
Langkah kaki berirama. Berjalan beriringan dengan tujuan sama. Akankah sampai ditujuan yang diharapkan? Embohlah! Sedangkan takdir dan ketentuan nya sudah tertulis didalamnya tetapi bukan berarti manusia menyerah, berdiam diri tanpa usaha. Usaha tanpa doa adalah kesombongan yang nyata. Doa tanpa usaha adalah kemalasan. Jadi, tetap lakukan semua sesuai kapasitas dan kemampuan diri. Jangan pernah merasa tidak mampu, lakukan saja segala dengan usaha-usaha kamu untuk memperoleh ridlo itu. Nilai mu bukan berdasarkan dari omongan dan pandangan orang melainkan Tuhanlah yang berhak menilai kita baik dan buruk itu.
*******
" Kemarilah nak!" perintah Wardha kepada Siwa yang sedang bermain di taman sore itu.
Di kediaman rumah Sarwenda, sore itu Siwa terlihat bermain di taman sendirian. Tangannya memegang mobil - mobilan yang dijalankan nya dengan mulutnya menyuarakan suara yang menirukan suara mobil. Panggilan Wardha membuat Siwa menoleh ke arah suara yang menyuruhnya mendekat. Siwa lalu berjalan mendekati Wardha yang sedang duduk menggendong anaknya yang masih balita.
" Iya om!" kata Siwa ketika sudah berada di depan Wardha.
Wardha mengusap lembut kepala milik Siwa. Tatapan mata Wardha penuh dengan belas kasih dan kesedihan. Perasaan itu bercampur menjadi satu dalam hatinya. Akhirnya Wardha merengkuh tubuh Siwa dan memeluk bocah yang berusia lima tahunan itu dengan penuh kerinduan, setelah meletakkan balita yang digendong nya itu ke troli dorong.
" Om! Kenapa menangis, Om?" tanya Siwa seraya mengusap air mata yang jatuh di pipi Wardha itu dengan lembut.
" Tidak apa-apa! Om hanya kangen saja." jawab Wardha sambil tersenyum simpul.
" Om kangen dengan siapa?" tanya Siwa sambil menatap Wardha yang terlihat muram.
" Hem Hem kangen ketika Om masih kecil seusia Siwa." jawab Wardha bohong.
Siwa hanya diam lalu ikut duduk di samping Wardha.
" Kamu suka mainan mobil-mobilan yah, nak?" tanya Wardha.
" Iya om! Ini satu-satunya mainan yang dibelikan oleh ayah kepadaku, om." jawab Siwa sambil menimang-nimang mainannya.
" Nanti akan om belikan lebih banyak lagi, ya nak!" ujar Wardha.
" Benarkah om? Om mau membelikan mainan untuk Siwa?" ucap Siwa dengan mata berbinar penuh kesenangan.
" Tentu saja! Siwa suka mainan apa selain mobil-mobilan?" tanya Wardha lembut.
"Tidak tahu, om. Siwa hanya bermain mobil ini saja." jawab Siwa jujur.
" Oh!" sahut Wardha sambil memeluk kembali Siwa.
__ADS_1
Mungkin saja Siwa adalah anak kampung yang belum mengenal game online. Berbeda dengan anak kota di usianya sudah sibuk bermain dengan ponselnya dan bermain game online. Siwa tentu belum mengenal semua itu karena kenyataannya bunda dan ayahnya tidak memfasilitasi akan barang modern tersebut.
" Nanti akan om belikan handphone yah, nak! Nanti kamu akan bermain Selain bermain mobil-mobilan itu. Nanti akan om ajari kamu, permainan yang lain." kata Wardha.
" Benarkah om?" tanya Siwa senang.
" Iya sayang!" sahut Wardha sambil melihat balitanya yang mulai merengek didalam troli bayi itu.
" Anak om namanya siapa?" tanya Siwa sambil melihat bayi yang berjenis kelamin perempuan itu.
" Panggil saja, Dahlia!" jawab Wardha.
" Dahlia? Bagus namanya om!" sahut Siwa sambil memberanikan diri memegang pipi balita itu.
" Adek!" panggil Siwa sambil tersenyum kepada Dahlia.
Wardha menatap tingkah lucu Siwa yang menggemaskan. Sikap dan perilaku nya seolah tidak menunjukkan usianya yang masih berusia lima tahun. Siwa seperti lebih matang dibandingkan dengan usianya yang sesungguhnya.
" Sayang!" panggil Sarwenda sambil berjalan mendekati Wardha berada.
" Masuk ke dalam yuk! Hari sudah mulai petang. Dahlia cantik, ayo kita masuk ke dalam rumah ya sayang." kata Sarwenda sambil menggendong Dahlia.
