Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
BEBASNYA YUSLITA


__ADS_3

Wardhana sudah masuk ke dalam kamar nya menjumpai istrinya, Sarwenda yang masih tiduran di atas kasurnya. Wardhana mulai membaringkan tubuhnya di sisi Sarwenda. Kedua pasangan suami istri itu pun akhirnya mulai berbincang- bincang. Sarwenda terlihat begitu bahagia nya dengan Wardhana yang penuh perhatian dan kasih sayang membelai rambutnya. Seolah dalam pikiran Sarwenda ingin sakit seperti itu terus supaya mendapatkan perhatian yang hangat itu dari suaminya.


" Mas, ketika kamu di luar, tidak lupa makan kan sayang!" tanya Sarwenda.


" Tentu saja tidak, sayang. Bagaimana dengan kamu, Sarwenda? Kamu harus cepat pulih dong, jangan sakit- sakit seperti ini terus." jawab Wardhana.


" Aku tidak sakit, mas. Cuma kecapekan saja." protes Sarwenda.


" Sekarang aku sudah baik- baik saja. Melihat wajah kamu saja seketika aku langsung segar." imbuh Sarwenda sambil tersenyum.


Wardhana hanya terkekeh mendapatkan rayuan dari Sarwenda itu. Wardhana memeluk tubuh istrinya itu dengan hangat dan mengecup dahinya dengan kasih sayang.


*******


Di suatu tempat setelah berkunjung di kediaman rumah Hendra dan Galuh, Yuslita merasa hatinya sangat kacau. Harapan untuk kembali lagi bersama Hendra pun sangat kecil karena di matanya Hendra selalu memberikan perhatian yang lebih dengan Winda. Sosoknya sudah sangat tidak dianggap lagi oleh Hendra. Hendra seperti lupa begitu saja, terhadap dirinya. Padahal dahulu Hendra sangat mencintainya dan menggilainya. Sampai dirinya meninggalkan Hendra untuk menikah dengan pria lainpun, Hendra masih selalu berharap dirinya akan kembali datang lagi kepada Hendra. Tetapi sekarang, Hendra sudah benar- benar mencintai Winda. Hadirnya di rumah Hendra pun, sudah tidak artinya atau spesial bagi Hendra.

__ADS_1


Yuslita mulai berkencan dengan pria lain yang saat ini sudah dekat dan mulai diincarnya. Pria itu sudah masuk dalam perangkapnya. Dengan suka rela pria itu selalu membuat hati Yuslita senang dan bahagia. Dengan selalu memanjakan dirinya dengan fasilitas yang Yuslita inginkan.


Saat ini Yuslita mengajak laki-laki itu untuk berbelanja di pusat perbelanjaan di kota itu. Dengan sangat mesranya bergandengan tangan dengan laki-laki itu. Keduanya seperti pasangan kekasih yang masih hangat- hangat nya.


Yuslita memborong semua barang yang diinginkannya. Sedangkan laki-laki itu ikut bahagia melihat senyuman Yuslita yang penuh keceriaan menenteng paper bag yang berisikan barang- barang mewah yang diinginkan nya. Kartu debit hitam milik pria itu pun keluar dari tempat persembunyiannya membayar semua tagihan ketika sudah di depan kasir di suatu tempat pusat pembelanjaan di kota itu. Akhirnya mereka kembali melajukan mobilnya keluar dari pusat perbelanjaan itu.


" Kita mampir dulu yah!" kata laki-laki itu sebut saja namanya Wendy.


" Kemana sayang?" tanya Yuslita dengan manja.


Mobil itu melaju dengan kecepatan di atas rata-rata dan ketika sudah sampai di sebuah gedung megah dengan tinggi itu, mobil itu mulai masuk dan menuju tempat parkir.


Gedung yang sangat megahnya dengan ketinggian yang cukup menjulang ke angkasa itu akan menjadi saksi bisu bagi hubungan anak Adam yang mencurahkan segala hasrat dan nafsu syahwat nya. Yuslita sudah mulai berganti baju dengan baju tidur transparan yang terlihat sekali perhiasan itu. Perhiasan yang selalu di banggakan nya bagi seorang wanita. Lekuk tubuh yang seksi, body seperti biola yang bisa di peluk dan dipermainkan oleh tangan- tangan terampil. Kulit putih bersih tanpa bekas luka. Hanya sedikit gambar tato itu terletak di daerah atas dada sebelah kanannya. Gambar love yang merah membuat mata yang melihat akan semakin tertarik untuk menyentuhnya bahkan menciumnya.


