
Tanaman padi tumbuh subur di lahan. Terlihat menguning seperti emas. Berpayung kan langit biru yang luas. Dengan hamparan sawah berpetak- petak. Petani kecil siap menuai hasilnya.
Pandang- pandang jauh memandang. Dengan harapan dan angan-angan kosong yang ingin terwujudkan. Meraih mimpi- mimpi indah bersamamu walaupun sesaat. Menggenggam tangan mu yang hangat. Memeluk cita cinta itu bersama. Setidaknya biar tenang jiwa ini menggapai mu yang lama terpendam. Rasa cinta dan rindu yang sepantasnya kau balas.
*******
" Winda sayang! Niga dan Galuh sudah pulang." kata Surya sambil meraih tangan Winda yang sebelumnya sibuk dengan laptop nya.
" Mas! Besok laporan ini harus diserahkan ke pimpinan ku." ucap Winda seolah membuat alasan halus untuk menolak perlakuan hangat dari Surya.
" Ayolah Winda sayang! Jangan merajuk terus sepanjang hari ini. Aku sungguh tidak kuat jika engkau seperti ini terus." kata Surya dengan memohon.
" Tidak mas! Aku sudah tidak apa-apa. Saat ini aku sedang mengerjakan laporan ku." kata Winda.
" Benarkah?" tanya Surya sambil memeluk lebih erat Winda.
" Mas! Aku tidak bisa kerja nih!" ujar Winda berusaha merenggangkan tubuh nya.
" Tidak! Tidak aku lepas pelukan ini sebelum kamu membalasnya." kata Surya dengan manja.
" Hadeuh!" sahut Winda akhirnya berbalik badan ke arah Surya.
" Kamu mau apa mas?" tantang Winda
" Setidaknya beri aku ciuman mesra dong!" rengek Surya seperti anak kecil.
Winda dengan cepat mengecup kening suaminya itu.
" Eh? Hanya itu saja, sayang?" tanya Winda.
" Lalu apa lagi mas? Aku selesai kan tugasku ini dulu yah!" kata Winda sambil tersenyum.
" Nah begitu dong. Kalau kamu tersenyum itu artinya kamu benar-benar tulus memaafkan aku." kata Surya.
" Iya! Aku memaafkan kamu. Lain kali tidak akan lagi kata maaf." sahut Winda.
" Eh? Hehe. Baiklah aku mau lihat Wisnu dulu,sayang. Nanti kalau aku datang, ku harap kamu sudah siap ya!" ucap Surya dengan suara menggoda.
" Siap apa?" tanya Winda.
" Tuh kan! Jangan pura-pura tidak tahu yah. Apakah harus aku ajari lagi?" ujar Surya.
" Tidak! Tidak! Sudahlah sana katanya mau lihat Wisnu." usir Winda sambil mendorong tubuh Surya.
" Hehe iya..iya..." kata Surya dengan berat meninggalkan istrinya itu dan melangkah keluar dari kamarnya.
*****
Pagi hadir dengan cuaca yang cerah. Bersama sinar mentari yang mulai mengintip dibalik awan. Sisa- sisa embun pagi yang menetes di dedaunan. Masih terasa sejuk udara di sekitar. Bening embun sebening kasihnya. Tiada bisa diukur cinta kasihmu yang tulus. Ku harapkan semua berakhir bersamamu. Menua bersama dengan kasih kita. Langgeng dan selalu sebagai sahabat dalam berbincang. Mengeluhkan segala kesah kehidupan yang berat. Aku akan meringankan semua derita itu. Dengan perhatian tulus itu. Semoga saja, badai dan goda akan mudah kita lalui bersama- sama. Saling memaafkan jika kita selalu berbuat salah. Karena hidup bukanlah melulu disibukkan mencari kesempurnaan. Saat ini, sekarang ini dan esok nanti kamulah yang sempurna di mataku selain yang Maha sempurna itu.
" Sayang! Aku berangkat dulu yah! Dua hari ini aku akan mengurus proyek yang di luar kota itu. Kamu tidak apa-apa kan,jika aku tidak pulang?" kata Surya sambil memeluk Winda dari belakang saat Winda masih bersolek.
__ADS_1
" Hah? Tapi tidakkah ada yang mewakilinya? Kenapa harus kamu sendiri yang terjun ke sana, mas?" tanya Winda penuh kekhawatiran.
" Eh? Kamu sedang mengkhawatirkan aku yah, sayang?" goda Surya.
" Perasaan ku lagi tidak enak, mas!" sahut Winda sedih.
" Kenapa? Atau aku tunggu kamu saja. Biar aku antar kamu ke kantor. Bagaimana?" ucap Surya.
" Tidak usah mas! Aku bisa nyetir sendiri,mas." sahut Winda.
" Okelah. Kamu tidak perlu khawatir. Aku pergi sama Pak Koko ke luar kota nya kok." kata Surya.
" Iya. Tapi harus hati-hati dan waspada. Kalau mengantuk bagus istirahat terlebih dahulu. Jangan dipaksakan mengemudi, mas." ucap Winda sambil membalikkan badannya.
