Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
KENA LOH!


__ADS_3

Sepi...dalam kabut gelap yang berarak-arak. Berjalan perlahan menutupi awan putih yang bersinar. Mentari pun tidak lagi bersinar lagi. Awan hitam kini terpampang jelas. Bukan duka masih tersirat. Bukan kesedihan yang tersembunyi. Kerinduan masih disini. Walaupun bersama kamu, dalam dekat ini. Terasa jauh tak terkenali. Yah, asing dan terasa beda. Seperti kamu, bukanlah dirimu lagi.


" Woy! Winda!" teriak Galuh yang sengaja membuat kaget Winda.


Spontan saja, Surya yang sedang menyetir jadi ikut terperanjat dan melihat ke arah Winda dari kaca spion.


" Melamun kan apa sih? Suami kamu loh ada di depan kamu sedang menyetir." kata Galuh sambil terkekeh dan melihat ke arah Surya yang masih konsentrasi menyetir mobilnya.


" Tidak ada! Aku...aku tidak melamun kok. Oh iya, bagaimana cerita soal Andrie dan Niga?" akhirnya Winda mengalihkan pembicaraan.


" Winda! Jangan diungkap di sini dong! Malu dengan Surya." sahut Galuh dengan rona merah mukanya karena malu.


" Ada apa ini? Andrie? Niga anak BEM ketika di kampus dulu kah?" tanya Surya.


" Betul mas! Mas Surya masih ingat?" jawab Winda yang santai.


Sejenak Winda lupa akan masalah yang terjadi diantara dirinya dengan Surya, suaminya. Sejenak Winda bisa mencairkan kebekuan dalam jiwanya. Sejenak Winda bisa mencairkan suasana agar hubungan mereka seperti tidak terjadi apa-apa. Memang Winda tipikal yang mudah memaafkan, ketika orang yang bersangkutan telah meminta maaf. Tetapi bukan berarti cepat melupakan sesuatu yang sudah menyakiti hati nya.


" Tentu saja ingat dong, sayang! Dimana Niga sekarang?" tanya Surya sambil melirik ke arah Galuh.


Galuh hanya tersipu malu karena di serang pasangan suami istri yang pura-pura baik n romantis itu (Hahaha).


" Winda? Ah sudahlah! Aku bobok sajalah!" kata Galuh sambil berusaha merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya ke pangkuan Winda.


" Aku juga tidak tahu mas! Hahaha! Lebih jelasnya tanyakan saja pada Galuh." jawab Winda sambil terkekeh.


" Sudahlah jangan dibahas lagi, Niga sudah hidup bahagia dengan istri dan anak- anaknya." sahut Galuh sambil menutupi wajahnya yang malu.


" Kamu menyukai Niga, Luh? Sejak kapan?" tanya Surya.


" Dulu! Sekarang tidak lagi!" jawab Galuh spontan.


" Baguslah!" ujar Winda sambil nyengir dan melihat punggung suaminya, Surya.


" Eh?" kata Surya pelan yang melihat ekspresi wajah istrinya, Winda yang penuh sindiran.


" Laki- laki single banyak kok yang mendekati aku. Kenapa aku harus memilih Niga?" ungkap Galuh dengan munafik nya.

__ADS_1


" Benarkah?" sahut Winda sambil terkekeh.


" Iya benar! Aku tidak akan menyakiti hati wanita lain dengan merampas suaminya. Aku tidak akan merusak keluarga yang sudah harmonis dan indah bersama anak dan istri nya." kata Galuh bersemangat.


" Amin! Syukurlah kalau kamu punya pendirian dan prinsip demikian." ucap Winda sambil melihat ke arah Surya, suaminya.


Surya merasa tersindir dengan ucapan istrinya itu. Terlihat Surya menarik nafasnya dalam- dalam lalu membuangnya dengan kasar.


" Tapi ketika jatuh cinta datang untuk kedua kalinya, apakah kita bisa menepis dan menolaknya. Jika godaan itu begitu hebatnya. Dan ketika cinta lama itu bersemi kembali setelah sekian lama menguburnya, apakah kita akan berlari menjauhinya jika itu terlihat begitu indah." kata Surya seolah-olah membela dirinya.


" Oh begitu? Jadi dengan Sarwenda, kamu sudah jatuh cinta juga yah, Surya?" tanya Galuh yang seperti menohok Surya.


Surya seketika menjadi tidak bergeming. Diam seribu bahasa.


" Eh? Eh maksud aku, ini untuk kamu Galuh. Aku tidak membahas soal hubunganku dengan wanita itu." jawaban Surya akhirnya dengan penuh keberanian.


" Hemm? Galuh? Sudahlah jangan diperpanjang yah." sahut Winda berusaha mencairkan suasana.


" Eh mas! Aku ingin rujak serut itu. Bolehkan aku makan rujak, untuk kali ini saja." kata Winda yang berusaha menggali pembicaraan dan membuat situasi tidak tegang.


" Winda! Kamu lagi menyusui loh, sayang!" sahut Galuh sambil kembali duduk dengan tegak di kursi mobil itu.


