sayang! Ayo pindah ke depan dan duduk di samping aku!" perintah Wardhana. Hal itu membuat Rosiana tersenyum dan terkekeh.


" Kami bikin jantung aku meledak saat kamu tiba-tiba menghadap ke kami tadi. Kamu tiba-tiba banget ingin keluar dari rumah itu, sayang?" kata Wardhana sambil menarik hidung Rosiana dengan gemas.


" Bukankah kemarin kamu yang bilang mas, kamu ada rumah tinggal yang lama tidak kamu tempati setelah kami menikah dengan Sarwenda. Nah aku pikir biar tidak lama- lama aku tinggal di rumah itu, bagus aku tinggal di rumah kamu itu. Lagian aku... aku... sudah positif hamil anak kamu." ucap Rosiana sambil menunjukkan tes pack yang tadi disimpan di dalam tas kecilnya kepada Wardhana.


Wardhana menerima alat tes kehamilan itu dan senyumnya mengembang dan melihat Rosiana.


" Kasih aku ciuman untuk berita gembira ini, sayang!" kata Wardhana.


Rosiana dengan lembut mencium Wardhana. Wardhana tersenyum sangat bahagia karena dia akan memiliki anak kembali.


" Aku akan menghukum kamu setelah sampai di rumah nanti." kata Wardhana dengan senyuman nakalnya.

__ADS_1


Rosiana dengan cepat mencubit pinggang Wardhana.


__ADS_2