
Dalam kesunyian rasa aku diam. Memendam kerinduan yang berselimut gelisah. Ku nantikan kedatangan mu setiap waktu. Walaupun hanya bayang mampu meredam rinduku. Gejolak api asmara kian membuncah. Pesona mu yang memikat jiwa. Aku jatuh dalam cinta nama mu kurasa. Aku lah wanita yang beruntung mendapatkan mu, ku kira. Tapi hati mu tidak sepenuhnya untuk ku, ku rasa. Dalam hati yang gelisah ingin memiliki seutuhnya. Tidak rela terbagi yang lainnya. Padahal aku dalam antrian bukan pertama. Terukir senyum mu yang mulai merekah. Berusaha ikhlas menerima ku sebagai wanita ke dua. Aku dalam syukur yang diam.
Mata tidak bisa berbohong. Keresahan ini tidak bisa tertutupi dengan senyum palsu. Aku rela menjadi ke dua. Tapi dalam diam ego ku tak mampu menerima. Aku ingin kuasa memiliki mu. Dalam kuasaku dalam harta,tahta. Tak ingin kau bergelayut manja selain dengan ku pinta. Sudi kah kiranya lepaskan yang lain dan hanya diriku saja. Tapi apalah daya. Hati mu masih seutuhnya untuk nya. Aku hanya sebutir debu yang menempel di hati mu. Tidak bisa menguasai hati dan pikiran mu. Lalu? Sampai kapan kau akan pedulikan ku?
Sarwenda duduk termenung di kursi panjang sudut rumahnya. Acara televisinya sedari tadi menyala. Tatapan nya kosong melihat benda persegi itu. Pikirannya gelisah menanti Surya. Sudah hampir satu Minggu, Surya tidak pulang ke rumahnya. Di kantor pun, dia tidak datang. Segala urusan di serahkan sepenuhnya kepada asisten pribadinya.
Hal ini membuat Sarwenda seperti cacing kepanasan. Betapa tidak? Nomernya pun di blokir nya. Sarwenda tidak bisa menghubungi Surya. Kali ini Sarwenda tidak mau tinggal diam. Dia segera bergegas dan bersiap - siap ke rumah kediaman Pak Hartono. Sarwenda. mulai masuk ke dalam kamarnya dan mengambil handuk untuk mandi.
" Kamu pikir, aku hanya berdiam saja menunggu kamu, Surya? Aku sudah menggilai mu sejak lama. Tidaklah sulit bukan, sekadar datang ke rumah keluarga besar kamu dan menjumpai kamu di sana? Aku ingin lihat. Apakah reaksi kamu ketika melihat aku datang di rumah keluarga besar mu, Surya!" kata Sarwenda pelan sambil tersenyum.
" Mentang - mentang kamu sudah memiliki seorang anak, lalu kamu ingin menjauh dari aku secara perlahan. Kamu terlalu naif Mas Surya!" gumam Sarwenda.
Aku hanya diam. Selalu memanggil nama kamu dalam setiap malam. Bukan! Tapi dalam setiap hembusan nafas ini. Tetapi dalam harap ku pun selalu penuh kegelisahan. Sosok mu seperti mematung kan aku dalam keadaan. Tidak bisa melepaskan sesak jika jauh dan tanpa kabar bicara darimu. Aku serasa belingsatan jika sehari tidak melihat mu. Sehari tanpa mendengar suara mu. Sehari tanpa aroma nafas mu. Aku sudah terpaut oleh rasa itu. Kamu sudah menjadi bagian dalam diriku. Aku harus berdampingan dengan kamu. Apapun itu, aku harus dekat dengan kamu. Bagaimana pun caranya. Walaupun bayang mu belum juga aku genggam Walaupun hati kamu belum sepenuhnya untuk aku. Tapi dekat dengan kamu adalah suatu ketenangan jiwa ku.
Kekasih! Kekasih kamulah yang di cintai. Melalui mata dan jatuh ke hati. Mulai menjalar dan menguasai pikir. Menjadi gundah setiap hari. Dia selalu di ingat dalam terang maupun gelap. Menyebutkan nama nya setiap waktu. Menjadi jantung berdebar kencang ketika teringat akan hal itu. Rasa nya seperti tersayat. Dada terlalu sesak. Sedih sampai tidak bisa terungkap kan kata kata. Rasa yang hadir tak diharapkan. Seperti aku menyesal mengenalimu bukan dari awal. Kerinduan yang sudah di tingkat puncaknya.
