Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
CEMBURU


__ADS_3

" Galuh!" panggil Niga dengan pelan. Galuh terlihat cuek dan fokus bermain dengan Wisnu.


Galuh hanya menoleh sebentar ke arah Niga lalu membuang wajahnya kembali tanpa menghiraukan panggilan dari Niga.


" Hehehe. Apakah dia cemburu?" batin Niga dalam hatinya tersenyum geli.


Tidak berapa lama Winda dan Hendra tiba. Dua pasangan kekasih itu datang dengan membawa sesuatu ditangannya.


" Hai! Kalian sudah lama datangnya?" teriak Winda sambil berjalan mendekat ke teras rumahnya itu setelah mobil yang ditumpangi nya berhenti di depan pekarangan rumahnya.


" Sudah satu abad aku menunggu kamu, Win!" jawab Galuh sambil berdiri dan menyambut kedatangan Winda. Setelah itu mereka saling cium pipi kanan dan kiri.


" Eh, aku bawakan makanan untuk kalian. Ayo kalau mau makan! Aku dan bang Hendra sudah makan duluan di sana." kata Winda sambil melirik Intan yang masih duduk di teras itu dengan santai.


" Suasana hati Galuh mungkin lagi panas, jadi jangan lupa kasih air dingin, Mbak Win! Supaya tidak terbakar hatinya." sindir Intan.


" Eh?" Winda akhirnya menarik tangan Galuh masuk ke dalam rumah sambil Menggandeng Wisnu.


" Aku ikut!" sahut Niga sambil berdiri.


" Jangan! Mas Niga disini saja dulu! Aku ingin ngobrol panjang lebar dengan Mas Niga. Biarkan Galuh melepas kerinduan nya dengan sahabat nya, Mbak Winda." kata Intan sambil menahan tangan milik Niga.


Winda dan Galuh hanya melengos saja dan tidak menghiraukan Intan yang mencoba kali menggoda ataupun mendekati Niga.


Hendra masuk melewati Niga dan Intan sambil tersenyum ramah. Hendra tidak ingin ikut campur atau mencampuri urusan pribadi di antara mereka.


" Ayo Galuh! Ini kamu pasti suka!" kata Winda sambil mengambil kan bungkusan makanan yang tadi ia bawa.


" Apa itu?" tanya Galuh.


" Capcay! Dan ini ada kwetiaw goreng." jawab Winda.


" Kamu gak makan lagi?" tanya Galuh sambil melihat Hendra yang baru duduk ikut bergabung diantara mereka.


" Makan lah! Tadi kami sudah habis banyak di sana." kata Winda sambil menggendong Wisnu lalu melangkah ke kamar Wisnu.


" Sudah ngantuk Wisnu?" tanya Hendra.


" Iya nih! Aku antar Wisnu ke kamar dulu ya bang!" jawab Winda.


" Huum." sahut Hendra.


Galuh dengan cueknya makan dari makanan yang sudah disodorkan di depannya. Hendra ikut cuek memainkan ponselnya sesekali melirik sikap wanita di depan nya yang terlihat asyik memakan hidangan nya.


" Bang!" panggil Galuh pelan.

__ADS_1


" Iya, adek ku sayang!" sahut Bang Hendra.


" Hem, semua cowok apakah menjadi galau dan bimbang, jika ada seorang cewek begitu tergila-gila dan mencintai nya. Padahal sudah memiliki kekasih hati." kata Galuh.


" Tidak semua sih!" jawab Hendra sambil tersenyum.


" Apakah kamu sedang lagi cemburu, dek?" goda Hendra.


" Eh... eng.. enggak!" jawab Galuh.


" Ya sudah! Kalau Niga mu itu benar-benar serius dan menyayangi kamu, nanti dia juga datang ke kamu, dek." kata Hendra.


" Iya sih. Tapi ini cewek suka sekali bikin aku kesel, bang." sahut Galuh.


" Hehehe, itu namanya kamu lagi cemburu." goda Hendra.


" Aku sudah siap nih, bang! Kita pulang bareng yuk!" ajak Galuh.


" Eh? Mana bisa begitu. Kamu kan datang bersama Niga. Abang gak mau ikut campur masalah kamu, adikku sayang!" kata Hendra.


