
" Eh Pangeran bertopeng! Kenapa kau ajari anakku untuk memanggilmu 'Papa'? Apa tidak ada panggilan yang lebih keren lagi?" bisik Winda dengan pura-pura judes.
Herika lagi- lagi cengar-cengir sambil melihat Winda dan Wisnu saling bergantian.
"Wisnu sendiri kok yang minta untuk memanggilku dengan 'Papa Herika'. Kalau tidak percaya tanyakan langsung pada Wisnu, anakku yang ganteng sendiri. Wekk." sahut Herika malah menjulurkan lidahnya mengejek.
" Hehehe. Lalu tidak adakan sebutan yang lebih keren dibanding 'Papa Herika'?" tanya Winda.
" Tidak ada! Kurasa itu panggilan yang cukup intim, akrab dan ingin berusaha dekat." jawab Herika sambil tersenyum lalu mengusap pucuk rambut milik Wisnu.
Wisnu masih duduk di kursinya sesekali minum susu nya. Pengasuh Wisnu yang mendengar percakapan antara Winda dan Herika menjadi ikut cekikikan tidak bisa menahan tawanya. Akhirnya setelah Wisnu selesai makan, pengasuh Wisnu itupun berlalu dari tempat itu.
" Mama, papa Herika cepatlah sarapan. Keburu siang nanti tidak bisa dibilang sarapan lagi melainkan makan siang." protes Wisnu.
" Oh iya, Wisnu sayang!" sahut Herika tersenyum puas mendengar Wisnu memanggil dirinya dengan panggilan papa Herika.
" Oh iya, sebutan apa yang lebih bagus dibanding 'Papa Herika'?" tanya Herika sambil meminum kopinya yang sudah dingin.
" Oppa Herika!" jawab Winda terkekeh sendiri.
Herika malah hanya memandang wajah ayu Winda tak berkedip sedangkan Wisnu berusaha memprotes itu panggilan yang dibilang oleh mama nya.
" Mama! Panggilan 'Oppa' apakah tidak untuk orang yang lebih tua, mama! Papa Herika masih muda dan ganteng lagi." kata Wisnu jujur.
" Appa? Ganteng? Muda?" sahut Winda sambil mendelik dan melirik Herika. Lagi-lagi Herika hanya tersenyum saja.
" Wisnu sayang! Anakku sayang! Ini ada juz wortel, nanti Wisnu mama buatkan jus wortel yah, supaya lebih jelas dan bisa membedakan mana yang asli ganteng atau cuma imitasi doang." kata Winda.
" Wisnu gak suka wortel!" sahut Wisnu polosnya.
" Hahaha. Winda! Winda! Kamu seharusnya percaya dengan ucapan anak kecil seperti anak ganteng kesayangan ku ini. Dia jujur, dan masih polos dan belum ada kebohongan dimatanya." sahut Herika masih dengan senyum puasnya. Ada yang selalu membela dirinya, yaitu Wisnu.
" Wisnu adalah anakku, bukan anak kamu, Herika yang ganteng, yang muda dan imut- imut serta menggemaskan." ucap Winda sambil memakan buah kiwi yang sudah di kupas dan dipotong nya.
" Mama, makan nasi dong mama! Jangan makan buah saja." protes Wisnu yang sedari tadi lihat Winda makan buah- buahan saja.
" Nanti siang, Sayang! Ini buah- buahan sangat bagus untuk kulit, daya tahan tubuh juga." terang Winda sambil tersenyum.
__ADS_1
" Papa Herika, jangan minum kopi saja. Makan nasi juga!" ucap Wisnu sambil menatap tajam Herika.
" Iya Wisnu, anakku sayang! Nanti papa akan makan nasi yah." sahut Herika sambil melirik ke arah Winda. Winda akhirnya menjulurkan lidahnya mengejek Herika yang kena protes Wisnu juga.
" Eh?? Wisnu sayang! Mama tidak bisa lama- lama nih. Mama harus segera sampai ke kantor. Sudah ditunggu dengan tante Intan di sana." kata Winda sambil bangkit dari tempat duduk nya dan melangkah masuk menuju kamarnya untuk mengambil tas dan sepatu nya.
"Wisnu sayang! Papa Herika harus pergi juga." kata Herika sambil mengusap lagi pucuk rambut milik Wisnu.
" Papa Herika mau mengantar mama ke kantor? " tanya Wisnu.
