
Mungkin saja aku tidak mahir caranya untuk mengejar tapi aku lebih paham bagaimana caranya untuk bertahan dan setia untuk menunggu. Seperti menunggu kamu ketika datang padaku, dan mengakui segala kesalahan yang sudah kau perbuat dibelakang ku. Hingga kau merasa bersalah sendiri atas semua tindakan yang kamu lakukan terhadap ku. Bagiku, permintaan maaf mu adalah suatu langkah awal untuk memperbaiki segala hubungan ini yang sempat membuat kecewa hatiku. Ucapan maaf kamu adalah suatu itikad baik kamu mengakui kesalahan dan tidak akan mengulangi nya lagi. Aku selalu menyadari bahwa kita tidak selamanya benar dan tidak selamanya berbuat salah. Dan manusia yang baik pun tidak selamanya berbuat kebaikan, adakalanya melakukan khilaf dan perbuatan dosa.
Di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, duduk lah Winda, Surya, baby sitter Wisnu yang menggendong Wisnu serta sopir pribadi Surya yaitu Pak Koko. Mereka tidak ada pembicaraan di dalam mobil itu. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Sampai akhirnya, mobil itu mulai menepi di rumah yang berbahan dasar kayu itu. Mobil itu mulai masuk ke gerbang setelah seorang pria dengan cepat membuka gerbangnya lebar- lebar. Semua yang duduk di kursi mobil itu keluar kecuali pak Koko yang harus memarkirkan mobilnya ke garasi.
Surya dengan cepat menggandeng Winda. Seperti nya Surya ingin memperlakukan Winda lebih spesial. Dalam hatinya, Surya masih khawatir dan takut akan kejadian di rumah mamanya dengan tingkah Sarwenda yang berusaha mencari perhatian nya.
" Oh iya! Paper bag belanjaan tadi." kata Winda pelan dan ingin berbalik badan ke arah garasi mobil.
" Biar saja! Nanti Pak Koko juga akan menurunkan nya." sahut Surya sembari menarik tangan Winda untuk segera masuk kedalam kamar.
Wisnu bersama baby sitter nya sudah mulai masuk ke dalam kamar sebelah.
" Aku mau lihat Wisnu dulu mas!" kata Winda seolah ingin menghindari Surya.
" Nanti saja Winda, sayang! Aku kangen banget sama kamu." ujar Surya yang mulai memeluk erat-erat Winda setelah Surya menutup pintu kamar utama mereka.
" Hah?" Winda menarik nafas dalam-dalam.
" Apakah kamu marah dengan aku, sayang?" tanya Surya yang tidak melepaskan pelukannya.
" Tidak! Siapa bilang, aku marah?" sahut Winda.
" Syukurlah!" kata Surya seraya mencium kening Winda.
" Oh iya sayang! Minggu depan kita berlibur ke luar kota yuk." ajak Surya sambil tersenyum.
" Hem? Ngapain?" sahut Winda sambil berusaha melepaskan pelukan dari Surya tapi dengan cepat Surya menahannya hingga Winda kembali dalam pelukan hangat Surya.
" Aku ingin menikmati liburan bersama istriku yang tersayang ini." jawab Surya.
" Di rumah kan bisa!" sahut Winda.
" Hanya kita berdua saja, sayang. Aku sudah bilang dengan papa. Nanti Wisnu biar di rumah mama." kata Surya.
__ADS_1
" Hadeuh! Kita kok jadi enak-enak sih. Kasihan mama dong, ngurus Wisnu." sahut Winda.
" Kan ada mbak babysitter!" ujar Surya.
" Mau yah! Sudah lama kita tidak liburan santai berduaan. Penat juga dengan beberapa proyek dan pekerjaan di kantor. Bagaimana dengan kerjaan kamu, di kantor?" tanya Surya.
" Aman, tidak ada kendala kok mas." jawab Winda.
" Syukurlah! Tapi aku khawatir, sayang." kata Surya.
" Khawatir kenapa?" tanya Winda dengan mata yang membulat.
" Istri aku cantik, pandai, menarik." jawab Surya.
" Lalu?" tanya Winda lagi.
" Mana ada laki-laki yang tidak tertarik dengan kamu." kata Surya sambil tersenyum menggoda.
" Semua orang di kantor tahu, mas. Bahwasanya aku wanita yang sudah beristri. Jadi jangan khawatir kalau aku bermain-main dengan laki- laki lain. Lagi pula, tidak ada yang seganteng suamiku ini." kata Winda.
