Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
DATANG TIBA-TIBA


__ADS_3

Sarwenda duduk di kursi depan rumah, tepatnya di kursi kayu panjang yang terletak di taman. Sarwenda menantikan rujak cingur sesuai pesanan nya akan datang. Perutnya mulai terlihat membuncit dengan baju longdres panjang sampai dibawah lutut. Terlihat Sarwenda melamun, pandangan matanya kosong melihat warna- warni bunga anggrek yang tertata rapi di dinding-dinding tembok taman itu.


Tiba- tiba seorang pria yang cukup familiar datang menghampiri nya.


" Halo sayang!" sapa laki-laki itu dengan senyuman nya yang mengembang. Dengan membawa paper bag makanan, laki- laki itu memberikan nya pada Sarwenda.


" Astaga! Bikin kaget saja! Kamu naik apa? Ngapain kemari?" ujar Sarwenda sambil melirik ke kanan dan ke kiri.


" Aku harus. memastikan, bahwa kamu dan anakku baik- baik saja. Itu buah kiwi kesukaan kamu. Di makan ya sayang, supaya anak kita sehat." kata laki-laki itu sambil tersenyum sumringah.


" Kamu sudah gila yah, datang kemari. Cepat pulang! Sebelum Intan dan mama tahu akan kedatangan kamu kemari." ucap Sarwenda.


" Kenapa? Tidak ada masalah jika mereka tahu kalau aku datang kemari. " sahut laki-laki itu yang tidak lain adalah Wardha.


" Oke! Oke! Buahnya sudah aku terima dan nanti akan aku makan. Sekarang. cepat pergi dari sini! Aku tidak mau Intan semakin curiga dengan aku." kata Sarwenda mulai panik.


" Tenang saja, sayang! Kalau pun mereka tahu ini adalah keuntungan bagi aku bukan? Aku bisa membawamu keluar dari rumah ini." kata Wardha sambil tersenyum.


" Kamu sudah gila! Pergi dari sini!" Kata Sarwenda.


" Tidak mau! Aku kangen dengan kamu, sayang!" ucap Wardha.


" Kamu sudah gila!" ujar Sarwenda mulai gusar.


" Baiklah! Apa mau kamu?" tanya Sarwenda kepada Wardha.


" Hehehe. Aku ingin mengajak kamu keluar sebentar." kata Wardha.


" Kemana?" tanya Sarwenda.


" Hanya makan saja. Kamu sudah makan belum, sayang?" kata Wardha.

__ADS_1


" Belum! Aku sedang menunggu rujak cingur."ucap Sarwenda.


" Kalau begitu kita nyari makanan itu, yuk!" ajak Wardha.


" Gara- gara kamu nanti, mereka bisa menilai aku buruk karena pergi keluar bersama kamu." kata Sarwenda.


" Bilang saja, kamu mau periksa kandungan. Lagi pula tidak ada yang peduli juga dengan kamu di rumah ini. Apalagi yang akan kamu cari?" sahut Wardha sinis.


" Kata- kata kamu sangat menusuk perasaan ku." kata Sarwenda dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


" Ayolah, sebentar saja kok!" ajak Wardha.


" Kamu pergi lah duluan! Satu jam lagi aku akan segera menyusul." kata Sarwenda akhirnya.


" Nah gitu dong! Baiklah aku pergi yah!" ucap Wardha sambil berlalu pergi dari tempat itu.


" Gila Wardha! Kalau dia sering-sering datang menjumpai aku di rumah ini, rencana ku bisa gagal total." gumam Sarwenda pelan.


" Tidak! Aku tidak akan menyerah dan mengakui kekalahan ini. Masih ada langkah selanjutnya bukan?" Baiklah, setelah langkah terakhir ini tidak berhasil, aku akan mengaku kalah."


ucap Sarwenda dengan pelan.


Sarwenda masuk kedalam rumah nya. Kakinya melangkah menuju kamarnya. Di ambilnya tas dan jaketnya. Kini Sarwenda keluar dan siap untuk berangkat setelah memesan taksi untuk dirinya.


" Mau kemana, Sarwenda?" tanya Intan yang matanya terlihat tajam.


" Oh Intan, adikku sayang. Aku mau periksa kandungan sebentar yah. Apa kamu mau mengantar ku, untuk periksa kandungan ini?" ucap Sarwenda sinis.


