
Intan masih duduk di kursi ruang tunggu itu, sambil menanti keponakan nya mencari info terkini akan keadaan suaminya yang mengalami kecelakaan. Nama Andrie salah satu korban kecelakaan tunggal di jalan puncak yang medannya tajam dan berkelok-kelok. Beberapa polisi sudah mencatat olah TKP nya dan sopir mobil tersebut positif sedang dalam keadaan mabok dan dinyatakan mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan. Namun kebenarannya, si sopir itu sendiri telah tewas dan tidak bisa diselamatkan. Kasus tidak bisa dilanjutkan karena salah satu korban yang masih dalam keadaan kritis pun dari pihak keluarga tidak ada tuntutan atas kelalaian mengemudi itu.
Wisnu mendatangi tantenya yang masih menunggu nya. Pelan- pelan Wisnu mengajak tante nya itu ke ruangan dimana ada Andrie di sana. Belum ada kata- kata yang disampaikan oleh Wisnu. Wisnu hanya mengarahkan tante nya ke ruangan dimana Andrie masih berbaring di sana. Intan masih diam dan tidak berucap. Dirinya tentu saja belum menyadari kalau suaminya itu telah tewas.
Intan dan Wisnu masuk ke ruangan itu. Hendra dan Niga menatap punggung Intan sampai tidak terlihat masuk ke ruangan dimana jasad Andrie masih terbujur kaku di sana.
"Di mana om kamu, Wisnu?" tanya Intan yang saat ini hanya melihat satu pasien saja dan itu sudah di tutup kain sekujur tubuhnya. Pelan- pelan Wisnu membimbing tante nya mendekati sosok yang terbaring itu. Wisnu lah yang membuka kain penutup nya.
" Hah, mas Andrie! Tidak!" kata Intan histeris. Tangisnya pecah seketika. Kedua kakinya lemas seketika. Diguncang- guncang lah tubuh yang sudah dingin dan kaku itu supaya bangun kembali. Namun betapapun Intan berteriak-teriak histeris, sosok Andrie tidak bisa bergerak kembali. Andrie meninggal dunia dan tidak akan membohongi Intan lagi.
" Tante! Tante tenang lah! Ayo kita kembali duduk dulu tante. Relakan om Andrie pergi tante." kata Wisnu berusaha membuat tenang tantenya.
" Mas Andrie! Kenapa cepat pergi meninggalkan kau? Apakah mas Andrie tidak bahagia bersama aku, hingga memilih pergi dari dunia ini." kata Intan sambil mengusap pipi Andrie yang sudah dingin.
" Tante, tante, om sudah meninggal. Tante harus ikhlas. Om Andrie tetap menyayangi tante." ucap Wisnu membuat tenang Tante Intan. Intan masih menangisi suaminya yang sudah terbujur kaku itu.
Wisnu membimbing tantenya keluar dari ruangan itu karena jasad Andrie segera dipindahkan ke kamar jenazah untuk dimandikan dan dikafani sebelum diantar ke kediaman rumah duka.
Kini Intan sudah duduk kembali di kursi tunggu itu bersama Hendra, Niga dan juga Wisnu. Intan masih kaget, sedih, rasanya masih belum percaya kalau suaminya meninggal dunia. Tangisnya masih belum bisa terbendung jika teringat akan sosok Andrie, suaminya. Wisnu mengusap lembut pundak tantenya itu.
Kabar meninggal nya Om Andrie sudah Wisnu sampaikan kepada mama dan papa tirinya juga nenek kakeknya. Mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya nya dan menanti kedatangan jenazah Andrie.
__ADS_1
" Tante, tante tunggu disini sebentar yah, saya akan menyelesaikan segala administrasi nya dulu." kata Wisnu. Intan masih duduk diam dan larut dalam kesedihan nya.
" Ikut berduka cita Intan. Kamu yang sabar yah!" ucap Hendra.
" Yang sabar Intan. Segala sesuatunya akan kembali kepada Tuhannya. Kita hanya menunggu giliran nya saja. Do'akan yang terbaik untuk Andrie dan maafkan segala kesalahan- kesalahan nya." sahut Niga. Kedua pria dewasa itu duduk diantara Intan. Intan menatap keduanya saling bergantian.
