Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
PAPA HERIKA


__ADS_3


Seperti fajar yang tidak letih menanti mentari. Sinarnya menghangatkan beku nya hati. Seperti embun pagi yang bening sejukkan jiwa. Jika hadirnya rasa cinta ini, datang permisi. Jika kau dengan tangan terbuka menerima cinta ini dengan ikhlas.


*******


Di pagi kediaman Winda.


" Mbak Winda! Ada Mas Herika di teras." kata Mbak Atik sambil mengketuk- ketuk pintu kamar milik Winda.


Winda yang masih di dalam kamar siap mandi pagi dan mulai berhias.


" Iya, Mbak Atik." sahut Winda sambil berteriak.


" Hah? Orang ini pagi sekali sudah sampai sini." gerutu Winda sambil mengeringkan rambutnya yang basah karena keramas.


Winda mengambil ponselnya dan mencari kontak dengan nama Herika. Winda menamainya dengan Pangeran bertopeng. Sambil tersenyum sendiri, Winda menelpon Herika yang sudah berada di teras rumahnya.


" Hai, pangeran bertopeng! Ngapain pagi- pagi sudah ke rumah ku? Tak ada tugaskah di istana mu? Tidakkah nyapu, ngepel, bersih-bersih kebun, nyiram tanaman di istana mu." ledek Winda.


" Hahaha! Aku tidak bisa tidur, Winda. Jadi pulang dari rumah ini langsung kukerjakan semua yang kamu katakan itu. Seperti beberes rumah. Istana? Istana apaan? Istana cinta?" jawab Herika sambil terbahak-bahak penuh bahagia.


" Aku loh masih belum siap, habis mandi. Jangan- jangan kamu datang kemari, belum mandi yah?" goda Winda.


" Mana mungkin, Winda! Untuk menjumpai bidadariku, masak aku masih bau jigong." sahut Herika sambil tersenyum.


" Hahaha. Oh iya, kalau mau kopi, bikin sendiri di belakang yah! Aku sebentar lagi siap kok." kata Winda masih dengan mode ceria.


" Oke, siap!" sahut Herika.

__ADS_1


*******


" Bagus juga selera Surya. Rumah ini jadi adem, membuat tenang dan nyaman. Di belakang dekat dapur ada taman dan ada tempat duduk untuk bersantai sambil bercengkrama dengan keluarga. Ini bikin betah di rumah. Jadi penasaran tata letak kamar milik Winda sekarang." gumam Herika sambil mengamati desain rumah Winda.


Wisnu yang duduk di ruang makan sedang sarapan ditemani pengasuh nya. Mbak Atik masih sibuk di belakang dengan cucian.


Herika mendekati Wisnu yang sibuk dengan sarapan paginya.


" Hai ganteng!" sapa Herika sambil duduk mendekati Wisnu.


" Hai, om! Eh?" sahut Wisnu sambil mengulurkan tangannya memberi salam kepada Herika dan mencium punggung tangan milik Herika.


" Woy anak ganteng yang sholeh!" ucap Herika sambil mengusap pucuk kepala Wisnu. Wisnu masih menatap wajah gagah milik Herika.


" Oh iya, panggil saja om Herika." kata Herika yang mengerti tatapan mata Wisnu yang sebenarnya ingin tahu siapa dirinya.


" Om Herika." sebut Wisnu sambil sesekali memasukkan makanan nya ke dalam mulutnya.


" Mas Herika, mau kopi?" tanya Mbak Atik ketika sudah dekat ke tempat duduk Herika.


" Tentu, Mbak Atik. Terimakasih loh Mbak Atik." sahut Herika sambil tersenyum ramah.


" Baiklah. Tunggu sebentar ya, mas!" kata Mbak Atik sambil berlalu meninggalkan Herika dan Wisnu.


" Om ini kawannya, mama yah?" tanya Wisnu penuh selidik.


" Iya betul! Om juga kawannya papa Surya dulu di waktu sekolah."


"Papanya Wisnu?" tanya Wisnu penasaran.

__ADS_1


" Eh? Iya betul." jawab Herika.


" Om Herika mengenal papanya Wisnu?" tanya Wisnu lagi.


" Iya, sangat mengenal." jawab Herika sambil tersenyum.


Wisnu berubah raut wajahnya. Seperti tiba-tiba sedih ketika mengetahui papa nya sudah meninggal dunia.


" Eh?" gumam Herika lalu spontan mengusap pucuk kepala Wisnu lalu meraih tubuhnya dan memeluk nya.


" Wisnu boleh, memanggil om Herika dengan Papa Herika tidak?" tanya Wisnu.


" Boleh.. boleh sayang!" jawab Herika sambil mengusap kepala Wisnu.


" Hai... Hai.. Hai.. semua sudah sarapan?" teriak Winda sambil mendekat ke ruang makan itu.


" Itu mamaku!" tunjuk Wisnu.


" Iya, mama Wisnu yang paling cantik seperti bidadari." sahut Herika sambil tersenyum manis.


"Hai pangeran bertopeng! Kamu ngapain meluk- meluk anak gantengku?" goda Winda sambil tersenyum dan memcium pipi kanan dan kiri milik Wisnu.


" Pangeran bertopeng? Siapa ma?" tanya Wisnu sambil melihat Herika.


" Itu om Herika!" jawab Winda.


" Oh papa Herika!" sahut Wisnu.


" Hah? Papa?" Winda terkejut sambil melotot tajam ke arah Herika.

__ADS_1


Herika yang dipandang hanya tersenyum sambil garuk- garuk kepala.


__ADS_2