Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
MENUNGGU SURYA


__ADS_3

Di dunia ini,siapa yang paling kamu percaya? Janji siapa yang bisa menyakinkan dan bisa dibuktikan? Kalau aku percaya dengan Janji Nya. Kebenaran yang sudah tersurat dalam kitabNya sudah sangat jelas menjabarkan dan menguraikannya. Di dalamnya ada kandungan yang masih tersirat. Masing-masing orang akan menelaah dan menafsirkan ayat ada letak beda. Tergantung pemahaman dan kuasa Nya memberikan Nya petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya.


Segala sikap manusia yang selalu berubah membuktikan manusia selalu mengalami ke labil an dalam iman dan kepercayaan. Manusia pun mengalami masa transformasi otak dan pikirannya. Ketika orang dalam masa lelah akan berbeda dengan ketika manusia itu dalam kondisi segar bugar.


Manusia akan semakin stress ketika mendapati sekitarnya menyudutkan dirinya. Emosi yang tidak stabil akan menjadi pemicu perubahan tingkat amarah dan emosi.


*******


" Pak Hartono! Mohon maaf sebelumnya. Dalam hal ini bukan berarti saya ingin mendesak putra bapak untuk segera menikahi putri saya yang sedang hamil. Tetapi Pak, sebagai pria yang gentleman,terpandang, dan penuh tanggung jawab,seharusnya akan bertindak yang benar. Saya memaklumi ketika gejolak muda dititik puncak. Akal sehat dan hati kecil tidak lagi didengar. Yang ada hanya memperturutkan hawa nafsu semata. Saya ingin, Pak Hartono berlaku bijaksana dalam hal ini,jika nak Surya terbukti bersalah dan melakukan nya." kata Pak Danu panjang lebar tapi dengan nada yang pelan- pelan dan bersahabat.


" Baiklah kalau demikian! Pernikahan itu akan terjadi setelah anak yang dikandung putri bapak nyata- nyata adalah anak putra saya. Dan itu berarti cucu saya juga. Maaf Pak Danu, untuk saat ini tidak ada pernikahan kedua dari anak saya, Surya." ucap Pak Hartono.


" Ma! Surya sudah sampai mana, coba mama telepon?" bisik Pak Hartono kepada Bu Hartini.


" Baiklah Pa! Saya ke belakang dulu. Papa mau dibuatin minum apa?" kata Bu Hartini.


" Kopi hitam saja ma!" jawab Pak Hartono sambil berbisik pelan.


Bu Hartono bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke belakang. Pak Danu dan Sarwenda masih duduk diam di kursi empuk itu. Pandangan Pak Hartono ke mereka seperti menelanjangi dan siap menerkam jika salah bicara.


Surya dan Winda pun belum juga sampai di rumah. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Hampir seharian, Winda dan Surya menikmati hari Sabtu itu.


" Papa! Bagaimana kalau Pak Danu dan Sarwenda sama- sama makan malam terlebih dahulu dengan kami. Sambil menunggu Surya dan Winda kembali." kata Bu Hartini tiba- tiba sudah datang dengan secangkir kopi hitam kesukaan suaminya itu.


" Bagaimana Pak Danu? Kita makan dulu, bagaimana?" tanya Pak Hartono.


" Tidak perlu pak! Kami menunggu disini saja dulu pak!" jawab Pak Danu sambil melihat Sarwenda.


" Assalammualaikum!" sapa Surya dan Winda dari depan pintu masuk lalu bergegas masuk ke rumah.

__ADS_1


" Waalaikum salam!" sahut beberapa orang yang sedang duduk di ruang tengah itu.


Winda dan Surya menjabat tangan kedua orang tuanya, Pak Hartono dan Bu Hartini. Lalu ke duanya memberi salam Pak Danu dan Sarwenda. Surya berusaha menyembunyikan keterkejutan nya tatkala melihat Sarwenda sejak dari masuk rumah. Pikirannya sudah mulai tidak tenang. Ancaman yang sering dilontarkan Sarwenda terhadap dirinya,kini akan segera terjadi. Winda,istrinya akan tahu kebenaran nya. Kesalahan yang sudah pernah ia perbuat kini akan terbongkar juga. Surya hanya pasrah dengan situasi itu.


" Pa, ma! Winda ke kamar dulu ya!" ucap Winda dengan tenang menyembunyikan tanda tanya besar di kepalanya.


Bukan tidak mengetahui perubahan sikap Winda dengan melihat adanya tamu itu, Bu Hartini pun tidak kuasa menghadapi situasi yang akan di puncak permasalahan dan mungkin saja akan diselesaikan malam ini juga.


" Iya Winda,sayang! Tapi setelah kamu bersih- bersih dan berganti baju, mama harap kamu juga ikut bergabung di sini ya,sayang. Kita selesaikan semuanya disini." ucap Bu Hartini.


" Mama!" sahut Pak Hartono.


" Jangan khawatir Pa! Selama ini, Winda pun sudah mengetahui semuanya, semua yang telah diperbuat oleh Surya,putra kita." kata Bu Hartini pelan.


