
Mentari bersinar terang di pagi itu. Winda mulai menikmati aktivitas nya kerja kantor an di perusahaan milik keluarga Galuh. Kenapa tidak memilih satu kantor di perusahaan milik keluarga Pak Hartono? Alasan nya adalah tanyakan Winda secara pribadi yah. Mungkin diantara nya adalah.
Biar tidak jumpa dengan suaminya, yaitu Surya.
Biar lebih dekat dengan Bang Hendra.
Ingin suasana dan lingkungan baru.
4 Bidang bisnis antara perusahaan tersebut berbeda. Perusahaan milik keluarga Pak Hartono bergerak di bidang konstruksi sedangkan Perusahaan milik keluarga Galuh bergerak di bidang perdagangan besar/ kecil. Sedangkan Winda dahulu mengambil jurusan di bidang ekonomi. Tentu saja, nyambung dengan ilmu yang pernah dipelajari nya.
( Alasan klise yah hehehe)
Tidak ingin tergantung dengan keluarga Hartono dalam materi dan kerjaan.
Lagi pula bisa saja masuk di perusahaan keluarga Hartono tersebut dengan posisi sebagai sekretaris atau bisa saja menjadi asisten pribadinya Surya, contoh nya. Sudahlah tidak perlu dibahas kembali.
Di ruang yang ber AC itu, duduklah seorang wanita muda yang terlihat sibuk di depan laptop nya. Terlihat fokus dengan kerjaan nya. Tampak nya sedang membuat laporan keuangan dan barang masuk dan keluar.
" Winda!" panggil seorang laki-laki muda dengan pakaian cukup elegan dengan posisi nya yang ekslusif masuk ke ruangan Winda.
" Eh iya, Pak!" sahut Winda sambil menatap wajah pemuda yang memanggil nya.
" Ke ruangan ku sekarang!" perintah pemuda itu yang tidak lain adalah atasan Winda tempat ia bekerja.
" Baik pak!" sahut Winda sambil berdiri dan bergegas ke ruangan bos nya setelah menge save apa yang sudah di ketiknya dalam laptop.
Tok
Tok
Tok
Pintu ruangan itu di ketuk oleh Winda.
" Masuklah Win!" sahut suara laki-laki yang tidak lain adalah Bang Hendra.
" Iya pak! Ada kepentingan apa pak?" tanya Winda yang masih berdiri mematung di depan Hendra.
" Berdiri saja, seperti patung Pancoran kamu! Duduk lah!" suruh Hendra.
__ADS_1
" Eh iya pak! Baiklah pak!" sahut Winda lalu duduk di depan Hendra.
" Kalau sudah berdua panggil aku, Bang! B A N G mengerti kan kamu?" kata Hendra ketus.
" Baiklah Bang Hendra!" ucap Winda yang tersenyum geli.
" Kamu kenapa senyum- senyum tidak jelas? Aku belum cukup tua untuk dipanggil, Pak." ucap Hendra sinis.
" Bukan seperti itu bang! Panggilan Pak itu bentuk menghargai Abang sebagai pimpinan disini juga. Bukan lantaran Abang sudah tua lalu dipanggil Pak." ujar Winda.
" Iyalah aku mengerti, tapi kalau kamu yang memanggil begitu seolah kamu menganggap aku lebih tua. Sekalian saja panggil aku Om." ucap Hendra sinis.
" Hehe!" Winda terkekeh mendengar Hendra seperti anak kecil.
" Kamu itu tertawa seperti menghina aku saja. Ini laporan yang kamu bikin ada kesalahan antara uang masuk dan keluar, dan saldonya tidak sesuai. Bagian yang aku lingkari coba kamu revisi. Kamu ini, kalau kerja yang fokus,Win. Jangan hanya terbayang-bayang wajah ganteng aku saja." kata Hendra terdengar konyol bagi Winda.
" Eh? Siapa juga yang membayangkan wajah Bapak? Eh Abang? Wajah Abang tidak ada bagus-bagus nya dilihat. Bagus saya lihat Aktor Antonio Banderas, lebih keren, maco." sahut Winda asal.
"Weleh tahun berapa itu? Sekarang dia pun sudah tua, kalah ganteng juga sama Abang." kata Hendra yang kalau sudah berdua dengan Winda pembicaraan nya selalu jadi tidak serius macam anak kecil yang ketemu musuhnya. Ibarat anjing dengan kucing.
" Hadeuh! Ini membahas apa sih Pak? Saya wanita yang sudah bersuami dan anak. Kenapa saya jadi membahas laki- laki lain?" ujar Winda mulai serius.
" Ehh? Itu cepat perbaiki laporan nya. Dan laporan statistik keuntungan bulan kemarin segera di print kan lalu bawa kemari!" perintah Hendra yang mulai bersemu merah wajahnya karena tidak bisa bercakap lagi.
" Oh iya! Satu lagi, siang ini kamu ikut aku menemani makan siang dengan klien." kata Hendra sambil menandatangi beberapa berkas yang ada di atas mejanya.