" Ayo Siwa!" ajak Wardha sambil menggandeng tangan milik Siwa. Sarwenda yang melihat suaminya menyayangi Siwa hanya tersenyum simpul.
*******
" Sebenarnya ada hubungan apa kamu dengan Pak Wardha, Rosiana?" tanya Mbak Santi penuh kecurigaan.
" Kenapa Mbak Santi bertanya seperti itu?" kata Rosiana balik bertanya.
" Iya! Walaupun aku bukan paranormal atau psikolog hebat, setidaknya aku bisa sedikit membaca gerak-gerik dan gelagat dari Pak Wardha ketika melihat ataupun ketika berpapasan dengan kamu, Rosiana. Selain itu, tadi aku sempat mengamati Pak Wardha ketika di taman dengan anaknya dan juga ada anak kamu." ucap Mbak Santi dengan tatapan tajam setajam pisau dapur yang tidak berkarat.
"Mbak Santi, melihat apa?" tanya Rosiana mulai gugup dan berusaha menyembunyikan rahasia terbesar dalam hidupnya tentang hubungan nya dengan Wardha di masa lalu.
" Aku melihat Pak Wardha begitu menyayangi Siwa, anak kamu. Dan sorot mata Pak Wardha terhadap Siwa seperti ada kerinduan yang terpendam. Ada sesal dan kesedihan didalamnya. Seperti ada rahasia diantara kalian dengan Pak Wardha." tuduh Mbak Santi.
__ADS_1
" Mbak Santi!" kata Rosiana pelan.
" Ya sudahlah! Aku tidak ingin memaksa kamu untuk bercerita dengan jujur terhadap ku. Tapi sungguh aku tidak bisa dibohongi. Dari dulu aku memilih kemampuan lebih dalam membaca sikap dan perilaku orang. Bahkan sedikit bisa menerawang, itu jika aku mau dan fokus untuk membaca itu semua." kata Mbak Santi jujur.
" Jangan khawatir! Aku bisa menyimpan segala rahasia itu. Percaya padaku. Dan kamu tidak perlu bercerita jika kamu belum siap bercerita terhadap ku. Tetapi terus terang, aku sudah tahu dan aku berani mengatakan, kalau kalian dahulu pernah ada hubungan itu." kata Mbak Santi yang membuat jantung Rosiana tidak menentu.
Rosiana seketika menjadi panik dan penuh ketakutan. Wajahnya menjadi memucat.
" Astaga! Rosiana! Jangan khawatir, aku tidak akan membuka rahasia ini, apalagi menceritakan semua pada Nyonya Sarwenda." ucap Mbak Santi sambil mengambil dan memegang erat tangan milik Rosiana.
Senyum Mbak Santi memberikan ketenangan pada Rosiana.
" Terimakasih banyak, Mbak Santi." sahut Rosiana akhirnya dengan senyum simpul nya. Kini Rosiana bisa bernafas dengan lega.
" Saya akan menceritakan semua jika kita ada waktu longgar." tambah Rosiana.
" Eh Rosiana! Bukankah kamu sudah menceritakan semua nya pada ku? Tentang ayah Siwa bukan? Walaupun kamu tidak menyebutkan siapa ayahnya, aku sudah bisa menebaknya." sahut Mbak Santi sambil tersenyum.
" Mbak Santi!" panggil Rosiana lirih.
" Iya sudahlah! Jangan khawatir, Rosiana. Aku akan menjadi sahabat dan juga kakak kamu sekarang ini. Percaya padaku." kata Mbak Santi.
" Terimakasih, Mbak Santi." sahut Rosiana.
" Iya! Rosiana kita ke dapur yuk! Aku ingin mie kuah yang super pedas. Kamu mau tidak?" kata Mbak Santi.
" Mau mbak!" jawab Rosiana senang.
" Ayo!" ajak Mbak Santi sambil berjalan keluar kamar dan diikuti oleh Rosiana.
Di ruang tengah, Wardha dan Siwa sedang duduk di ruang tengah. Mereka terlihat akrab satu dengan yang lain. Hal itu dilihat dan disaksikan oleh Rosiana dan Mbak Santi. Mbak Santi yang melihat pemandangan itu tangannya yang jahil mencubit pelan pinggang milik Rosiana.
" Sudah sangat jelas, bukan? Anak dan ayah akhirnya bertemu juga." kata Mbak Santi sambil berbisik pelan.
Rosiana hanya terdiam tetapi dalam hatinya merasa bahagia, Siwa bisa akrab dengan ayah kandungnya.
__ADS_1