
" Kamu dimana, sayang?" tanya bang Hendra kepada Winda yang saat ini berada di pusat perbelanjaan ditemani Intan, adik iparnya dari suaminya dulu yaitu almarhum Surya.
"Ini masih belanja, bang. Ada apa sayang?" ucap Winda yang mendapat tatapan tajam dari mata Intan ketika kata- kata sayang keluar dari mulut nya.
" Aku jemput kamu yah, sayang!" tawar Bang Hendra dari seberang sana. Iya, saat ini Bang Hendra sedang menghubungi Winda melalui telepon genggam nya untuk memastikan kekasihnya, baik- baik saja.
" Tidak usah, bang. Ini sudah sama Intan. Lagipula kami setelah ini masih mampir beli buku terlebih dahulu. Percaya saja sama aku, bang. Aku sudah pandai nyetir mobil apalagi Intan." kata Winda.
" Baiklah. Cepat pulang jangan mampir- mampir lagi." ucap Bang Hendra.
" Iya, my king. Kalau ingat!" sahut Winda.
" Apa kamu bilang?" kata Bang Hendra di seberang sana melalui sambungan ponsel itu.
" Eh tidak ada." sahut Winda yang lagsung mendapatkan sambungan telepon masuknya itu terputus.
__ADS_1
" Begitu yah, kalau masih berpacaran. Protektif nya begitu besar." sahut Intan yang masih kurang suka dengan hubungan antara Winda dengan Bang Hendra.
" Oh iya Intan, bagaimana kabar Andrie?" tanya Winda berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Andrie? Malas bahas dia. Saat ini aku jadi mulai ragu. Apakah aku bisa sepenuhnya menerima Andrie sedangkan bayangan Niga masih menggangu pikiranku." curhat Intan.
" Hah? Tetapi bagaimana dengan Niga sendiri? Apakah Niga juga masih menghubungi kamu, Tan?" selidik Winda.
" Tidak juga sih, mbak. Cuma aku masih belum ikhlas jika Niga meninggalkan aku demi sahabat mbk Winda, yaitu Galuh." sahut Intan tanpa berpikir dua kali untuk mengucapkan kalimat itu. Tidak berpikir jika hasil yang dilontarkan dari mulutnya itu bisa menyinggung hati kakak iparnya, yaitu Winda.
" Bagaimana apanya, mbak? Yah, aku sebenarnya tidak mau menyerah. Aku akan coba sekali lagi. Aku akan datang lagi ke Niga. Mana tahu, dia merubah keputusan nya dan menerima ku." kata Intan.
" Intan! Jangan rendahkan harga diri kamu, sayang! Bukankah Mas Niga sudah menolak kamu?" tanya Winda hati- hati.
" Itu lantaran dia masih mengejar Galuh. Aku akan sekali lagi mencoba nya mbak. Jika benar Niga tidak memiliki rasa dengan aku. Aku akan mengaku kalah. Iya, benar-benar mengakui kekalahanku terhadap perasaan ini. Aku akan belajar melupakan cinta ini dan belajar mencintai Andrie." curhat Intan.
__ADS_1
" Intan!" panggil Winda pelan dengan mata sedih. Sebenarnya Winda tidak setuju dengan tindakan Intan yang bersikeras ingin mengejar Niga. Sedangkan dari kacamata Winda, Niga benar-benar menaruh hati dn cinta berat dengan Galuh. Dan itupun sudah dari dulu ketika mereka masih duduk di perguruan tinggi yang sama.
" Mbk Winda, jangan mengkhawatirkan aku. Aku hanya ingin mencobanya sekali lagi. Biarlah aku mencoba lagi dan mengungkapkan segala apa yang aku rasakan kepada Mas Niga. Sebenarnya, aku rela jika harus menjadi istri kedua Mas Niga." ucap Intan dengan melangkah menuju kasir supermarket itu.
" Intan! Jangan pernah berpikir begitu. Menjadi istri kedua? Astaga Intan." keluh Winda yang mulai mendekati kasir untuk membayar semua belanjaan nya.
" Hehehe, Aku bercanda Mbak Winda sayang!" sahut Intan.
" Aku tidak suka kamu bercanda seperti itu. Aku ingin kamu mendapatkan laki-laki yang benar-benar seutuhnya mencintai kamu dan menyayangi kamu. Tidak terbagi dengan yang lain." kata Winda.
" Aamiin! Terima kasih, mbak Winda sayang! Mbak Winda memaang kakakku yang paling cantik, baik hati." sahut Intan sambil mengambilkan kartu debit miliknya.
" Biar aku yang bayar, mbak Winda!" tambah Intan.
Winda hanya tersenyum melihat Intan dengan cepat memberikan kartu debit itu ke kasir.
__ADS_1