
Nikmatnya tidur ketika kita merasakan kantuk. Nikmatnya makan saat kita merasa lapar. Nikmatnya minum tatkala haus melanda. Nikmatnya bercinta ketika kita sama- sama merasakan tulus ikhlas berbagi dengan pasangan. Nah, itu dia!
" Kamu lapar gak, Luh?" tanya Winda sambil yang menggendong Wisnu dalam dekapan nya. Wisnu mulai tersenyum menatap Galuh. Tawanya mulai khas terdengar.
" Ayolah makan! Tidak usah kamu tanya aku lapar atau tidak. Ya kan, Wisnu sayang! Tertawa yang keras dong!" kata Galuh sambil menggoda Wisnu yang ada di gendongan Winda.
Saat ini mereka ada di dalam rumah Winda. Mereka paling hobby duduk di belakang rumah dekat meja makan. Di sana ada taman kecil untuk bersantai. Dengan kolam ikan menambah kesan hidup taman tersebut. Suara gemericik air kolam menambah suasana duduk di bangku taman itu lebih tenang.
" Kamu ingin makan apa? Hari ini mbak Ita masak kari ayam dengan tempe mendoan nya." kata Winda.
" Itu juga mantab. Tetapi aku lagi ingin bakso. Dengan sambal mercon nya biar bibir makin dower." ucap Galuh sambil membayangkan makan bakso di cuaca yang dingin karena hujan deras di malam itu.
" Baiklah! Kita beli bakso saja. Kita bisa minta tolong pak satpam di luar untuk beli bakso di seberang jalan rumah itu. Bakso dekat rumah juga tidak kalah enaknya kok." kata Winda.
" Oke! Tidak apa-apa." sahut Galuh.
" Aku ke depan dulu yah. Mau minta tolong ke pak satpam." ujar Winda.
Dingin cuaca malam karena hujan. Menambah kesunyian hati karena kerinduan dengan nya. Aku harapkan kau secepatnya datang. Menghampiri ku dalam belaian hangat tanganmu yang lembut. Jiwaku akan resah tatkala kita saling berjauhan. Menahan rindu yang segera ingin ter tunaikan dengan pertemuan.
" Halo!" ucap Galuh tatkala panggilan masuk di ponselnya sudah diangkat nya.
Andrie lah yang menelepon Galuh.
" Kamu dimana, sayang?" tanya Andrie dari seberang sana.
" Oh iya, maaf tadi belum kasih kabar ke kamu. Aku lagi di rumah Winda. Malam ini aku menginap di rumahnya. Suaminya lagi di luar kota." jawab Galuh melalui sambungan ponselnya.
" Aku boleh ke sana tidak?" tanya Andrie.
" Eh? Tapi.." sahut Galuh ragu- ragu.
" Kenapa? Aku sudah membelikan iga bakar kesukaan kamu nih." kata Andrie.
" Oh ya? Maaf, jadi merepotkan kamu." ucap Galuh.
" Aku ke sana yah?" tanya Andrie meminta ijin.
" Baiklah! Aku shere lokasi rumah Winda deh." jawab Galuh akhirnya.
" Kamu ingin aku belikan apa lagi, say?" tanya Andrie.
" Tidak! Tidak! Tidak usah!" jawab Galuh cepat.
" Tidak apa! Sekalian jalan kok." ucap Andrie.
" Tidak perlu, sayang!" ucap Galuh akhirnya lalu dengan cepat mematikan panggilan masuk itu.
__ADS_1
" Dari siapa?" tanya Winda dengan tiba-tiba sambil duduk di dekat Galuh.
" Hihi...itu ...itu Andrie. Tidak apa-apa kan, kalau Andrie datang kemari?" tanya Galuh.
" Tidak apa-apa kok. Aku juga ingin lihat Andrie seperti apa." jawab Winda.
" Wisnu sudah ngantuk tuh. Bawa saja ke kamar nya dulu, Win!" ucap Galuh.
" Iya! Bobok di dalam yah, sayang?" kata Winda mengajak bicara Wisnu.
Winda melangkah ke dalam menuju kamar Wisnu. Galuh masih sibuk dengan ponsel ditangannya.
" Ini bakso pesanan non Winda, mbak." kata Satpam rumah itu yang tiba-tiba datang mendatangi Galuh sambil meletakkan plastik yang berisi bakso tersebut ke atas meja.
" Oh iya, pak. Terimakasih banyak pak!" sahut Galuh dengan ramah.
" Saya ke depan lagi, mbak." ucap Satpam itu dengan cepat berlalu dari tempat itu. Galuh hanya memberikan senyuman nya yang ramah.
Galuh mulai bergegas mengambil beberapa mangkuk, sendok dan garpu di dapur. Aroma bakso itu seperti sudah menggoda Indra penciuman Galuh sehingga tidak sabar segera mengeksekusinya.