" Hah?" sahut Pak Hartono terkejut.


" Ma! Aku pun bisa masuk ke kamar tidak?" kata Surya pelan.


" Papa! Paling tidak,aku cuci muka dulu, ganti baju." bela Surya yang sebenarnya ingin lebih rileks dulu ketika dirinya akan dihakimi.


" Tidak apa-apa nak Surya! Silahkan kalau mau bersih- bersih terlebih dahulu. Kami masih sabar menunggu kok." kata Pak Danu.


Tampak Sarwenda masih tidak banyak bicara. Sarwenda masih diam dan terkadang menunduk tidak berani menatap keluarga Pak Hartono, apalagi menatap Winda.


"Nah, terimakasih banyak Pak Danu! Pa,ma, Surya ke kamar dulu sebentar, setelah ini, aku mau diapain saja sudah siap deh. Aku ingin menenangkan Winda,istri aku juga Pa, Ma!" ucap Surya.


" Iya sana cepat!" sahut Bu Hartini agak emosi.


Surya segera bergegas masuk ke kamarnya. Dia tidak ingin Winda tahu semuanya dari Pak Danu atau pengakuan dari Sarwenda atau mendengar semua melalui percakapan itu. Surya ingin, Winda mengetahui semuanya dari cerita nya. Iya cerita versi nya yang harus dipercaya dan diterima oleh Winda, bukan dari orang lain.

__ADS_1


Surya sudah mendapati Winda selesai berganti baju dan selesai dari kamar mandi. Kini Surya melakukan yang sama. Setelah itu, Surya bergegas mendekati Winda yang duduk di pinggir ranjangnya.


" Winda sayang!" ucap Surya pelan sambil meraih dan menggenggam tangan Winda. Winda sudah terdiam dan ekspresi nya mulai diliputi kesedihan. Bukan tidak tahu akan kedatangan Sarwenda ke rumah ini. Tapi dengan datangnya Sarwenda bertamu itu pun sudah bikin panas hati Winda.


" Winda sayang! Aku akan mengakui semuanya dan akan jujur kepada kamu, sayang. Tapi aku mohon kepada kamu, Winda. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari aku ketika aku sudah bercerita ini." kata Surya yang duduk berjongkok di bawah Winda sambil menggenggam tangan Winda.


" Winda, kamu jangan diam saja. Bicaralah atau marahlah jika kamu ingin marah kepada aku." tambah Surya sambil menatap wajah Winda dengan penuh harap dan permohonan.


" Bicara lah mas! Aku akan diam dan mendengar nya!" kata Winda akhirnya.


Surya terlihat menarik nafasnya pelan- pelan. Tangan nya masih menggenggam tangan milik Winda seolah tidak ingin jika Winda lari dan pergi meninggalkan nya.


" Winda sayang, dari dulu sampai sekarang aku sungguh- sungguh menyukai kamu. Perjuangan untuk mendapatkan dan menikahi kamu masih jelas aku ingat. Aku tidak akan melupakan semua kesakitan dan kepayahan diwaktu itu. Tapi Winda, aku sangat menyesali segala sesuatu yang sudah aku lakukan. Ku mohon,Winda maafkan kesalahan aku itu dan jangan menjauhi dan pergi dari aku." kata Surya Lalu menarik nafas dalam-dalam.


" Aku sudah menikah siri dengan Sarwenda. Dengan membayar wali hakim kami melangsungkan pernikahan itu. Itu terjadi karena aku telah masuk perangkap dan melakukan sesuatu dengan Sarwenda di malam itu. Aku mabuk dan tidak sadar apa yang telah aku lakukan. Semua terjadi begitu saja." cerita Surya lancar tanpa terbata.


Wind masih diam tidak menunjukkan keterkejutan nya.


" Kamu tidak terkejut, sayang?" tanya Surya dan malah Surya yang kini seperti terkena prank.


" Sudah yuk! Kita keluar dan bergabung dengan mereka!" sahut Winda lalu bangkit dari duduknya.


" Sayang!" panggil Surya dengan wajah yang penuh tanda tanya.


" Winda sayang! Kamu marah dan tidak mau memaafkan aku?" tambah Surya.


" Kita bicarakan di luar saja, Mas! Ayo kita gabung dengan mereka. Kasihan Sarwenda dan papinya Menunggu kita sudah cukup lama. Kita selesaikan bersama disana. Apa yang sebenarnya mereka ingin sampaikan. Bukankah kamu juga belum tahu, maksud kedatangan mereka berdua bukan?" ucap Winda tegas.


" Eh? Iya betul! Jadi akulah yang akan di hakimi oleh kalian semua. Baiklah aku siap!" ucap Surya sambil menarik nafas dalam-dalam.

__ADS_1


Winda mengusap lembut punggung milik suaminya itu.


" Kamu bisa menghadapinya mas! Karena kamu sudah berbuat dan meledakkan bom permasalahan itu." kata Winda sambil melangkah keluar dari kamarnya diikuti oleh Surya.


__ADS_2