Kali ini Winda melingkarkan kedua tangannya ke leher Surya. Winda mulai bergelayut manja dengan suaminya itu.
" Winda! Aku mencintai mu. Mencintai kamu dengan kesederhanaan kamu." kata Surya serius.
" Iya aku juga mencintaimu, mas." sahut Winda sambil tersenyum tulus.
"Kita sarapan dulu, yuk!" ajak Winda.
" Kamu sudah siap, sayang?" tanya Surya yang melihat istrinya sudah ready dengan penampilan nya yang tertutup.
" Sudah!"jawab Winda.
" Pasti aku akan kangen kamu!" ujar Surya.
" Cuma dua hari kan?" sahut Winda.
" Mulai pandai merayu yah?" kata Winda.
" Ayolah! Kita sarapan!" kata Surya sambil menarik tangan Winda keluar dari kamar itu.
" Mas! Ponselnya berbunyi." kata Winda yang melihat ponsel milik Surya masih berada di atas meja rias nya.
" Eh iya! Hampir saja lupa tidak terbawa ponselnya. Eh dari mama." kata Surya sambil berjalan bersama Winda ke meja makan.
" Halo mama sayang!" sapa Surya setelah mengangkat panggilan masuk itu.
" Ada apa mamaku yang cantik? Tumben pagi- pagi telepon?" imbuh Surya.
" Kamu lagi ngapain?" tanya mama di seberang sana.
" Ini mau sarapan dengan Winda." jawab Surya sambil duduk di kursi makan setelah mereka sampai di ruang belakang rumah mereka.
"Oh gitu yah. Kalau begitu nanti sajalah mama telepon lagi. Kamu di enakkan dulu sarapan paginya." kata Bu Hartini di seberang sana.
" Tidak apa-apa mama. Ada apa? Jadi penasaran nih." ucap Surya sambil melihat ke arah Winda yang sedang mengambilkan makanan untuk suaminya.
" Benar tidak apa-apa kalau mama telepon kamu? Tidak menggangu kah?" tanya Bu Hartini.
__ADS_1
" Iya mamaku yang cantik!" sahut Surya.
" Begini Surya. Sarwenda sudah meninggalkan rumah." kata Bu Hartini memulai cerita.
" Maksud mama?" tanya Surya.
" Iya, Sarwenda sudah tidak pulang ke rumah mama lagi. Barang- barang nya sudah di angkut semuanya oleh pembantu nya." cerita Bu Hartini.
" Itu berita bagus dong, ma!" sahut Surya semangat.
" Surya! Ketika kemarin Sarwenda ke sana, adakah perlakuan kamu yang menyinggung perasaan nya? Atau kamu berbuat kasar dengannya?" tanya Bu Hartini penuh selidik.
" Kalau soal itu, nanti sajalah aku ceritakan semuanya." sahut Surya.
" Tidak bisa! Mama harus tahu jelasnya. Kenapa Sarwenda jadi berbelok arah dengan kemauan nya yang ingin dinikahi oleh kamu." kata Bu Hartini.
" Mama! Bukankah itu bagus kan,ma! Jadi aku dan Winda bisa hidup tenang tanpa gangguan Sarwenda lagi." ucap Surya sambil melihat Winda.
" Surya! Kita orang dewasa. Semua masalah harus selesai tuntas dan jangan ada sakit hati atau dendam dikemudian hari." sahut Bu Hartini.
" Tidak akan ada apa- apa, mama! Mama jangan khawatir." ujar Surya.
" Mama! Aku harus sarapan, ma! Harus cepat berangkat ke kantor. Dan aku pamit sekalian ma. Hari ini aku ke luar kota bersama Pak Koko melihat proyek yang sudah berjalan itu." kata Surya.
" Apakah Intan juga ikut?" tanya Bu Hartini.
" Intan? Saya tugaskan mengganti kan saya di kantor dulu,ma." jawab Surya.
" Oh iyalah. Kamu baik- baik ya sayang. Jangan lupa makan!" kata Bu Hartini.
" Siap, mama sayang!" sahut Surya bersemangat.
" Ya sudah! Salam buat Winda." ujar Mama.
" Iya mama, waalaikum salam kata Winda. Ini sedari tadi saya louspeker kok." ucap Surya.
" Ya sudah. Assalammualaikum!" kata Bu Hartini sambil menutup panggilan keluar nya.
" Waalaikum salam!" jawab Surya.
" Alhamdulillah!" kata Surya sambil menarik nafas dalam-dalam.
" Kenapa Alhamdulillah, mas?" tanya Winda menggoda.
" Perlukah aku jawab, sayang?" tanya Surya tersebut lebar.
" Hehe. Ya sudah makan yang banyak. Bukankah kamu lagi bahagia dan puas kan mas?" goda Winda.
" Puas? Kalau soal puas, puas sekali semalam." Surya ikut menggoda Winda.
Winda jadi tersenyum malu sambil menoel pinggang suaminya itu.
__ADS_1
" Aku harap kita bisa seperti ini terus." kata Surya tersenyum bahagia melihat Winda.
" Aamiin!" sahut Winda.