
Sarwenda dalam diam dan ratapan tangisan nya.
Jujur....
Dari lama aku telah merasa.
Perasaan lain yang khusus beda dari yang lain.
Aku tahu ini tak pantas.
Karena kamu tiada lagi sendiri.
Kamu telah memiliki pasangan.
Dan berjanji untuk setia.
Aku tahu....
Semua ini salah.
Tak boleh terjadi tapi sungguh terjadi.
Suka denganmu di saat yang tidak tepat.
Rasa ini hadir tanpa rekayasa.
Tumbuh dengan sendirinya.
Usai pandangan kala pertama.
__ADS_1
Bukan aku ingin memaksa.
Bukan pula ingin merusak.
Ketahuilah tanpa kusadari.
Rindu ini mendera rasa ini menyiksa.
Inginku selalu menjumpai mu.
Inginku selalu bersamamu.
Walau kecil kemungkinan untuk kita bersatu.
Karena sudah ada dia diantara kamu dan aku...
Gila...
Mungkin aku memang gila.
Membunuhnya pun aku tiada daya.
Ingin nekat apakah aku bisa.
Mendambakan mu aku selalu.
Menunggu mu sampai tiba sang waktu.
Kenyataan bersatu dengan mu impianku.
Meski menjadi yang kedua itu rela ku.
__ADS_1
Biarlah aku pasrah rela menerima.
Asal bisa bersama mu.
Isak tangisnya mulai lirih terdengar. Sarwenda mengusap air matanya yang deras di kedua matanya. Hati nya sesak dan perih. Cintanya seperti bertepuk sebelah tangan dengan Surya. Surya yang notabene adalah suami Winda. Surya bukanlah seorang pemuda single yang bebas menentukan pasangannya. Surya sudah berkeluarga. Lalu kenapa Sarwenda memaksakan hatinya bertahan dengan satu nama itu.
Sarwenda paham. Ini sangat sulit untuk menata hatinya. Sedangkan Surya memang tidak berkehendak dengan dirinya. Surya menganggap nya sebagai rekan kerja. Tidak lebih dari rekan bisnis semata. Tetapi rasa sayang dan suka nya akan menjadikan dirinya nekat melakukan apa saja. Sarwenda harus dapat memiliki Surya bagaimana pun caranya. Hatinya sudah terpaut dengan nama itu. Bayangan Surya selalu menari - nari dari ingatan dan kelopak matanya.
Sarwenda jadi kurang tidur, tidak selera makan dan males gerak. Semua karena obsesinya kepada Surya. Jatuh cinta membuat seseorang jadi gila. Jatuh cinta membuat dirinya lupa. Jatuh cinta menjadikan pribadi yang beda. Orang hanya bisa menilai. Betapa sulitnya bersinergi ketika seseorang yang di cintai nya tidak berbalik sambut balas. Hal itu menjadikan terjatuh dalam kesedihan yang mendalam.
Sarwenda mengambil ponselnya. Di carinya satu nama yang membuatnya resah tak karuan. Nomer itu adalah nomer Surya yang didambakan nya.
" Surya! Halo! Datanglah ke rumah aku Surya. Please!" ucap Sarwenda memaksa dengan manja.
" Aku gak bisa Sarwenda. Aku harus menemani Winda periksa kandungan nya." kata Surya di seberang sana.
" Aku gak buru - buru kok. Setelah mengantar Sarwenda, kamu bisa datang ke rumah aku. Aku perlu kamu. Aku sakit!" rengek Sarwenda.
" Bukankah ada pembantu di rumah kamu?" ujar Surya.
" Aku perlu kamu Surya! Kalau kamu gak datang ke rumahku. Aku nekat datang ke rumah kamu, dan menjumpai istri kamu." ancam Sarwenda.
" Eh?? Kamu mau menjumpai istri aku mau ngapain?" tanya Surya.
" Aku akan bilang, kalau aku pacar kamu dan sedang hamil anak kamu... hehehe." ucap Sarwenda.
" Istriku tidak akan percaya hal itu, Sarwenda!" sahut Surya.
" Apa? Kamu menantang aku, Surya! Aku bisa membuat Winda percaya padaku loh!" tantang Sarwenda.
" Oke! Oke! Nanti aku ke rumah kamu! Puas kamu!" ucap Surya gusar lalu memutus panggilan masuk dari Sarwenda.
__ADS_1
Sarwenda tersenyum puas. Keinginan nya bertemu dengan Surya akan menjadi nyata. Kini Sarwenda bangkit dari ranjangnya. Semangat nya mulai menyala. Dia gak ingin kelaparan. Dengan lemas, Sarwenda melangkah ke belakang ke arah dapur untuk mengisi perutnya.
Cinta memang buta dan membutakan hati dan akal. Semua mempengaruhi semangat dan langkah seseorang ketika hilang semangat dari seseorang yang di cintai nya. Iya! Cinta memang bisa menghipnotis perasaan. Jadi gila,lupa, dan menjadi sosok dan karekteristik yang berbeda.