" Hah? Surya! Aku sebagai sahabat Winda! Akulah orang pertama yang akan marah dan tidak terima jika kamu berulah lagi. Cukup sekali saja kamu mengkhianati Winda. Dan hadirnya Sarwenda di dalam keluarga kamu saja sudah bikin meradang aku." ucap Galuh dengan emosi jiwa.


" Eh Galuh! Sudah jangan diungkit-ungkit lagi dong!" sahut Winda yang menatap ke arah Surya dengan perasaan yang tidak enak hati.


" Tidak! Tidak! Aku sudah berjanji dengan Winda. Aku tidak akan melakukan pengkhianat lagi. Aku tidak akan Mela kesalahan yang sama untuk kedua kalinya." ujar Surya sambil menepikan mobilnya.


" Ma... maaf mas! Maafkan Galuh mas! Galuh memang ceplas-ceplos orangnya."kata Winda yang tidak enak hati.


Mobil sudah berhenti, mereka keluar dari dalam mobil itu. Suasana menjadi kembali kaku setelah Galuh mengungkit permasalahan yang terjadi diantara suami istri itu.


" Aku minta maaf sayang! Janji aku bisa dipegang. Demi langit dan bumi aku bersumpah. Akan selalu menjaga kamu dan setia terhadap kamu, Winda." kata Surya dengan suara yang cukup keras supaya di dengar oleh Galuh.


" Hah!! Baiklah aku lah yang menjadi saksi nya. Awas saja kalau kamu mengingkari janji itu!" ancam Galuh sambil membuang nafasnya kasar.


" Kita makan dulu saja yah! Galuh seperti nya sudah lapar. Dia mau makan orang saja dari tadi. Dan sasaran nya, adalah aku." kata Surya sambil menggandeng tangan Winda.

__ADS_1


" Weleh! Sok romantis!" sahut Galuh masih sewot.


Mereka berjalan dan masuk menuju sebuah rumah makan yang siap saji. Galuh yang masih sewot dan penuh dengan emosi mengikutinya keduanya dengan malas.


" Eh Galuh! Bukankah itu Niga?" kata Surya dengan suara keras.


" Eh?" ( Deg) seketika Galuh terasa tiba- tiba terdiam karena merasakan jantungnya berdetak kencang. Wajahnya mulai merah padam.


Surya dan Winda seketika menatap wajah Galuh yang berubah ekspresi nya. Surya mulai terkekeh dengan perubahan sikap dari Galuh.


"Hahaha!" Surya tertawa dengan suara keras karena Galuh tidak berkutik dengan situasi tersebut.


" Mas! Benarkah itu Niga?" tanya Winda yang penasaran.


" Tentu saja aku tidak akan lupa wajahnya, sayang. Coba tanyakan saja dengan Galuh. Benar tidak kalau itu Niga sedang duduk dengan rekannya. Biar aku ke sana dulu yah, sayang. Kamu dan Galuh duduklah di sini dulu dan pesan makanan nya." kata Surya sambil melangkah mendekati Niga yang sudah duduk menikmati makanan yang ada di rumah makan itu.


" Galuh! Benarkah itu Niga?" tanya Winda pelan.


" Hah? Iya benar! Surya puas sekali meledek aku. Sial! Aku pergi sajalah dari tempat ini." kata Galuh sambil berdiri dari tempat duduknya hendak pergi meninggalkan tempat itu. Tetapi Winda dengan cepat menarik tangan Galuh.


" Sayang! Jangan dong! Cuek sajalah, Galuh." kata Winda dengan tawa yang tertahan.


" Winda! Kamu kan tahu dengan jelas. Begitu berat dan susahnya melupakan dan menepis rasa dan perasaan cintaku ini terhadap Niga. Dan sekarang? Malah di pertemukan di sini." keluh Galuh.


" Dengan adanya Andrie, aku berusaha melupakan Niga dan menepis Niga. Karena aku tidak ingin menyakiti siapapun termasuk istri dan anak-anaknya kelak." ungkap Galuh.


" Iya, aku tahu sayang! Duduklah! Semua akan baik-baik saja." kata Winda berusaha membuat tenang Galuh.


" Hah? Jujur, jantung aku tidak bisa aku kondisi kan." kata Galuh dengan jujur.


" Ya sudah! Tarik nafas dalam-dalam dan buang dengan pelan- pelan." kata Winda.


" Hahaha!" kembali Winda jadi terkekeh dengan melihat sikap dan perubahan dari Galuh yang mulai salah tingkah.


" Winda?? Kamu jangan jahat dong!" keluh Galuh dengan merengek dan memegang tangan Winda seperti minta kekuatan.


"Astaga! Dingin sekali tangan kamu! Hahaha!" kembali Winda terkekeh, Galuh hanya melotot ke arah Winda.

__ADS_1


" Iya maaf! Sudah tenang saja kamu! Aku pesankan makanan dan minuman dulu ya!" tambah Winda akhirnya sambil membuka buku menu yang ada di atas meja.


__ADS_2