
" Dari mana Winda!" tanya Surya ketika Winda baru melangkah masuk ke rumah kediaman Pak Hartono.
Surya masih berdiri di depan pintu rumah yang megah dan terlihat mewah itu.
" Dari rumah bapak dan ibu, Mas!" jawab Winda.
" Aku sudah mencari kabar keberadaan mereka di Jakarta ini. Tapi mereka tidak sedang di sini, Winda. Sejak kapan kamu membohongi aku, Winda." ucap Surya dengan suara bergetar.
" Sejak kamu juga mulai bermain rahasia dengan aku, Mas!" jawab Winda dengan pelan.
Mata Winda tidak berani menatap wajah suaminya itu. Baru ini, Winda menjadi istri yang mulai membangkang. Berkata sedikit menyinggung walaupun dengan nada pelan.
"Bermain rahasia? Aku bermain rahasia?" kata Surya sambil menunjuk muka nya sendiri.
" Winda! Kamu bukan wanita yang aku kenal selama ini. Winda yang aku kenal adalah istri aku yang penurut, lemah lembut dan penyabar. Sedangkan kamu? Kamu siapa?" ucap Surya dengan suara lantang.
" Aku Winda, Mas. Winda! Dan masih tidak berubah seperti yang Mas kenal. Aku masih manusia, yang bisa marah dan emosi karena kecewa." ujar Winda masih berusaha menahan luapan amarahnya.
__ADS_1
" Apa yang kau kecewa kan?" tanya Surya bergetar hebat.
Winda hanya diam dan menunduk. Suara lantang yang di keluarkan dari mulut Surya membuat seisi rumah jadi mendengar nya. Mbak Ita segera mengambil Wisnu yang masih ada di gendongan Winda untuk segera masuk ke dalam rumah. Mbak Ita tentu saja bertindak demikian karena atas perintah Bu Hartini yang kebetulan masih berada di rumah.
Winda belum juga masuk ke dalam rumah. Posisi nya masih sama, berdiri mematung di depan pintu. Demikian juga dengan Surya.
Pelan-pelan Winda mendudukkan pantatnya di bawah lantai teras rumah. Kepalanya masih tertunduk tidak menatap Surya. Surya mulai menarik nafas kasar. Di pejamkan matanya sementara waktu. Seharusnya dia tidak memarahi Winda ketika baru datang. Kenapa keributan kecil itu akhirnya terjadi juga.
Surya terlihat menyesal ketika melihat Winda mulai terisak dengan butiran air matanya yang terjatuh. Amarah dan kekecewaan Winda belum mampu di ungkapkan nya. Demikian juga Surya masih belum menyadari akan titik permasalah kenapa Winda pergi dari rumah tanpa ijin dan memberitahukan keberadaan nya kepada yang lain.
" Baiklah! Maaf kan aku, Winda!" ucap Surya sambil mendekati Winda dan mengelus bahu nya. Winda malah semakin terisak. Surya dengan pelan memeluk Winda. Tangan nya mulai membelai lembut kepala Winda.
" Winda! Bukankah selama ini kita saling terbuka? Bukankah kita selalu bercerita jika ada diantara kita ada masalah. Tidak lari seperti yang kamu lakukan sekarang ini." imbuh Surya lagi sambil tetap memeluk dengan hangat Winda.