" Benarkah? Aku sih ingin juga ikut mengantar kamu loh. Tapi kurasa aku sudah tidak ingin jika bertemu dengan Wardha, kekasih gelap kamu itu." kata Intan penuh sindiran.


" Hah? Kamu bicara apa sih? Wardha? Aku tidak level dengan mantan suami kamu itu, Intan." ujar Sarwenda Sewot.

__ADS_1


" Sarwenda, kamu lupa kalau rumah ini dilengkapi dengan Cctv. Dan di taman itu, di sudut pojok sana, sudah terpasang CCtv. Jadi, siapa laki- laki yang datang membawa paper bag dan bersikap mesra terhadap mu tadi, hah?" kata Intan yang tidak memerlukan jawabannya. Intan sudah sangat jelas jika laki- laki itu adalah Wardha, mantan suaminya.


" Hahaha. Kamu selalu memantau CCtv yah? Lalu kamu cemburu dengan aku yah? Aku ini kakak ipar mu, sayang. Aku adalah istri Mas Surya. Jadi aku tidak mungkin menjalin hubungan dengan Mantan suami kamu. Wardha hanya berbaik hati dengan mantan kakak iparnya dulu. Karena Wardha tahu, di rumah ini hanya dialah yang perhatian dan care terhadapku. Yah, itu dulu. Makanya dia menyempatkan mampir kemari sekedar dan memastikan aku dan kandungan ku baik- baik saja." cerita Sarwenda.


" Betul! Itu lantaran bayi yang kamu kandung adalah anak Wardha bukan?" tanya Intan tanpa ragu- ragu.


" Astaga Intan! Karena kecemburuan kamu terhadapku dan kedekatan ku dengan Wardha, lalu kamu seenaknya menuduhku seperti itu. Ini adalah penghinaan bagi aku, Intan." ucap Sarwenda dengan menunjukkan wajah sedihnya.


" Sudahlah! Pergilah sana! Wardha sudah menunggu mu diluar sana." kata Intan sambil meninggalkan Sarwenda.


" Gila! Hanya Intan yang sudah jelas- jelas tahu kebenaran ini. Ini tidak bisa dibiarkan!" kata Sarwenda pelan.


" Kenapa aku sampai lupa. Kalau di rumah ini banyak sekali terpasang Cctv. Hadeuh! Jangan biarkan Wardha ke rumah ini lagi." gumam Sarwenda.


" Non! Ini rujak cingur nya." kata Pak Mamat yang tiba-tiba muncul mendekati Sarwenda.


" Eh? Letakkan di meja makan! Aku mau pergi sebentar." ucap Sarwenda yang mulai berlaku pergi dari rumah itu setelah taksi itu tiba lalu ia masuk dalam mobil taksi itu.


Pak Mamat hanya diam dan menuruti perintah Sarwenda.


" Ada yah manusia seperti itu! Tidak ada adab nya. Tidak berterima kasih sudah dibeli kan apa yang dia mau. Walaupun sekedar basa-basi pun tidak ada. Istri kedua Mas Surya ini sangat jauh berbeda dengan Mbak Winda, istrinya yang pertama. Dimana- mana orang kaya selalu punya wanita lebih dari satu. Untung saja aku bukan orang kaya. Kalau aku jadi orang kaya, aku bisa memiliki wanita lebih dari sepuluh.. hahaha." kata Pak Mamat yang bermonolog sendiri.


" Sudah pergi yah, Sarwenda? Tanya Intan tiba- tiba.


" Eh? Mbak Intan! Hampir copot jantung saya, mbak." sahut Pak Mamat.


" Jangan khawatir! Jantung Pak Mamat ciptaannya Tuhan. Kalau ciptaan saya, pasti sudah hancur lebur." ujar Intan terkekeh.


" Jadi Sarwenda sudah pergi, Ya Pak?" Intan mengulang pertanyaan nya lagi.


" Iya mbak! Ini rujak cingur yang dipesannya tadi." jawab Pak Mamat.

__ADS_1


" Oh iya, Pak! Terimakasih banyak pak Mamat. Letakkan saja di meja ini. Nanti kalau orangnya datang, nanti juga nyariin makanan nya. Orang pelit gitu kok " kata Intan sinis.


__ADS_2