
Pagi tanpa mu sepi kurasa. Terdengar suara angin yang berbisik pelan ditelinga. Menatap hijaunya daun- daunan yang menyejukkan mata. Hatiku masih terganggu wajahmu. Wajah yang selalu menggoda ku ketika dalam sendiri menatap semesta yang setia dengan tugasnya. Aku seperti sangat kecil disini. Mengintip kuasa Tuhan Yang Kuasa memberikan rasa ini. Rasa yang semakin ingin memiliki anak Adam yang penuh kesempurnaan bagiku. Bagiku kau adalah Dewi Fortuna yang memberikan semangat untuk maju. Menggapai cita-cita dan harapan indah. Menikmati peluh keringat dari tiap usaha-usaha ku. Ijinkan aku mendekati kamu. Ijinkan aku memberikan semua kasih dan hatiku padamu. Sudikah kau membuka lagi hati mu padaku? ( Weleh Author nya jadi Bucin, hahaha)
Aku jadi gila dan linglung ketika jatuh cinta. Sehari tidak melihat mu membuat aku semakin tenggelam dalam angan. Sehari tidak mengetahui kabarmu membuat aku gundah. Kamu masih diam sedangkan aku sudah gelisah dengan rasa ini. Kamu begitu bodoh ataukah berpura-pura tidak memahami rasaku yang kian membuncah. Kapan cinta ini bisa terbalaskan. Aku ingin segera mendengar kata-kata indah dari bibirmu yang merah merekah. Telinga ku sudah tidak sabar menantikan kalimat itu. Segera lah buka hatimu untuk ku dan katakan bahwa kamu juga merindukan aku disini. Duduk sendiri dengan menikmati kopi tanpa kamu disisi.
" Hendra! Ternyata kamu di sini yah? Aku cari kemana- mana ternyata duduk ngopi disini." kata Andrie dengan gayanya yang santai.
" Disini pemandangan nya indah, Andrie. Ketika kita di atas seperti ini dan melihat orang-orang itu berjalan. Mereka terlihat sangat kecil sekali. Demikian juga ketika Tuhan melihat kita. Kita akan menjadi sangat kecil ketika dihadapkan dengan Kuasa Tuhan." kata Hendra serius.
" Oh..Ho! Apakah ini benar-benar kamu, Hendra. Jangan- jangan kamu ketempelan penghuni villa yang kita tempati itu." ujar Andrie menggoda sambil duduk di samping Hendra di kursi kayu.
" Apa perlu kamu pakai kacamata, Ndrie? Mulut kalau ngomong asal njeplak saja." sahut Hendra sewot.
" Hahaha! Begitu saja marah loh! Ada apa dengan kamu?" tanya Andrie penuh selidik.
" Oh Ho! Aku tahu! Kamu lagi merindukan Yuslita yah?" tebak Andrie.
" Tidaklah! Wanita itu sudah aku lepaskan jauh- jauh. Tempo hari dia ke rumah cerita ingin cerai dengan suaminya." cerita Hendra.
"Kenapa? Seharusnya kamu bahagia dong! Kamu sudah mulai ada kesempatan menjalin hubungan kembali dengan nya?" kata Andrie.
" Oh tidak! Hatiku bukan lagi terpaut dengan Yuslita. Bukankah aku sudah cerita dengan kamu? Wanita yang aku cintai adalah Winda." ucap Hendra mengingatkan.
" Winda? Maksudnya Winda janda beranak satu itu? Winda istrinya almarhum Mas Surya dan sahabat nya Galuh?" tanya Andrie masih kurang yakin.
" Lalu selama ini, kamu beranggapan Winda yang mana?" tanya Hendra dengan melotot tajam ke Andrie.
" Maaf! Aku kira Winda yang gemuk di kantor cabang." jawab Andrie.
" Kamu ini sebagai sahabat memang kurang cerdas." sahut Hendra.
" Habis ketika kamu cerita soal perasaan kamu, bukankah Winda masih berstatus istri orang dan masih ada Mas Surya. Jadi aku berpikir tidak mungkin kamu menyukai wanita yang sudah bersuami kan?" bela Andrie.
" Iya kamu benar. Saat itu aku begitu kacau. Tiba-tiba menyukai wanita yang sudah bersuami. Tapi...tapi sekarang kan sudah berbeda kan. Winda sudah berstatus janda. Tidak ada salahnya bukan, jikalau aku mulai mendekati nya." kata Hendra.
" Iyalah! Silahkan saja! Beli satu dapat dua karena Winda sudah memiliki satu anak." ucap Andrie sambil nyengir.
" Tidak menjadi masalah! Anak Winda juga akan menjadi anakku juga. Aku harus bisa menyayangi keduanya." kata Hendra serius.
" Hahaha! Apakah Winda sudah tahu akan perasaan kamu terhadap nya?" tanya Andrie penuh selidik.
__ADS_1
" Sikap dia terhadap ku masih cuek. Itulah yang aku pikirkan saat ini. Apakah dia pura- pura bodoh atau memang tidak mengetahui nya?" jawab Hendra sambil nyengir.
" Memangnya kamu sudah menunjukkan bahwasanya kamu suka dan menginginkan dia? Atau kamu sudah mengutarakan perasaan kamu terhadap nya?"
" Apakah harus aku bilang, bahwa aku menyukai nya? Kita bukan lagi anak remaja kan, Andrie? Winda seharusnya paham perasaan ku, dari sikap dan perhatian yang aku berikan." ucap Hendra dengan polos.
" Waduh! Kamu terlalu kaku dan dingin dalam hal ini. Wanita terkadang ingin mendengar pernyataan cinta kamu itu. Dasar laki-laki dingin seperti es!" kata Andrie dengan mendelik matanya.
