
Andrie sudah berada di penginapan dimana Jelita sudah menunggu kedatangan nya. Jelita kini ber drama queen menangis sesenggukan sambil menceritakan kenapa Hendra bisa menampar nya. Andrie kini mengusap dengan lembut pipi bekas tamparan Hendra.
" Seharusnya kamu bersikap manis saja tidak perlu melawan Hendra. Hendra kalau marah di lawan semakin tidak terkendali." ucap Andrie sambil tetap mengusap pipi Jelita itu dengan penuh kelembutan dan kini Andrie menciumnya supaya Jelita tidak lagi mengeluh akan sakitnya tamparan pipinya. Sebenarnya bukan tamparan nya yang sakit, namun sakit hati ketika mendapatkan perlakuan kasar dari suami nya itu. Namun memang Jelita tidak mau disalahkan.
" Kita ke puncak aja yuk! Ke villa kamu itu." ajak Jelita dengan merengek.
" Besok lusa saja yah! Besok aku harus menyelesaikan segala kerjaan aku dulu, yank." tawar Andrie.
" Enggak mau! Pokoknya aku mau sekarang, kita ke puncak. Kamu bisa saja mewakilkan kerjaan kamu pada sekretaris ataupun bendahara kamu loh, sayang." ucap Jelita seperti tidak mau tahu.
" Kenapa sih? Di sini juga enak kan? Kenapa harus di puncak? Bukankah yang penting aku ada di dekat kamu, yank?" kata Andrie namun Jelita tetap memaksa mengajak Andrie ke villa puncak itu.
"Aku kan jarang mengajak kamu jalan jauh kan, sayang. Aku ingin ditempat itu. Aku ingin tenang dulu. Dan lagi pula, aku juga belum mau ketemu Hendra dulu. Dia pasti akan mencari aku. Aku yakin itu." ucap Jelita.
" Hah? Ya sudahlah! Kamu siap- siap masukan baju- bajunya ke koper kembali." sahut Andrie akhirnya menuruti kemauan dari pacar gelapnya itu. Jelita tersenyum senang.
" Kamu memang paling mengerti aku, Mas Andrie sayang!" kata Jelita sambil mengecup bibir Andrie lalu bergegas memasukkan baju- bajunya yang ada diluar koper.
__ADS_1
*******
Andrie dan Jelita sudah meninggalkan penginapan itu lalu meluncur ke puncak dengan tujuan ke villa kepunyaan Andrie. Jelita seperti lupa akan rumah tangganya yang sedang bermasalah. Dalam pikiran Jelita, yang terpenting dirinya masih bisa bersenang-senang bersama Andrie. Dia ingin enak- enakkan dengan Andrie.
Di saat Andrie menyetir ponsel Andrie berbunyi. Jelita mengintip nama yang tertera di ponsel Andrie itu, siapa yang telah menelpon Andrie. Satu nama yang tidak asing, dia adalah Intan, istri Andrie.
" Tidak diangkat?" tanya Jelita sambil menunjukkan kecemburuan nya.
" Tidak usah! Aku bingung mau alasan apa dengan Intan." sahut Andrie.
" Astaga! Setelah itu perang Dunia dong seperti yang kamu alami dengan Hendra." sahut Andrie.
" Tidak apa- apa biar adil, kamu juga mengalami nya." kata Jelita.
" Waduh parah kamu, yank!" sahut Andrie sambil terkekeh.
******
__ADS_1
Sesampainya di Villa Jelita mengajak Andrie minum wine, vodka bersama. Suasana yang dingin dipuncak menjadikan keduanya saling berpelukan memberikan kehangatan. Keduanya menciptakan permainan di atas peraduan yang penuh sensasinya. Dalam pengaruh minuman yang beralkohol itu meraka semakin liar dalam permainan itu. Suara- suara erotis memenuhi kamar villa itu. Mereka tidak perduli dan cuek melakukan nya. Sampai pada akhirnya mereka berdua sama- sama terkulai di atas peraduan itu dengan saling dekap.
Andrie dan Jelita menikmati suasana villa di puncak sampai beberapa hari. Hal itu semakin membuat bingung istri dan suami mereka yang mencoba menghubungi Andrie dan juga Jelita tersebut. Apalagi Intan sampai mencari Andrie di hotel dan resort nya yang berada di pusat kota. Namun tidak diketahui kabar dari suaminya tersebut. Sedangkan Hendra sudah mulai putus asa akan liarnya Jelita yang tidak ada aturan itu. Hendra mulai malas mencari keberadaan Jelita.
Hendra memilih menonton televisi dan berita di sana. Dari pada Hendra dipusingkan atas kelakuan Jelita yang minggat dari rumahnya dan sampai saat ini tidak kunjung pulang itu, memilih mencari hobi dengan tontonan di televisi. Namun tiba-tiba ada sekilas info yang mengabarkan kecelakaan terjadi di jalan menuju puncak. Kecelakaan tunggal karena kelalaian pengemudinya hingga mobil yang kendarai nya terbalik. Belum ada kabar nasib pengendara mobil beserta penumpangnya tersebut. Di sana diberitakan dua orang masih mengalami kritis dan dilarikan di rumah sakit terdekat. Sedangkan mobilnya benar-benar rusak parah.
Hendra yang menyaksikan kabar kecelakaan itu seketika melongo dan ada ketakutan yang hebat di hati Hendra. Di lain tempat, Intan pun menyibukkan dirinya bermain dengan ponselnya. Notifikasi muncul juga di ponselnya mengenai kabar kecelakaan itu. Namun Intan masih tetap cuek tidak perduli.
*******
Intan dan Hendra mulai tidak sabar menunggu kabar suami dan istri nya itu yang hampir tiga hari tidak pulang dan tidak memberikan kabarnya. pada akhirnya nomer yang selama ini dihubunginya itu sedang memanggilnya. Intan dan Hendra menerima masing-masing kabar kalau saat ini istri dan suami mereka berada di rumah sakit B dan dalam keadaan kritis. Dari pihak rumah sakit itu menemukan ponsel so korban masih aman dan utuh. Sehingga dari pihak rumah sakit langsung menghubungi nomer yang selalu dihubungi oleh si korban yang saat ini terbaring di ruang gawat darurat.
" Astaga, Jelita! Aku akan segera ke sana!" ucap Hendra akhirnya.
" Mas, Andrie! Semoga kamu baik- baik saja." ucap Intan penuh was- was.
Mereka di lain waktu dan tempat yang berbeda. Namun pada akhirnya mereka melesat ke rumah sakit dimana ada Jelita maupun Andrie yang sedang ditangani oleh orang-orang medis.
__ADS_1