Winda masih belum bisa bercerita tentang permasalahan hatinya. Winda tidak bisa meluapkan segala kegundahan dan kekecewaan nya terhadap orang yang kini sedang memeluknya. Kehangatan pelukan Surya mampu meredam kemarahan Winda saat ini. Kelembutan yang diberikan Surya mampu mengobati kekecewaan Winda sementara waktu. Iya! Winda memang sangat mencintai suaminya itu. Perjuangannya dengan Surya ketika orang tua Surya menentang hubungan mereka yang menjadikan Winda sangat menghargai Surya kala itu. Tidak mudah jika mengingat masa-masa sulit dari ekonomi yang pas - pas an ketika masih tinggal di kontrakan. Winda tidak akan lupa akan masa- masa indah sewaktu di rumah kontrakan bersama Surya. Kehidupan yang sederhana sudah mereka jalani. Surya masih tetap sama, suami yang bertanggung jawab dan perhatian terhadap Winda. Yang membedakan sekarang adalah, Surya sudah mulai membagi cintanya dengan wanita lain. Dan Winda sudah mengetahui semuanya dengan mata dan kepala sendiri. Kini tinggal pengakuan dari mulut Surya sendiri yang akan membenarkan akan hal itu.
" Ya sudahlah! Kita masuk dulu sayang! Maafkan aku ya, sayang! Nanti kita bicarakan lagi. Kalau kamu saat ini masih belum bisa cerita masalahnya pada ku, tapi janji lah, kamu harus bercerita apa yang menjadi alasan kamu pergi dari rumah ini." ucap Surya sambil mengangkat dan mengajak Winda masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Di dalam rumah, di balik kaca ada Bu Hartini mengintip Surya dan Winda yang sedari tadi di teras. Bu Hartini bukannya tidak peduli tetapi Bu Hartini tidak ingin ikut campur ketika masalah suami istri sedang ada insiden kecil. Baginya ini kurang etis dan dewasa jika dirinya ikut campur urusan masalah kecil itu. Bukankan suaminya lah yang berhak dan menasihati serta mendidik istrinya jika salah? Kewajiban suami lah yang memberitahu jika istrinya salah.
" Winda! Kamu mau memaafkan aku kan?" tanya Surya.
" Memaafkan untuk apa?" tanya Winda mulai mengangkat kepalanya.
"Maaf! Tadi ketika kamu baru datang, aku langsung emosi dan marah. Seharusnya kamu masuk dulu ke rumah dan kita bicara baik-baik di dalam kamar. Sehingga sekeluarga tidak menyaksikan keributan kecil kita ini." kata Surya.
" Tidak apa-apa! Aku memang yang salah. Aku bukan istri yang baik. Aku tidak bisa membahagiakan kamu, Mas. Sehingga....." kata Winda lalu ucapan nya terhenti dan tidak mau meneruskan.
" Winda! Kamu adalah istri aku. Kamu adalah yang paling sempurna di mata aku. Aku sangat menyayangimu lebih dari apapun itu. Kamu sudah memberikan kebahagiaan itu dari memberikan Wisnu untuk aku. Kamu telah membuat kebahagian ku dan keluarga ku semakin sempurna dengan hadirnya Wisnu di tengah-tengah kita." Kata Wisnu menenangkan Winda.
" Sudahlah! Yuk kita masuk!" kata Surya.
" Atau kita keluar sebentar yuk! Kita perlu sedikit waktu untuk berdua dulu sementara waktu. Oke yah! Biar aku ambil dompet dan juga kunci mobil dulu yah, sayang." kata Surya seraya bangkit dan masuk ke dalam rumah.
Winda masih tetap di posisi sama, duduk di lantai teras depan rumah. Kini tangannya mulai menyeka air matanya. Winda ingin marah tetapi kemarahan itu luntur karena sentuhan tangan Surya yang menghangatkan dan memberikan ketenangan jiwa nya. Winda ingin meluapkan apa yang menjadi kekecewaan nya tapi mulutnya seperti terkunci tidak mampu berucap dan berkata- kata. Beberapa kata ataupun kalimat terhenti di tenggorokan nya sehingga membuat sesak dan sesalnya.
__ADS_1
" Seharusnya aku berani bertanya. Seharusnya aku harus berani memulai menanyakan tentang kebenaran itu. Ya Tuhan! Masalah ini harus di buka. Aku tidak ingin, Mas Surya menjadi pembohong dan suka berbohong." batin Winda sambil mengusap air matanya.