" Andrie! Aku tidak bisa romantis. Aku hanya bisa mendekatinya dengan caraku ini." sahut Hendra penuh pembelaan.
" Kalau kamu seperti ini terus, mana Winda tahu perasaan kamu terhadap nya. Dan cintamu tidak akan terbalaskan." ucap Andrie.
" Lalu aku harus berbuat apa? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Hendra lagi.
" Apakah aku harus mengajari kamu, Hendra? Waduh! Kamu pura-pura bodoh atau memang kuat dengan gengsi kamu?" kata Andrie.
" Sudahlah! Kamu harus mulai jujur dengan diri kamu sendiri. Katakan jika kamu menyukai Winda. Gampang kan? Yang aku lihat, sikap kamu terhadap Winda seolah-olah tidak tidak peduli dengan nya. Hanya puas melihat dan menatap Wajah nya saja. Hahaha kamu seperti anak remaja yang diam- diam menyukai seorang gadis. Hahaha." kata Andrie.
Hendra hanya diam, memikirkan ucapan dari Andrie.
" Sudahlah! Temui Winda di kamarnya. Dan mulailah ajak berkencan malam ini." suruh Andrie.
" Dia lagi bersama Galuh. Galuh nanti merusak acara kami lagi." kata Hendra.
" Baiklah!" kata Hendra akhirnya.
*******
Sesuai yang sudah direncanakan, malam itu Hendra mengajak Winda makan malam. Winda sebenarnya sangat keberatan dengan ajakan Hendra makan malam bersama tanpa ikutnya Galuh dan juga Andrie. Winda mulai berpikir, apa yang akan dibicarakan oleh Hendra sampai ingin makan malam hanya berdua saja dengan nya.
" Sebenarnya kurang asyik loh Pak Hendra, jika kita hanya makan malam seperti ini berdua saja." kata Winda sambil mengaduk-aduk minumannya.
" Tapi aku hanya ingin menikmati makan malam ini bersama kamu saja. Lagi pula, kita beri kesempatan mereka juga untuk berduaan. Bukankah mereka adalah pasangan kekasih?" ucap Hendra dengan kepala menunduk menyembunyikan groginya.
"Benar juga kata Pak Hendra. Dari kemarin, kita disibukkan agenda yang padat tentang pembicaraan bisnis dengan klien- klien kita. Mereka perlu menikmati kebersamaan selayaknya sepasang kekasih." kata Winda.
" Winda!" panggil Hendra mulai memberanikan diri untuk berbicara serius.
" Iya pak!" sahut Winda.
" Maaf, boleh kan aku bertanya sesuatu?" tanya Hendra.
__ADS_1
" Soal apa pak?" kata Winda.
" Apakah kamu tidak ingin menikah lagi? Setelah kepergian suami kamu. Eh maaf sebelumnya, Winda. Pertanyaan ini terlalu pribadi sekali." kata Hendra.
Winda hanya diam dan menatap Hendra dengan pertanyaan yang diutarakan secara serius.
" Maaf pak, untuk saat ini saya belum ingin memikirkan hal itu, pak." jawab Winda akhirnya sambil menghela nafas.
" Tapi apakah ada pria yang berusaha mendekati kamu?" tanya Hendra yang bikin Winda terkejut.
" Aku rasa tidak ada pak. Mana ada yang mau dengan janda seperti saya?" jawab Winda sambil tersenyum dan memainkan gelas minumannya.
" Aku mau!" sahut Hendra tegas.
Winda yang mendengar Hendra berkata demikian semakin terkejut dibuatnya. Winda hanya menatap Hendra dengan mata yang penuh selidik.
" Iya, aku sangat mau, bolehkan aku mendekati kamu? Ijinkan aku memberi perhatian yang lebih terhadap kamu, Winda!" kata Hendra dengan keberaniannya.
Winda hanya diam dan menelaah setiap omongan yang keluar dari mulut Hendra.
" Satu hal lagi, Winda! Jangan lagi panggil aku dengan sebutan 'Pak' lagi." imbuh Hendra dengan sorot mata yang siap memanah mata Winda.
Winda yang tidak sanggup dengan sorot mata Hendra yang tajam itu, akhirnya hanya tertunduk berusaha memalingkan pandangannya.
" Gila laki-laki ini. Apakah dia menyukai aku? Tapi sikapnya tidak ada romantis- romantisnya loh. Aku dibikin, seolah harus mau dengan segala yang akan diperbuat nya." batin Winda.
" Winda?" panggil Hendra pelan.
" Iya pak! Eh iya Bang Hendra!" sahut Winda gelagapan.
" Hahaha!" Hendra tertawa melihat reaksi Winda yang berubah menjadi kaku dan tegang.
" Sudahlah! Jangan tegang begitu dong. Aku tidak akan memakan kamu!" ucap Hendra yang menyadari sikapnya terhadap Winda seperti seorang pimpinan dengan bawahan nya.
" Aku memang bodoh! Tidak bisa bersikap manis terhadap wanita yang aku sukai." batin Hendra.
" Kita jalan- jalan yuk!" ajak Hendra sambil menarik tangan Winda.
" Kemana Bang?" tanya Winda yang mau tidak mau mengikuti langkah Hendra yang mengajak nya pergi dari tempat duduk itu.
" Ikuti saja! Kamu akan tahu pemandangan dimalam hari sekitaran villa ini sangat indah." kata Hendra sambil melirik ke arah Winda.
__ADS_1
" Apalagi jika itu bersama kamu!" imbuh Hendra akhirnya.
" Eh??" Winda mulai merasakan kekakuan ketika Hendra mulai bersikap romantis terhadap dirinya.