
Surya sudah bersiap ke rumah Sarwenda. Di sampingnya ada Winda yang meneliti gerak - gerik suaminya itu. Winda menatap lekat Surya dengan penuh penasaran dan tanda tanya. Surya yang merasa di perhatikan Winda mulai mendekati Winda. Sambil menyemprotkan minyak wangi di badannya Surya merapatkan badannya ke Winda.
" Winda! Aku ada urusan kecil dengan rekan bisnis. Kamu jangan kwatir kan aku sayang." ucap Surya sambil memeluk erat Winda.
" Iya! Kamu pulang kan?" tanya Winda menyelimuti.
" Tentu saja aku pulang kerumah. Memangnya mau bermalam ke mana?" ujar Surya sambil mengusap lembut perut Winda yang mulai besar membuncit.
Bulan depan adalah tanggal kelahiran si jabang bayi itu sesuai perhitungan.
" Mana tahu kemalaman dan gak bisa pulang." ucap Winda sambil tersenyum.
" Winda!" panggil pelan Surya.
" Iya!" sahut Winda.
" Aku menyayangimu sampai kapan pun!" ucap Surya sambil mengecup lembut dahi Winda.
" Gombal ah!" sahut Winda malu - malu.
__ADS_1
" Hehehe! Kamu masih seperti dahulu. Ketika aku merayu dan menyatakan perasaan ku, kamu selalu memerah wajah mu." kata Surya sambil tersenyum.
" Tapi aku tidak se seksi dahulu." sahut Winda.
" Kamu kan sedang hamil. Mengandung anak kita, buah hati kita sayang. Body mu yang berubah tidak mempengaruhi rasa sayang dan suka ku ke kamu sayang." rayu Surya.
" Mulai lagi ngrayu nya. Sejak kapan kamu lebih pandai merayu mas?" kata Winda dengan mendekatkan hidungnya ke hidung Surya.
" Sejak aku mulai takut kehilanganmu, sayang. Aku akan selalu merayu kamu agar kamu tidak berpaling dari aku." jawab Surya.
" Apakah aku tipe wanita yang mudah berpaling Mas? Aku selalu di rumah. Jadi wanita rumahan dan tidak banyak kawan dekat untuk menjadi teman berbagi aku. Aku sudah merasa cukup memiliki kamu mas. Jadi, aku masih belum memerlukan kawan - kawan ku untuk berbicara dan bergaul dengan mereka. Aku hanya ingin kamu sebagai kawan, sahabat dan suami aku." ucap Winda.
" Aku pergi dulu Winda!" kata Surya sambil melepaskan pelukannya.
" Baik - baik ya mas!" ujar Winda sambil mengikuti langkah Surya yang keluar dari kamar utama mereka.
" Eh Mas! Ponsel nya ketinggalan mas!" kata Winda sambil mengambil ponsel yang diletakkan di atas meja rias.
" Eh iya! Terimakasih sayang!" ucap Surya.
__ADS_1
Winda melepas kepergian Surya dengan perasaan yang berat. Ada yang mengganjal dalam hatinya. Sangat jarang sekali, Surya keluar malam - malam seperti ini. Tidak biasanya ada pertemuan rekan bisnis di malam hari. Surya mulai meninggalkan rumah megah dan mewah milik Hartono itu. Sedangkan Winda menatap kepergian Surya sampai mobil itu tidak lagi terlihat oleh pandangan matanya.
" Semoga kamu selalu baik - baik saja, Mas! Aku tahu, kamu selalu menyayangi aku. Tetapi di luar sana banyak godaan yang akan menguji kesetiaan kamu. Apalagi kamu adalah laki-laki yang memiliki pekerjaan yang mapan dari keluarga terpandang. Siapa yang tidak akan tergiur oleh harta dan tahta ini. Lagi pula kamu adalah laki-laki yang memiliki paras dan kegantengan yang bikin aku kwatir." kata Winda seperti ber monolog.
" Winda!" panggil Bu Hartini dari dalam.
" Iya Ma!" sahut Winda sambil masuk ke dalam rumah mendekati arah suara itu.
" Suami kamu kemana, sayang?" tanya Hartini di tempat duduk meja makan.
" Katanya ada janjian dengan rekan bisnisnya ma!" jawab Winda sambil duduk dekat mertua nya itu.
" Oh. Kamu makan dulu. Jaga kesehatan kamu." kata Bu Hartini yang mulai perhatian dengan Winda.
" Iya Ma! Terimakasih banyak Ma!" sahut Winda sambil tersenyum.
" Kamu jangan kwatir dengan Surya. Dunia bisnis itu memang seperti itu. Kadang malam - malam buat jadwal pertemuan untuk pembicaraan bisnis. Mereka ingin suasana santai walaupun topiknya serius. Semua untuk kamu juga kalau Surya sukses dalam menjalankan bisnis nya." kata Bu Hartini serius.
" Iya ma!" sahut Winda sambil meminum air putih yang sudah di ambilnya dari tadi.
__ADS_1