
Di rumah Winda, Intan sedang bermain bersama Wisnu. Sore itu, Niga sedang bertandang ke rumah yang berbahan dasar kayu milik Winda. Setelah Surya meninggal, Niga memang sering mampir ke rumah Winda walaupun Winda dan Intan masih disibukkan dengan kerjaan di perusahaan nya. Apalagi Winda, dengan merangkap kerja di perusahaan milik Hendra harus mengikuti perintah dan aturan yang dibuat Hendra. Winda menjadi sibuk dan sangat sibuk dengan pekerjaan yang bercabang dua. Hal ini sangat dimaklumi oleh Intan. Apalagi dari hari Jumat sampai Minggu ini, Winda pamit untuk ke luar kota untuk urusan bisnis di perusahaan milik Hendra.
Saat ini Intan sering menetap di rumah Winda. Dengan tujuan komunikasi tentang bisnis dan urusan perusahaan keluarga akan lebih mudah di sampaikan dengan Winda. Proyek- proyek yang sudah disepakati dan berjalan perlu pengawasan. Intan bersama Winda menjadi wanita tangguh yang bisa diandalkan keluarga besarnya. Walaupun Pak Hartono sudah mulai terjun dan turun tangan kembali ke perusahaan setelah kepergian Surya. Memang Winda belum terlalu memahami soal perusahaan konstruksi, tapi dengan bimbingan Intan dan juga Pak Hartono Winda sudah mulai mengerti dan cepat menguasai masalah dan resiko di perusahaan tersebut.
Terlihat Niga mulai mengikuti Wisnu yang berjalan di pekarangan rumah. Karena baru pandai-pandai nya berjalan dan berlari, Wisnu mulai aktif dan membuat capek yang mengasuh nya.
" Wisnu! Ayo kita tendang bola nya!" kata Niga sambil terkekeh dan mengikuti Wisnu yang berlari mengejar bola.
" Jangan lari- lari dong! Nanti jatuh." teriak Intan yang mulai mengkhawatirkan Wisnu.
Keringat Wisnu mulai basah ke bajunya. Wisnu memang sangat aktif dan tidak mau diam.
" Haha haha. Sudah cukup mainnya, Wisnu. Kamu harus mandi lagi nih." kata Niga sambil menangkap Wisnu dan menggendong nya.
" Mbak Nina! Ganti baju Wisnu dan dilap badannya dengan air hangat saja, mbak." suruh Intan kepada pengasuh Wisnu.
" Baik non!" sahut Mbak Nina sambil mengambil Wisnu dari gendongan Niga.
Niga lalu kembali duduk di bangku kayu panjang yang ada di taman rumah itu. Di sampingnya masih ada Intan yang memegang ponselnya. Diam-diam mengambil momen Wisnu yang sedang bermain dengan Niga sedari tadi.
" Kamu mengambil gambar ku ketika bermain dengan Wisnu, yah?" tuduh Niga tanpa basa-basi.
" Apa? GR sekali kamu!" sahut Intan sambil membuang muka menyembunyikan rasa malunya.
" Iya juga tidak apa-apa. Wajah ganteng ini memang mubazir jika tidak di foto in." ucap Niga semakin menggoda.
" Hah? Percaya diri sekali yah, kamu!" sahut Intan sambil menyembunyikan ponselnya.
" Hahaha!" Niga semakin tergelak tawanya.
" Hem ngomong- omong, kapan mama nya Wisnu pulang?" tanya Niga.
" Sebentar lagi sampai. Barusan sudah saya chat, lagi perjalanan pulang." jawab Intan.
" Oh iya? Mau minum apa, mas?" tanya Intan.
" Tidak usah! Sebentar lagi aku juga mau pulang. Tapi kalau memaksa, boleh saja. Air panas saja." jawab Niga lalu dengan cepat Intan melangkah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
" Dengan sedikit gula dan ditambah kopi hitam, yah!" teriak Niga.
" Apa? Itu namanya minta kopi hitam, Mas!" sahut Intan sambil teriak.
" Hehehe!" Niga malah terkekeh melihat reaksi Intan yang menjadi sewot karena ia kerjain.
" Surya! Kenapa secepat itu kau pergi. Padahal baru kemarin kita berjumpa kembali dan mulai akrab. Surya! Wisnu akan menjadi tanggung jawab ku juga, Surya." kata Niga pelan sambil menatap pohon Kamboja yang berbunga bergerombol itu.