Mungkin saja aku perlu kamu untuk menghangatkan hatiku yang beku. Mungkin saja aku perlu rayuan mu untuk membalut resah ku. Mungkin saja aku perlu perhatian khusus dari kamu untuk menyelimuti rindu ku.
__ADS_1
Sarwenda sudah bersiap-siap. Setelah mandi dan berdandan. Sarwenda mulai menghidupkan mobilnya.
" Mbak! Aku ke rumah Mas Surya ya! Nanti kalau ada yang mencari aku, bilang saja aku pergi ke rumah papa." kata Sarwenda yang berpesan kepada asisten rumah tangga nya.
"Baik non!" jawab Asisten rumah tangga Sarwenda yang bernama Komariah.
Sarwenda yang berpenampilan glamor mulai masuk kedalam mobilnya dan mengeluarkan mobilnya yang masih ada di dalam garasinya. Komariah dengan cepat membuka kan gerbang rumah mewah milik Sarwenda. Senyumnya mengembang tatkala majikannya menatap wajah Komariah.
" Jaga rumah baik - baik ya mbk!" pesan Sarwenda.
" Baik non!" sahut Komariah.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Sarwenda mengemudikan nya tanpa sopir. Memang sedari dulu, Sarwenda sudah terbiasa nyetir mobilnya sendiri tanpa sopir pribadi. Perjalanan yang ditempuh dari rumah Sarwenda menuju kediaman rumah besar Pak Hartono bekisar setengah jam. Itu pun dalam kondisi jalanan lengang tidak macet. Jika macet bisa di prediksi lebih dari itu bukan.
Tidak perlu lama-lama, Sarwenda melanjutkan kembali perjalanan nya menuju rumah kediaman Pak Hartono. Bingkisan yang cukup besar untuk anak Winda.
" Winda! Aku pun ingin membuat kamu tertarik padaku. Agar aku bisa menjadi teman mu. Dengan begitu aku bisa pelan - pelan masuk kedalam keluarga besar kalian, tanpa kecurigaan apa pun." kata Sarwenda pelan.
" Ha-ha-ha!" Sarwenda mulai tertawa kecil di dalam mobilnya.
" Aku rasa ini ide yang bagus bukan. Dengan begitu, aku bisa pelan - pelan masuk ke dalam lingkungan keluarga besar Pak Hartono. Setelah itu siasat - siasat kecil, akan aku jalankan agar, kamu tidak di sukai lagi oleh mama dan papa Surya. Winda! Winda!"
__ADS_1
"Kamu akan menjadi wanita yang tersingkirkan, setelah aku bisa masuk dalam keluarga besar itu. Hahaha!" ucap Sarwenda dengan tertawa dan penuh rencana liciknya.
Tidak beberapa lama, akhirnya Sarwenda sampai di depan gerbang rumah kediaman Keluarga besar Pak Hartono.
Sarwenda mulai turun dari mobilnya dan memencet bel di depan gerbang. Di balik lubang kecil, seorang satpam membuka gerbang masuk rumah mewah itu.
" Mencari siapa Bu?" tanya Satpam itu.
" Saya kawan kantor Pak Surya." jawab Sarwenda.
" Oh! Sudah ada janji dengan Pak Surya?" tanya Satpam itu lagi.
" Pak! Buruan buka kan saja gerbangnya pak! Saya ingin mengucapkan selamat kepada Bu Winda dan Pak Surya atas kelahiran putra nya." kata Sarwenda.
" Ibu bernama siapa? Saya akan bertanya dulu dengan bapak Hartono." kata Satpam itu lalu segera ke pos satpam nya dan mengambil telepon seluler di pos jaga.
Satpam itu lalu dengan cepat membuka gerbang masuk kedalam rumah mewah kediaman Pak Hartono.
" Bagaimana?" tanya Sarwenda.
" Iya! Kata Pak Hartono, ibu boleh dan diijinkan masuk." kata Satpam itu.
__ADS_1
" Apa aku bilang! Oh iya! Masukkan mobil saya pak! Oh iya! Angkat dulu bingkisan itu kemari dan bawa masuk kedalam rumah. Dan hati - hati! Isinya barang mahal dan mewah." kata Sarwenda sombong.
" Baik Bu!" sahut Satpam itu agak tidak senang.