" Aku ingin pulang saja! Kalau Bang Hendra tidak mau pulang bareng aku, aku mau naik taksi saja." ancam Galuh.


" Ya sudah! Kita tunggu Winda keluar dari kamarnya dulu yah." kata Bang Hendra.


*******



" Winda! Kami pulang dulu yah sayang!" pamit Hendra sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Winda.


" Loh! Galuh juga ikut pulang bersama abangnya?" sahut Winda.


" Iya! Aku pulang dulu yah, Win! Lain kali saja aku main kemari sendiri." kata Galuh sambil mengambil tasnya.


Winda dan Hendra saling pandang satu sama lain. Hendra membisikkan sesuatu ketika dekat dengan Winda.


" Suasana hatinya lagi kacau, seperti salah satu balonnya meletus." bisik Hendra di telinga Winda. Winda hanya tersenyum mendengar semua itu.


" Eh? Niga? Intan?" gumam Winda sambil mengikuti langkah Hendra dan Galuh yang keluar.


Setibanya di teras, masih ada Niga yang santai sambil menikmati rokok nya sedangkan Intan menemani nya dengan setia.


" Eh?" gumam Niga lalu bangkit berdiri.


" Aku pulang dulu, Intan! Winda." kata Niga sambil mengambil kunci mobilnya.

__ADS_1


" Aku bisa pulang dengan Bang Hendra kok." sahut Galuh.


" Eh, tidak bisa! Berangkat nya kan sama aku." sahut Niga sambil melirik ke arah Bang Hendra.


Hendra yang merasa tidak enak dan mendapati situasi yang kurang baik, akhirnya memutar otaknya.


" Oh iya, Queen! Aku lupa jika harus mengkoreksi laporan- laporan keuangan bulan kemarin. Aku bisa minta waktu nya sedikit, tidak?" kata Hendra sambil memberi kode kepada Winda.


" Ayolah masuk! Bisa di lihat di laptopku." sahut Winda dengan bergegas masuk kembali ke dalam diikuti oleh Hendra.


" Kami pulang duluan bang Hendra!" kata Niga dengan suara keras.


" Ayo sayang!" ajak Niga sambil menarik tangan milik Galuh tanpa memperdulikan Intan yang menatap nya dengan tajam dan sikap kurang suka.


" Kamu selalu membuat hatiku hancur, mas!" kata Intan dengan kesal.


" Perasaan ini tidak bisa di paksakan, Intan!" sahut Niga sambil menoleh ke arah Intan.


Galuh yang mendengar itu semua menjadi merasa tidak enak hati dengan Intan. Betapa pun, Galuh pun masih bisa merasakan betapa itu sangat menyakitkan ketika seseorang yang kita cinta lebih memilih orang lain.


" Kamu yakin, akan pergi meninggalkannya demi aku mas?" kata Galuh pelan nyaris seperti berbisik.


" Memangnya aku dengan Intan ada hubungan apa, kok meninggalkannya? Dia masih terobsesi dengan aku, mungkin saja bukanlah rasa cinta." kata Niga.


" Kamu salah mas! Cinta dan perasaan cinta itu memang harus ada obsesi untuk mewujudkan semua khayalan indah itu. Bayangan ingin bahagia dengan pasangan nya." sahut Galuh.


" Baiklah! Kamu benar, sayang! Tapi khayalan dan bayangan aku saat ini, dulu dan sampai sekarang adalah ingin bahagia dan hidup bersama dengan kamu. Punya anak banyak dan kita membesarkan, mendidik bersama." kata Niga sambil tersenyum nakal.


" Menikah saja belum, ini cerita ingin punya anak banyak." sahut Galuh terkekeh geli.


" Jadi? Sudah tidak cemburu lagi kan?" goda Niga.


" Siapa yang cemburu? A... a.. aku tadi makan kok." sahut Galuh.


" Baiklah! Aku lapar, say." kata Niga akhirnya.


" Bukankah kamu sudah kenyang? Kenyang dengan rayuan Intan tadi?" sahut Galuh.


" Idih yang cemburu berat." goda Niga.


Dengan cepat Galuh mencubit pinggang milik Niga.


" Galuh!" panggil Niga pelan.


" Hem?" sahut Galuh.

__ADS_1


" I love you!" kata Niga.


" I love you to!" jawab Galuh sambil tersenyum.


__ADS_2