Sebuah mobil putih mulai berhenti di depan gerbang rumah itu. Satpam rumah pun mulai bergegas membuka gerbangnya. Terlihat kaca mobil samping sudah dibuka. Di dalamnya terlihat Winda bersama Galuh. Winda dan Galuh keluar dari dalam mobil itu setelah memarkir mobilnya di halaman rumah Winda.
" Mas Niga! Sudah lama disini?" tanya Winda sambil menjabat tangan Niga.
Galuh mengikuti Winda yang sedang menyapa Niga.
" Lumayan!" jawab Niga singkat.
" Halo mbak Winda! Halo Galuh!" sapa Intan yang datang dengan dua cangkir kopi di tangannya.
" Wah kebetulan sekali. Mbak juga lagi pingin kopi hitam, Intan." kata Winda sambil mengambil satu cangkir kopi yang dibawa Intan.
" Hadeuh! Kenapa gak buat sendiri sih?"keluh Intan.
" Eh? Wisnu dimana?" tanya Galuh yang bergegas masuk ke dalam rumah Winda.
" Di dalam Galuh! Tadi habis bermain- main dan keringatan." kata Intan sambil ikut duduk di dekat Mbak Winda.
" Bagaimana acara di luar kotanya, mbak?" tanya Intan sambil mengambil cangkir kopi yang sudah diminum Winda.
" Melelahkan!" jawab Winda singkat.
" Tapi foto- foto pemandangan yang mbak Winda kirimkan ke aku, terlihat keren habis loh." kata Intan sambil meletakkan kembali cangkir kopi itu.
" Iya memang pemandangan di sana sangat bagus dan adem." cerita Winda.
" Tetapi bos ku yang sangat membosankan." tambah Winda.
" Bos? Abangnya Galuh kah?" tanya Intan penuh selidik.
__ADS_1
" Heem!" sahut Waktu.
" Hati- hati loh Win, entar jadi naksir sama bos kamu!" sahut Niga.
" Eh?" Winda terkejut dengan ekspresi melongo.
" Oh yah? Kamu sudah makan, Tan? Mas Niga sudah makan belum?" tanya Winda sambil berdiri dari tempat duduknya.
" Mbak Winda kalau ingin makan, makan saja dulu mbak!" sahut Intan.
" Tidak! Tidak! Mbak sudah makan waktu perjalanan pulang tadi. Mas Niga suruh makan, Intan. Mbak bawa makanan. Eh iya masih ada di dalam mobil. Sebentar yah!" kata Winda lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
Intan dan Niga menatap punggung Winda sampai tidak terlihat lagi karena masuk kedalam rumah. Niga menatap ada kesedihan yang mendalam ketika melihat Winda.
" Kenapa Surya tega, meninggalkan Winda." kata Niga pelan.
" Kamu bilang apa sih, Mas? Memangnya Mas Surya mau meninggal dunia dengan cepat di kecelakaan maut itu?" ucap Intan dengan melotot matanya.
" Iya aku tahu. Tetapi ini terlalu cepat dan mengagetkan aku. Dan mungkin juga kalian sebagai saudara nya. Bagiku ini sangat menyakitkan. Meninggalkan kita dengan cepat dan sangat mengejutkan. Rasanya seperti mimpi saja." keluh Niga.
Intan memukul jidat Niga dengan telapak tangan nya. Niga spontan menjadi kaget dibuatnya.
" Astaga! Kamu kok gak ada sopan- sopan nya sih. Sama orang lebih tua loh, Intan!" kata Niga gusar.
" Biarin! Mas Niga ini harus cepat disadarkan!" sahut Intan.
" Lho aku sadar kok!" ujar Niga.
" Intan! Aku pamit pulang dulu yah! Tolong sampaikan ke Winda kalau aku pulang." tambah Niga sambil berdiri dari tempat duduknya dan merogoh kunci mobilnya didalam kantong celananya.
" Kok cepat pulang sih! Makan dulu lah, Mas!" ajak Intan sedikit memaksa.
" Lain kali saja deh! Lagi pula di dalam juga ada sahabat Winda kan?" sahut Niga.
" Maksudnya Mbak Galuh? Dia mah sudah seperti keluarga kita sendiri. Mbak Galuh sering kemari dan menginap disini juga kok." cerita Intan.
" Iya! Lain kali sajalah! Aku pamit dulu yah! Sabtu depan aku main kemari lagi." janji Niga.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu. Aku pun tidak suka memaksakan kehendak juga." sahut Intan sambil tersenyum.