Wendy menatap Yuslita tanpa bisa berkedip. Wendy mulai menelan ludahnya sendiri tatkala Yuslita sudah mendekati nya ketika dirinya duduk bersandar di dipan empuk itu. Nafas mereka saling beradu. Kedua hidung mereka sudah menempel kedua mata mereka saling tatap dengan penuh hasrat. Jantung mereka sudah memburu tak beraturan seolah sedang mengalunkan melodi yang penuh genderang. Pelan- pelan tangan Yuslita mengusap lembut kedua pipi milik Wendy. Wendy sejenak menikmati segala sentuhan lembut tangan Yuslita yang terampil. Mata Wendy mulai terpejam berusaha mulai berangkat ke planet mars yang tiada seorang pun ada di sana. Bayangan nya sudah Ber traveling bersama Yuslita ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh manusia lain selain mereka berdua. Tidak ada yang bisa dijelaskan ketika mereka sudah mulai merayap menjelajahi setiap bagian-bagian yang bisa menimbulkan suara erangan dan suara yang tertahan dari kenikmatan. Keduanya mulai larut dan tenggelam ke alam fantasinya masing-masing. Berusaha fokus supaya bisa bersama terbang dan mencapai puncak nya.

__ADS_1


Keringat- keringat itu sudah mulai keluar membasahi tubuh mereka. Pergumulan itu saling ingin menguasai dan berusaha menaklukan. Mereka berlomba-lomba dalam tarikan nafas yang memburu. Suara- suara teriakan itu mulai keluar dari kedua mulut mereka berdua. Dunia ini seperti milik mereka berdua. Mereka tidak mempedulikan jika suara mereka bisa terdengar oleh dinding-dinding ruang kamar hotel itu. Dinding-dinding ruangan kamar hotel pun tidak sanggup jika harus mendengar setiap keluhan nafas, erangan, dan teriakan kecil tatkala mereka saling ganas dalam menaklukan pasangan Masing-masing.


" Berteriak lah, Yuslita sayang! Aku suka wanita yang liar ketika di ranjang. Itu akan membuatku semakin bergelora dan tertantang." kata Wendy dengan senyumnya yang nakal.


" Baiklah, biar aku yang mengendalikan permainan ini." kata Yuslita sambil tersenyum.


" Nanti saja, trip kedua." sahut Wendy dengan suara bergetar.


" Terserah kamu saja, Wendy sayang! Kamu sudah membayar aku lebih dari cukup." kata Yuslita sambil meringis menahan sedikit perlakuan kasar dari Wendy terhadap dirinya.


Sesekali Yuslita dengan mata yang sesekali terbuka dan sesekali memejamkan matanya pun menggigit bibirnya sendiri menahan segala rasa nikmat yang tidak bisa di jelaskan. Yuslita seperti sangat kehausan berada di padang pasir yang tandus dengan panas terik matahari.


Sejenak Yuslita lupa akan kesepian nya. Sejenak Yuslita lupa akan terhadap Hendra yang diharapkan nya. Saat ini Yuslita begitu bahagia ketika bisa bersama dengan Wendy. Dengan Wendy, Yuslita bisa mendapatkan apa yang dia mau dan inginkan. Yuslita selalu dimanjakan dengan cara Wendy. Hal itulah yang membuat Wendy dengan rela dan senang hati selalu menguras isi ATM nya ketika berjumpa dengan Yuslita. Bagi Wendy itu tidak menjadi masalah. Wendy memiliki segalanya tetapi tidak memiliki cinta. Dengan bersama Yuslita, Wendy hanya bersenang- senang saja. Keduanya seolah memang hanya ingin sekadar menjalin hubungan cinta satu malam saja. Setelah kesepakatan itu terjadi, mereka saling memberi sesuai apa yang diinginkan masing-masing.


"Aku akan membayar lebih lagi jika kamu bisa membuat aku senang, sayang! " kata Wendy dengan nafas yang memburu. Hanya anggukan disertai erangan sebagai jawaban dari Yuslita.

__ADS_1


__ADS_2