" Tapi siang ini, saya ...." kata Winda yang tidak jadi meneruskan kalimatnya.
" Tidak ada penolakan dan tidak ada alasan!" sahut Hendra tegas.
" Baik Pak!" kata Winda datar.
" Panggil aku Om saja biar enak di dengar." ujar Hendra sinis.
" Eh iya om!" sahut Winda datar.
" Apa? Sial! Kamu ini! Sudahlah keluar dari ruangan ku!" kata Hendra sewot.
" Baik Pak! Saya permisi!" ucap Winda dengan menahan tawanya dan melangkah pergi keluar dari ruangan Hendra.
" Winda! Sial! Wanita ini kenapa membuat jantung aku selalu berdebar hebat. Aku tidak mau jatuh cinta dengan wanita yang sudah beristri dong. Ini sangat memalukan. Aku kan cowok ganteng yang banyak menyukai. Masih banyak gadis- gadis cantik yang antri untuk mendapatkan cinta aku. Tapi ini aneh...arrggh Winda sial! Kenapa? Ya Tuhan!" gumam Hendra pelan sambil menjambak rambut nya sendiri karena kesal.
*******
__ADS_1
Kamu pikir cinta datang bisa kamu atur? Jantung yang tidak bisa di kendalikan detak nya. Tiba-tiba hadir tanpa mampu ditepis kan nya. Ingin menolak tapi rasa itu tidak bisa ditekannya.
Keinginan hati ingin selalu setiap hari melihat nya. Dorongan ingin memperhatikannya. Dorongan ingin memberi dan membahagiakan nya. Usaha untuk selalu melindunginya. Selalu mengkhawatirkan nya. Lalu ada rindu jika tidak mengetahui kabarnya. Apakah ini kategori sedang jatuh cinta?
Tetapi ini sudah terlambat. Cinta ini datang diwaktu yang tidak tepat. Dia sudah ada yang memiliki nya. Aku mungkin cukup bahagia jika dia bisa tertawa senang dalam kehidupan nya. Aku cukup puas ketika mendengar dia bisa menjalankan hidupnya dengan kedamaian. Biarkanlah rasa ini ku tepiskan. Biar rindu ini aku musnahkan. Karena ini sungguh tidak pantas. Dan cinta ini serasa bertepuk sebelah tangan. Tapi biarkan rasa sakit karena cinta yang tak berbalas. Kan ku telan pil pahit ini karena rindu ini tak berbalas. Memikirkan dia yang tidak mencintai. Menyayangi dia tapi tidak ditanggapi. Serasa meledak dada ini. Tapi ini sudah menjadi derita cinta yang tidak harus memiliki.
Tapi tidakkah sedikit saja, kamu tanggapi perasaan ini. Bersikaplah baik terhadap ku. Walaupun harus ku simpan rapat-rapat perasaan ini agar kau tidak membenciku. Karena aku menyukaimu ketika kamu bukan lah milikku.
Tapi jujur! Aku ingin mengungkapkan segala rasa ini. Supaya kau tahu dan memahami cinta ini. Tapi aku tidak cukup berani jika kau semakin menjauhi aku. Tapi aku tidak cukup nyali jika kau menjadi membenci aku.
" Pak! Maaf pak, Ini kopinya!" kata Winda yang sudah berada di ruangan Hendra.
" Eh? Kamu itu kalau masuk ketuk pintu dulu. Jangan asal nyelonong saja!" kata Hendra sewot.
" Eh? Tadi saya sudah ketuk pintu loh pak! Bapak saja yang tidak mendengar nya." sahut Winda sewot.
Hendra terdiam pura-pura sibuk dengan beberapa berkas di mejanya.
" Lagi pula, siapa yang minta kopi hah?" ucap Hendra sinis.
" Bukankah tadi Bapak menghubungi saya lewat telepon kantor." ujar Winda pelan.
" Oh! Letakkan saja di meja sana!" perintah Hendra sambil menunjuk meja dengan kursi sofa di ruangan nya.
" Baik pak!" sahut Winda lalu meletakkan kopi itu di meja.
" Saya permisi dulu pak!" tambah Winda lalu bergegas keluar dari ruangan itu.
" Eh Winda!" panggil Hendra.
" Iya pak!" sahut Winda.
" Eh tidak jadi. Hem.. terimakasih kopinya. Sebenarnya tadi aku sudah menyuruh OB untuk membuatkan kopinya tapi tidak kunjung datang ke ruangan aku." kata Hendra.
" Tidak apa-apa kok pak. Itu kopi juga yang membuatkan OB yang bapak suruh. Saya hanya mengantar nya saja." ucap Winda.
" Oh!" sahut Hendra.
" Saya permisi dulu pak!" kata Winda akhirnya sambil keluar dari ruangan itu.
" Sial! Tidak ada bagus-bagus nya kah aku dimata Winda?" gumam Hendra kesal.
" Argh...!!!" teriak Hendra kesal.
__ADS_1