" Terimakasih bang Hendra, mas Niga! Kalian kenapa di sini? Maksud saya, siapa yang sakit?" ucap Intan. Hendra menundukkan kepalanya enggan untuk menjawab nya.
" Kami masih menunggu Mbak Jelita yang masih kritis di ruang ICU." kata Niga pelan.
" Hah, Jelita?" Intan terkejut lalu menatap ke arah Bang Hendra.
" Bang Hendra yang sabar juga yah." sahut Intan. Intan masih belum mengetahui kalau suaminya kecelakaan itu satu mobil bersama Jelita. Wisnu yang sudah mengetahui kronologis nya tidak menyampaikan hal ini secara detail kepada tantenya.
" Wisnu, tante Jelita sedang di rawat di rumah sakit ini juga. Tante baru mengetahui nya sekarang." kata Intan seperti memberikan info kepada Wisnu kalau Hendra dan Niga di rumah sakit itu karena Jelita sakit.
" Iya tante. Tante kita kembali sekarang. Jasad om Andrie akan diantar ke rumah. Segala sesuatunya sudah siap." kata Wisnu. Intan menatap Niga dan Hendra saling bergantian.
" Maaf kami mau pulang dulu bang Hen, mas Niga. Semoga bang Hendra,cepat mendapatkan kabar baiknya dari keadaan mbak Jelita." kata Intan lalu berdiri bersalaman dengan dua pria dewasa itu.
" Pelan- pelan saja naik mobilnya Wisnu." pesan Niga kepada Wisnu.
__ADS_1
" Kamu antar mereka saja, Niga! Biar abang sendiri yang menunggu Jelita di rumah sakit." suruh Bang Hendra.
" Tidak usah om! Aku sudah mahir nyetir nya kok." sahut Wisnu. Intan mengangguk membenarkan apa yang diucapkan Wisnu.
" Iya, benar! Mari Bang, mas!" pamit Intan diikuti Wisnu setelah Wisnu bersalaman dan memberi hormat pada dua pria dewasa itu.
Setelah keduanya berlaku Hendra saling pandang dengan Niga.
" Apakah Intan belum mengetahui kalau suaminya kecelakaan itu bersama Jelita, istri aku?" tanya Bang Hendra.
" Aku yang bilang dengan Wisnu supaya jangan dulu memberitahu soal ini terlebih dahulu pada tantenya. Lagi pula, suaminya sudah meninggal. Biar tidak ada kemarahan dan penyesalan di sana." sahut Niga. Hendra membenarkan apa yang dikatakan oleh Niga.
" Kasihan Intan! Takdir seolah mempermainkan kehidupan nya. Jalan percintaannya pun begitu rumit dan menguras emosi." kata Hendra.
" Benar! Ini semua karena AUTHOR yang lebih senang membuat Intan menderita. Apa perlu kita buat surat kaleng untuk AUTHOR novel ini? Rasanya dia seperti tidak memiliki hati." kata Niga sambil menahan amarahnya.
Niga kini melangkah meninggalkan ruangan itu untuk mencari udara diluar supaya bisa menyalakan batang rokoknya. Rasanya sudah sangat kecut mulut nya sedari tadi tidak merokok. Apalagi kalau harus mengingat dunia perselingkuhan yang berakhir dengan tragis seperti ini.
Pertanggungjawaban nanti di akhirat bagaimana yah? Ketika melakukan kemaksiatan lupa akan kehidupannya lain setelah kematian. Segala sesuatu ada balasannya, baik atau buruk ada nilainya. Percaya dan mengimani akan janji Nya. JanjiNya bahwa ada tempat yang penuh kenikmatan untuk orang-orang yang selalu berbuat kebaikan dan manfaat. Dan tempat yang penuh kepedihan bagi orang-orang yang suka melakukan kemaksiatan dan kerusakan.
Segala sesuatunya hanya DIALAH YANG MAHA TAHU akan kehidupan sebelum dan sesudah nya.
__ADS_1
(( βΊππππ)))
Terimakasih buat reader semuanya yang selalu setia mengikuti cerita novel ini yah. Saya masih akan terus belajar dan terimakasih atas dukungannya like+ komentar nya. I love you semilyar... πππ