" Ups. Eh?" tambah Winda sambil membuang muka nya karena malu. Padahal maunya sih masih ingin merajuk dengan Surya karena Surya tadi sempat memberikan perhatian pada Sarwenda.
" Tidak ada! Aku salah bicara." sahut Winda.
Surya dengan cepat menyentuh bibir seksi istrinya. Kesempatan itu tidak Surya sia- siakan lagi. Dengan gejolak rasa dan gairahnya membawa Winda kembali menelusuri awan panas yang membuahkan keringat- keringat cinta.
" Aku kangen kamu, sayang. Sangat rindu dengan segala sentuhan lembut kamu." bisik Surya pelan dekat di telinga Winda.
Winda mulai memejamkan matanya. Mengikuti alur perjalanan menuju kenikmatan itu. Surya menuntunnya secara pelan-pelan ke semesta. Membawa Winda semakin larut dan terbang ke angkasa. Melewati planet- planet yang tak berpenghuni. Seolah dunia kini hanya milik mereka berdua.
******* mulai lirih terdengar. Sesaat mereka melupakan kekecewaan yang pernah terjadi. Sudah sekian lama mereka tidak menikmati keindahan itu. Kembali mereka berpadu, terpaut dan menyatu dalam ketulusan hati nan ikhlas. Sepasang suami istri pun mulai mengembang senyumnya. Tiada lagi beban yang terpendam.
" Terimakasih sayang! Kamu sudah benar-benar memaafkan aku sepenuh nya." kata Surya sambil mencium punggung tangan Winda.
__ADS_1
" Jangan kecewakan aku lagi, mas!" kata Winda lirih.
" Tidak akan! Aku janji!" ucap Surya dengan suara parau nya.
Aku mungkin akan jadi budak cinta ketika raga ini mulai merindukan kehangatan dari setiap sentuhan lembutnya tanganmu. Aku akan menjadi lebay ketika kangen itu memenuhi rongga dadaku. Sukma ini akan melayang, ketika mencium aroma nafas tubuhmu. Bau nya menjadi candu ku ketika kau mulai mendekatiku. Rasamu telah meluluhkan kekerasan hatiku. Manja mu telah menghantarkan dirimu dalam pelukan hangat itu. Bawa terbang melayang bersama awan Mega. Kita bersama menikmati desir angin yang membawa kita melayang.
" Winda sayang!" panggil pelan Surya.
"Hem?" sahut Winda yang sudah terbaring di ranjangnya yang empuk.
" Terimakasih untuk semuanya!" kata Surya.
Winda hanya tersenyum malu-malu lalu hanya membenamkan kepala nya ke dada bidang milik suaminya itu. Jari- jarinya yang lentik memainkan dada itu.
" Aku rasa Wisnu mulai terlihat mirip dengan kamu, sayang." kata Surya.
" Tidak juga! Ada wajah kamu di dalam diri Wisnu kok." sahut Winda.
" Wisnu sangat ganteng. Kulitnya bersih seperti mamanya. Semoga kelak, Wisnu menjadi pria sejati yang penuh tanggung jawab. Menjadi anak yang Sholeh yang bisa menghormati mama dan papanya, bermanfaat bagi orang banyak." kata Surya sambil menatap langit- langit di kamar mereka.
" Aamiin ya Rabb." sahut Winda.
" Kamu lapar tidak sayang?" tanya Surya.
" He em." sahut Winda.
" Tapi rasanya aku malas untuk bangkit dari tempat tidur ini. Aku ingin berpelukan dengan kamu semakin lama lagi." kata Surya sambil membelai rambut milik Winda dengan lembut.
" Ayolah kalau kamu lapar mas! Kita mandi dulu baru makan." kata Winda sembari menarik tangan Surya.
" Eh maksud nya, mau mandi bareng kita? Ayolah!" kata Surya bersemangat.
" Tidak! Tidak! Mas Surya duluan yang mandi." ucap Winda dengan cepat.
" Mandi bersama juga tidak ada salahnya kan?" ujar Surya menggoda.
__ADS_1
" Tidak! Tidak!" sahut Winda sambil memberikan handuk besar kepada Surya suaminya.
" Baiklah! Hehehe!" kata Surya Sambil mengusap rambut milik Winda.