" Sudah datang baksonya yah?" tanya Winda sambil duduk lagi di bangku taman yang kosong itu
" Ayo kita makan!" ajak Galuh yang sudah siap melahap habis bakso yang diinginkan nya.
" Makanlah dulu. Aku nanti saja." sahut Winda.
" Kamu kenapa sih? Dari tadi susah makan." tanya Galuh.
" Apa gara- gara kangen Surya?" tanya Galuh menggoda.
" Hem tidak kangen tapi hanya sedikit khawatir saja. Dari pagi setelah berangkat sampai sekarang, Mas Surya belum kasih kabar ke aku. Aku barusan menghubungi ponselnya, tetapi tidak tersambung." cerita Winda dengan wajah yang khawatir.
" Tenang saja dulu. Mana tahu di perjalanan tidak ada sinyal." sahut Galuh sambil memasukkan bakso kecil itu ke dalam mulutnya.
" Eh bentar! Andrie telepon." imbuh Galuh sambil menerima panggilan masuk di ponselnya.
" Oh iya? Kamu sudah di depan yah? Baiklah aku ke depan sekarang." kata Galuh lalu mematikan sambungan di ponselnya.
" Andrie sudah di depan. Aku ke depan dulu yah." kata Galuh sambil berlari kecil menuju pintu utama rumah Winda itu.
Winda masih dengan kegelisahan nya. Dia mencoba tenang tapi masih juga dalam ketidak nyamanan.
" Ada apa sih? Semoga Mas Surya baik- baik saja." gumam Winda.
" Winda!" teriak Galuh dari pintu utama rumah itu bersama Andrie.
" Kita boleh gabung di belakang rumah gak?" tanya Galuh.
__ADS_1
" Ya sudah, gak papa. Ajak saja Andrie kemari!" kata Winda ikut berteriak.
" Hehehe." sahut Galuh sambil nyengir dan bergegas ke belakang rumah di taman tempat duduknya tadi.
" Winda! Kenalkan ini Andrie!" kata Galuh kepada Winda.
" Andrie!" kata Andrie memperkenalkan diri kepada Winda sambil tersenyum ramah.
" Winda!" ucap Winda.
" Duduklah! Santai saja bang! Kita makan sama-sama yuk!" ajak Winda.
" Andrie bawa iga bakar, Win. Kamu kalau tidak selera makan bakso, ini ada iga bakar." kata Galuh sambil menyodorkan plastik yang berisi iga bakar yang dimaksud.
" Iyalah! Ayo kita lihat iga bakarnya bisa menggugah selera tidak?" kata Winda sambil mengambil bungkusan yang ada iga bakar nya.
" Hem yummy! Baunya enak dan wangi." kata Winda. Andrie hanya tersenyum melihat tingkah Winda yang polos dan kekanak-kanakan.
" Oh iya bang! Ini Winda kerja dengan bang Hendra di kantor pusat." cerita Galuh.
" Oh ya? Winda? Winda? Oh apakah cewek yang disukai oleh Bang Hendra Itu Winda yang ini?" tanya Andrie.
" Apa? Bang Hendra suka dengan Winda?" tanya Galuh membelalak matanya.
" Seingat aku namanya Winda." sahut Andrie.
" Kamu salah kali bang. Ini Winda sudah punya suami dan anak loh." kata Galuh dan dibenarkan oleh Winda.
" Iya kali. Aku yang salah. Mungkin saja di kantor banyak yang namanya Winda." sahut Andrie.
" Ini iga bakarnya sungguh menggoda loh. Boleh aku yang makan kan?" tanya Winda.
" Silahkan!" jawab Andrie sambil tersenyum.
" Eh ponsel aku berbunyi." kata Winda sambil mengambil ponselnya dan melihat yang tertera dilayar, siapa yang menelepon nya.
" Siapa Win?" tanya Galuh.
"Mas Surya! Sebentar ya!" ucap Winda sambil berjalan menjauh dari tempat duduk tersebut.
"Halo! Iya saya sendiri. Ini siapa?" ucap Winda mulai terlihat panik.
" Apa? Astagfirullah! Dimana? Kami akan secepatnya ke sana." ucap Winda yang tiba-tiba pucat yang mendapatkan panggilan masuk dari nomer Surya tetapi bukanlah Surya yang menelepon melainkan dari pihak kepolisian yang memberikan kabar bahwa mobil yang dikendarai oleh Surya dan sopirnya mengalami kecelakaan.
Winda seketika ambruk karena lemas. Galuh segera bangkit dari duduknya dan menolong tubuh lemas Winda.
" Winda! Winda sayang! Ada apa, sayang?" tanya Galuh ikut panik.
__ADS_1
" Mas Surya kecelakaan!" jawab Winda lemas.
" Hah astagfirullah, Ya Tuhanku!" sahut Galuh ikut terkejut dan panik.