
Innalillahi wainnailaihi rojiun. Segala sesuatu nya adalah kekuasaanNya. Qodho dan Qodhar sudah menjadi ketentuan dan ketetapan nya. Takdir manusia tidak pasti dan tidak bisa ditebak. Bukan berarti manusia itu sendiri dalam pasrah dan menyerah dalam jalannya. Ikhtiar dan segala usaha dari doa- doa yang kita panjatkan baik secara lisan maupun dalam hati harus tetap kita jalankan. Berbuatlah dengan kesungguhan hati dalam mengejar duniawi seolah hidup selama seribu tahun. Khusuk, bersungguh- sungguh lah dalam beribadah, beramal, bersedekah, ber amanah serta berjihad seolah esok hari ketika kamu bangun sudah tidak di alam dunia yang fana ini, kematian telah menjemput kamu pulang ke rahmatullah.
*******
Berserah dirilah kamu kepada zat yang telah menciptakan mu. Ber pasrah lah kepada Sang Penguasa yang berhak menentukan hidup dan mati mu. Berkeluh kesah lah kamu seperti halnya hanya Dia-lah satu- satu nya tempat mengadu dan meratapi segala nasibmu. Dia Maha Baik dalam memberi segala apa yang kita butuhkan bukan segalanya yang kita inginkan. Percayakan lah Dia mengetahui mana yang baik untuk kamu dan tidak selayaknya kamu menyalahkan Nya ketika sesuatu luput darimu.
Tuhan! Siapa kah gerangan aku ini. Sesungguhnya aku tidak akan sanggup memikul beban ini melainkan semua lah Engkau beri kekuatan Nya untuk bisa menghadapi segalanya. Aku manusia lemah dan hina yang tiada kuasa dan daya melainkan dariMu. Semuanya kan ku serahkan padaMu Ya Tuhan, Zat Yang Maha Baik dari yang terbaik.
Jika Engkau bertanya siapakah Tuhan itu? Tuhan adalah zat yang memiliki kekuatan dan kekuasaan. Tiada yang bisa menandingi Nya. Makhluk Nya selalu tunduk dan patuh akan singgasana Nya. Maha Besar dan Maha Baik terhadap makhluk- makhluk Nya.
*******
" Mama! Apa yang kau pikirkan?" tanya Pak Hartono sambil mengusap lembut pundak istrinya tersebut.
" Papa! Aku hanya teringat akan putra kita, Surya. Tidak menyangka, dia begitu cepat meninggalkan kita di usia yang sangat muda. Meninggalkan segala kenikmatan dunia ini." ucap Bu Hartini sambil mengusap butiran di matanya yang terjatuh.
" Kita tidak bisa memprotes masalah takdir ini, mama. Waktu nya sudah ditentukan olehNya. Anak-anak kita ini adalah titipan nya demikian juga harta yang kita miliki ini." kata Pak Hartono.
" Sebentar lagi Winda akan segera menikah dengan Hendra. Hal inilah yang membuatku jadi teringat dengan Surya, putra kita. Bukannya aku tidak setuju tetapi kenapa hal ini membuat aku merasa sedih." kata Bu Hartini.
" Mama! Winda juga berhak mendapatkan kebahagiaan dunia itu. Winda juga berhak menentukan nasibnya lagi. Kita doakan saja, Winda bisa mendapatkan kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman hidup di dunia dan akhirat bersama Hendra. Kita sebagai orang tua hanya memberi restu dan mendoakan yang terbaik untuk anak-anak kita." ucap Pak Hartono.
" Iya papa. Amin ya rabb."sahut Bu Hartini sambil menghela nafasnya.
" Winda, anak yang baik dan sudah aku anggap sebagai anak kita, Ma. Hendra pasti orang baik juga. Orang baik akan berjodoh dengan orang baik juga." sahut Pak Hartono.