" Huum!" jawab Herika singkat sambil mencari pengasuh Wisnu karena dirinya harus segera berangkat ke kantor dan mengantar Winda terlebih dahulu.
" Sayang!! Mama berangkat yah!" teriak Winda dari ruang tengah. Wisnu pun akhirnya ikut berjalan di gandengan oleh Herika.
Winda mencium pipi kiri dan kanan milik Wisnu.
" Aku mau dong!" sahut Herika menggoda.
Lagi-lagi Winda hanya tertawa nyengir sambil menjulurkan lidahnya.
" Hati-hati mama, papa Herika!" teriak Wisnu nyaring.
" Ayo nyonya! Sedari tadi merepet saja." sahut Herika sambil menarik lembut tangan milik Winda.
" Oh ho! Baiklah Pak sopir, pelan- pelan jalannya. Tidak perlu ngebut yah!" timpal Winda sambil tersenyum.
" Tapi nyonya! Jam sudah menunjukkan pukul... " protes Herika.
" Jangan banyak protes. Kamu kerja aku gaji. Jadi ikuti perintah saya!" timpal Winda lagi.
" Ya Tuhan! Majikanku galak banget!" sahut Herika lalu menjalankan mobilnya setelah Winda duduk di samping nya.
" Pelan- pelan sayang!" kata Winda akhirnya.
" Apa? Kamu tadi bilang apa? Aku tidak mendengar nya." goda Herika dengan senyum penuh kebahagiaan.
" Pelan- Pelan oppa!" jawab Winda akhirnya.
__ADS_1
"Hahaha. Baik omma!" sahut Herika akhirnya yang mendapati bibir Winda menjadi manyun satu senti.
*******
Jauh sudah ku pandang. Banyak pandang dari pemandangan. Cantik banyak cantik yang kutemui. Indah banyak indah yang hadir. Namun semua tidak se cantik, se indah dalam pandang ku. Kau bagaimana bidadari tak bersayap. Membuat segalanya dalam diriku untuk menjadi sempurna di mataku.
Aku ingin lebih baik dari sebelumnya. Aku suka caramu menceramahi aku. Aku suka kamu dalam mengajari aku. Aku suka caramu memberi senyum itu. Akankan semua itu untuk aku?
Saat ini aku ingin egois. Aku ingin menjadikanmu pendamping ku. Melengkapi aku dalam kekurangan itu. Memberi kekuatan dalam kelemahan ini. Membuat semangat dan dorongan baru dalam langkahku.
Winda! Nama yang indah yang sudah terpahat di sini. Disini yang tidak bisa terlepas. Aku mau kau selalu disini. Menemani aku dalam tawa dan sedih itu.
" Hai! Pangeran bertopeng! Kenapa dari tadi senyum- senyum saja?" tanya Winda akhirnya membuyarkan lamunan Herika yang masih menyetir mobilnya.
" Hah? Winda! Panggil aku dengan panggilan romantis dong. Misalnya 'Mas' atau ' Abang' gitu loh. Wisnu saja tahu tanpa diajari." protes Herika.
" Pangeran bertopeng! Nyetir yang bener!" sahut Winda sambil nyengir terkekeh namun membuang wajahnya supaya tidak terlihat oleh Herika karena geli menahan tawanya.
" Hah?" keluh Herika.
" Aku lapar!" keluh Herika ketika melewati grobak bubur ayam yang ada di pinggir jalan.
" Hah? Tadi gak mau sarapan. Ini sudah siang. Nanti Intan marah- marah lagi dengan aku.". sahut Winda sambil menatap Herika.
" Lho! Aku cuma bilang kalau aku lapar kok. Tidak mengajak mampir dulu untuk makan, loh Winda." protes Herika.
" Lah tapi bilang lapar, konotasinya mengarah mau mampir makan dulu." sahut Winda.
" Tuh kan! Kamu terlalu banyak sangka padaku." protes Herika yang sebenarnya ingin menggoda Winda saja.
" Jadi, mau makan dulu gak, jika kamu benar-benar lapar?" tanya Winda akhirnya.
" Hehehe." Herika hanya terkekeh sambil melirik ke arah Winda.
" Tidak! Nanti makan siang, aku akan jemput kamu lagi." ucap Herika akhirnya.
__ADS_1
" Jangan! Jam 5 saja yah. Aku makan siang dengan klien nanti karena sekalian janjian juga soalnya." sahut Winda.
" Oh baiklah! Deal yah!" kata Herika dengan tersenyum puas.