
Di ruang makan, Galuh dan Niga sedang menyantap makanan yang tersaji di atas meja. Keduanya masih fokus menikmati menu makanan sore itu. Tinggal sedikit lagi makanan di atas piring mereka habis dieksekusi oleh mereka.
" Alhamdulillah!" ucap Niga setelah meminum air putih yang sudah disiapkan Galuh di gelas kaca yang sedang ukurannya.
" Mau lagi air putihnya, Mas?" tanya Galuh.
" Cukup!" jawab Niga sambil mengelap mulutnya dengan tisu didekatnya.
" Aku bikinkan kopi hitam kesukaan, mas Niga yah!" ucap Galuh.
Niga terdiam namun tersenyum menatap ke wajah Galuh yang berusaha memberikan perhatian kepadanya.
" Boleh! Aku tunggu di taman depan yah, sayang!" kata Niga sambil berjalan menuju ke luar rumah.
Galuh mulai membuatkan kopi hitam kesukaan Niga. Serbuk kopi yang direbus sampai mendidih, lalu disaring dan di kasih sedikit gula pasir. Setelah siap Galuh berjalan menuju taman depan rumah dimana Niga sedang duduk menantinya.
" Ini, mas Niga sayang!" kata Galuh sambil memberikan secangkir kopi hitam itu kepada Niga. Niga mulai mencium aroma kopi nya setelah itu diletakkan kembali di meja bulat di taman itu.
" Kok gak langsung diminum, mas?" tanya Galuh.
" Nanti dong, sayang!" sahut Niga sambil memegang kedua pipi kanan dan kiri milik Galuh dengan kedua kokoh tanganya.
Niga dengan cepat mencium pipi kanan dan kiri milik Galuh. Galuh tersenyum dengan sikap romantis dari Niga. Kini Niga mulai menyalakan batang rokoknya dan pelan- pelan mulai menghisap nya. Setelah itu secangkir kopi buatan Galuh itu pun mulai di sruput nya. Galuh melihat reaksi Niga ketika meminum kopi buatannya itu.
" Bagaimana, Mas?" tanya Galuh.
__ADS_1
" Ini baru mantab! Dan jujur, ini benar-benar mantab. Tidak seperti kala itu, kopi hitam yang asin sekali dan anehnya aku bisa menghabiskan nya." ungkap Niga secara jujur.
" Kopi hitam yang asin? Apakah aku yang buat itu untuk mas Niga?" tanya Galuh merasa bersalah.
" Hahaha! Sudahlah, jangan di bahas lagi." kata Niga sambil terkekeh.
" Mas, kasih tahu dong. Kapan aku buat kopi hitam asin itu?" tanya Galuh penasaran.
" Ingin tahu banget atau ingin tahu sekali?" sahut Niga sambil menyeruput kopinya kembali.
" Ingin tahu aja!" jawab Galuh masih dengan ekspresi penasaran.
" Sudah lama sekali, sayang. Waktu itu kita masih pacaran dan aku lagi ngapelin kamu, sayang." cerita Niga.
" Kapan sih?" kata Galuh berusaha mengingat- ingat kembali.
" Eh ya ampun! Benarkah?" sahut Galuh yang masih berusaha mengingat kejadian kala itu.
" Hahaha sudahlah tidak perlu diingat kalau memang sudah tidak ingat. Yang penting sekarang buatan kopi kamu sudah mantab dan pas di lidah." kata Niga sambil tersenyum.
" Yang benar, nanti mas Niga bohong." sahut Galuh sambil mengambil cangkir kopi hitam yang ia buat tadi. Galuh mulai meminumnya sedikit.
" Ini enak kok. Lalu yang dulu kenapa bisa asin yah?" kata Galuh.
" Yang kamu pikir itu gula tapi ternyata yang kamu masukkan dalam cangkir kopi adalah garam. Jadi asin deh." sahut Niga.
__ADS_1
" Maaf kalau begitu! Aku tidak sengaja, sayang!" kata Galuh dengan serius.
" Iya, itu sudah lama kok. Sudahlah tidak perlu dibahasnya." ucap Niga.
" Tapi aku sungguh malu, kalau ingat itu." sahut Galuh.
" Makanya gak ingat bukan?" ucap Niga tersenyum.
*******
Di rumah Winda, Hendra sudah duduk di ruang tamu dengan santainya.
" Dimana Wisnu, sayang?" tanya Hendra ketika Winda datang dan baru saja duduk di depannya.
" Lagi bermain." jawab Winda singkat.
Winda tidak berani menjelaskan Wisnu bermain dengan siapa. Takutnya Hendra akan menjadi marah atau cemburu jika mengetahui Herika datang ke rumahnya lalu mengajak main Wisnu ke tempat bermain di pusat pembelajaran di kota.
" Sedang bermain di kamar yah?" tanya Hendra lagi. Namun Winda hanya diam lalu berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Bang Hendra! Bagaimana kalau kita makan mie ayam yuk!" ajak Winda.
" Kamu belum makan, sayang?" tanya Hendra.
" Tadi siang sudah! Ini malam belum makan, sayang!" jawab Winda yang sebenarnya masih kenyang. Ingin mengajak Hendra keluar rumah supaya nanti tidak bertemu dengan Herika jika sebentar lagi Herika dan Wisnu akan kembali tiba ke rumahnya.
__ADS_1
" Baiklah! Ayo kalau begitu!" ajak Hendra akhirnya.