" Iya papa. Semoga saja Hendra adalah laki-laki yang penuh tanggung jawab dan kasih sayang terhadap keluarga nya dan menyayangi Wisnu seperti dia menyayangi Winda juga." kata Bu Hartini.
__ADS_1
" Winda dan Wisnu adalah sepaket, ma. Ingin mempersunting Winda juga harus menerima Wisnu sebagai anaknya. Menerima semua masa lalu Winda baik buruknya."ujar Pak Hartono.
" Assalamu'alaikum mama, papa!" salam Winda beserta Hendra yang datang dan masuk melalui pintu utama rumah kediaman keluarga Hartono.
" Eh Waalaikum salam, sayang!" sahut Bu Hartini sambil berdiri dan menyambut kedatangan dua orang yang baru saja di perbincangkan.
" Kalian panjang umur yah, baru saja kami ngomongin kalian berdua." kata Pak Hartono.
Winda dan Hendra hanya tersenyum mendengar kedua orang tua yang sudah berumur 50 tahunan itu.
Winda dan Hendra menjabat tangan kedua orang tua itu lalu mencium punggung tangannya.
" Duduklah!" suruh Pak Hartono.
" Kalian darimana?" tanya Bu Hartini.
" Kami dari makam, ma!" jawab Winda.
" Kami dari makam Mas Surya, om." sahut Hendra.
Pak Hartono dan Bu Hartini kembali terdiam. Seketika ada raut kesedihan yang tiba-tiba muncul dari wajahnya.
" Mama!" panggil Winda pelan.
" Tidak apa- apa, Winda. Kami hanya sedikit teringat saja pada Surya. Terimakasih banyak yah, sudah mendoakan Surya dan mengunjungi rumah peristirahatan terakhir nya." kata Bu Hartini.
" Mama!" panggil Winda Pelan.
" Sudah, tidak apa- apa kami kok. Oh iya, mama ada sesuatu untuk kamu. Tapi nanti sajalah mama ambilkan." kata Bu Hartini.
" Nak Hendra! Om dan tante titip Winda dan Wisnu. Kami yakin, kamu laki-laki yang bisa diandalkan. Kami tahu, kamu mencintai dan menyayangi Winda dan Wisnu dengan tulus. Semoga pernikahan kalian kelak, berlangsung dengan khidmat dan selanjutnya kalian bisa menjalani biduk rumah tangga dengan penuh kebahagiaan dan kedamaian." ucap Pak Hartono.
__ADS_1
" Aaminn om." sahut Hendra sopan.
" Mama, papa, saya sangat berterima kasih atas perhatian dan kasih sayang papa dan mama selama ini." ucap Winda sambil menunduk.
" Winda! Mama dan papa sudah menganggap kamu seperti anak sendiri walaupun kamu adalah menantu kami dan Surya sudah meninggalkan kami semua. Doa kami akan selalu kami lanjutkan untuk kebahagiaan kamu, sayang." ucap Bu Hartini.
" Om Hartono. Kami masih membutuhkan om dan tante dalam membimbing kami dalam melalui rumah tangga kami nanti." sahut Hendra serius.
" InsyaAllah. Winda adalah seorang wanita dan istri yang baik selama ini. Kamu jangan meragukan hal itu. Soal kesabaran dan ketabahan, kamu bisa belajar banyak pada Winda, nak Hendra." kata Pak Hartono.
" Papa!" panggil Winda pelan terlihat wajahnya memerah.
" Oh iya Winda. Ayo ikut mama. Ada hadiah kecil untuk kamu." ajak mama dan menggandeng Winda.
" Winda jadi penasaran, ma. Apa yah?" tanya Winda.
"Nanti kamu juga bakalan tahu sayang." sahut Bu Hartini lalu masuk ke dalam kamar pribadi nya dan diikuti Winda dibelakang nya.
" Saya tunggu di luar saja ma!" ucap Winda yang mengurungkan masuk ke kamar mertuanya itu dan masih berdiri di dekat pintu masuk kamar itu.
" Tidak apa- apa! