
Intan berjalan dengan malas di meja makan. Disana ada kakak iparnya dengan Hendra. Seketika langkahnya makin tidak semangat. Seketika emosinya mulai naik ke ubun-ubun ketika melihat sosok Hendra yang tersenyum memandangi wajah kakak iparnya itu. Hati kecilnya masih belum menerima jika kakak iparnya bisa secepat ini menemukan pengganti kakaknya yang meninggal dunia. Perlu waktu untuk menerima kenyataan bahwasanya, Surya meninggal dunia apalagi meninggalnya dengan cara kecelakaan dan membuat keterkejutan anggota keluarga nya. Tetapi bukankah kesedihan itu tidak harus berlarut-larut. Kehilangan seseorang tidak harus menjadi bermuram durja meratapi kedukaan itu. Semua orang perlu obat untuk menyembuhkan segala kesepian dan kehilangan itu, agar secepatnya menghapus jejak memory yang jelas-jelas sanggat mengganggu dan menguras pikiran.
Intan duduk dan bergabung dengan mereka. Tatapan mata nya tajam menatap ke arah Hendra yang begitu tidak suka, tatkala laki-laki itu sangat gigih mendekati kakak iparnya. Sehingga kakak iparnya itu sudah semakin akrab dan terbiasa dengan perhatian laki-laki itu.
Winda memperhatikan dengan seksama ke arah Intan. Winda tahu, Intan masih belum menyukai Hendra ketika bersandang lama-lama dirumahnya. Entah rasa iri atau apa, yang pasti Intan belum bisa bersikap ramah kepada Hendra walaupun sekedar basa-basi saja.
" Intan, makanlah! Ini tadi Bang Hendra membawakan makanan untuk kita." kata Winda sambil menunjuk kan makanan itu.
" Makanan untuk kita? Untuk Mbak Winda, kali! Bukan untuk aku. Laki-laki semuanya sama saja, ketika ada maunya semua begitu baik dan manis. Tetapi ketika sudah mendapatkan apa yang dia mau berangsur-angsur dan berlahan bersikap cuek dan kurang memberikan perhatian." ucap Intan yang terkesan jutek.
Winda dan Hendra hanya menatap Intan sambil meneliti wajah wanita yang masih cukup muda untuk menyandang gelar janda.
Apakah gerangan yang terjadi oleh Intan. Seolah pandangan nya terhadap sosok laki-laki saat ini terkesan membencinya.
" Winda! Hem..aku balik dulu yah! Kedua orang tua ku, akan tiba di Jakarta malam ini." kata Hendra.
" Eh, begitu yah." sahut Winda sambil berdiri dan beranjak dari tempat duduknya.
" Baguslah! Cepat pergi dari sini, lebih baik. Tidak perlu di usir, bukan?" ucap Intan jutek.
Winda menarik nafas panjangnya, berusaha memaklumi segala sikap dari Intan.
" Abang,balik dulu Intan." kata Hendra berusaha ramah padahal hatinya sudah dongkol.
" Cepatlah pergi! Sebelum selera makan aku hilang." sahut Intan sambil meneguk air putih yang sudah dituangkan di gelasnya.
Winda dan Hendra melangkah meninggalkan Intan yang masih uring-uringan sore ini.
__ADS_1
" Maafkan adik saya, Bang!" ucap Winda setelah jauh dari Intan yang masih duduk di kursi meja makan itu.
" Tidak masalah! Aku maklum dan sangat maklum kok, My queen!" sahut Hendra.
" Benarkah? Apakah Abang tidak sakit hati?" tanya Winda sambil melihat raut wajah Hendra.
" Tidak! Tidak sayang! Aku sakit hati dan sangat sakit jikalau kamu menolak ajakan aku untuk segera menikah. Itu saja!" kata Hendra akhirnya.
" Tapi apakah harus secepat ini, My King?" tanya Winda.
" Kedatangan kedua orangtuaku, pasti akan mempertanyakan kepadaku, kapan aku secepatnya melamar kamu, My queen." kata Hendra.
" Tapi...tapi...ini masih terlalu cepat. Paling tidak dua tahun atau tiga tahun lagi, my king. Rasanya baru kemarin Mas Surya meninggal dunia dan tanah kubur nya pun masih belum kering." kata Winda pelan dan ragu-ragu takut menyinggung hati Hendra.
" Bukankah sudah hampir satu tahun, My Queen? Aku sudah cukup lama menantikan untuk segera meminang kamu. Agar kita dan hubungan kita ini tidak menimbulkan fitnah." sahut Hendra.
" Tapi, setidaknya saya harus bicara dengan mama dan papa mertua saya. Dan juga kedua orang tua saya sendiri." kata Winda.
" Jangan! Biar saya sendiri dulu yang bicara ke mama, bahwasanya sudah ada Abang didalam kehidupan saya saat ini." sahut Winda.
" Baiklah! Tapi sesungguhnya aku sudah tidak sabar ingin menikahi kamu, my queen. Dan kita akan memiliki banyak anak di keluarga kita. Dan Wisnu akan mempunyai adik-adik yang lucu-lucu." kata Hendra.
Winda seketika mencubit lengan milik Hendra dengan gemas. Hendra hanya meringis menahan sakit karena cubitan Winda kali ini membuat pedih dan sakit.
" Sayang! Sakit loh!" teriak Hendra.
" Biarin saja! Habis belum apa-apa sudah berpikir jauh seperti itu." sahut Winda.
__ADS_1
" Berpikir jauh gimana sih, my queen? Bukankah manusia menikah itu supaya memperoleh dan memperbanyak keturunan. Tidak salah bukan,jika aku menginginkan anak yang banyak dari wanita yang sangat sangat aku cintai dan puja-puja." ucap Hendra.
" Puja- puja? Jangan menyamakan cinta kita ini dengan Tuhan, sayang! Tuhan akan cemburu jika kita mencintai seseorang melebihi cinta kita padaNya." sahut Winda.
" Hehe. Tapi aku benar-benar sangat menyukai, my queen. Setiap malam selalu mengkhayal, seandainya my queen bisa di dekat aku kemana saja. Saat tidur, saat makan, saat bekerja, pokoknya kemana saja deh." kata Hendra sambil terkekeh geli dengan kata-kata nya sendiri.
" Apakah termasuk ke toilet juga?" sahut Winda sambil nyengir.
" Kalau kamu mau!" jawab Hendra sambil menoel hidung milik Winda yang kurang mancung dan mancung yang tertunda dibanding hidung milik Hendra yang lumayan panjang.
" Ais!" sahut Winda dan kembali tangannya memberikan cubitan ke pinggang nya.
" Sayang! Sakit loh! Ini sekarang nyubitnya milih yah?" teriak Hendra.
" Sudahlah sana cepat pulang! Salam buat mami dan papi, yah!" kata Winda sambil mengambil uluran tangan Hendra. Winda bersalaman dengan Hendra dan mencium punggung tangan itu.
" Iya! Iya! Tidak adik ipar tidak kamu, semua tidak suka jika aku datang ke rumah ini." sahut Hendra tersenyum menggoda.
" Tuh kan! Diambil hati!" kata Winda.
" Tidak sayang! Aku hanya bercanda saja kok. Oh iya, nanti malam siap - siap saja yah, kalau aku jemput kemari. Mungkin aku nanti malam jemput papa dan mamaku, sekaligus menjemput kamu." kata Hendra sedikit memaksa.
" Besok saja, my king! Suasana Intan kurasa saat ini sangat kacau. Seperti balonnya yang sudah meletus satu, jadi sedih dan kacau. Malam ini biar saya, mendekati Intan, ada apa gerangan yang terjadi sehingga kita terkena imbasnya." kata Winda.
" Oh begitu yah! Baiklah, aku sangat percaya kamu, sayang. Kamu adalah wanita yang bijak dalam menyikapi sebuah permasalahan. Kamu bisa menjadi kakak yang baik bagi Intan." sahut Hendra.
" Huum! Sudahlah! Cepat pulang! Dan hati-hati di jalan, my king!" kata Kata Winda sambil menutup pintu mobil milik Hendra itu.
__ADS_1
" Padahal aku masih belum rela pergi dan pulang dari rumah kamu. Rasanya pingin bobok saja di sana." goda Hendra sambil nyengir.
" Hehe..maunya Abang!" sahut Winda sambil tersenyum geli.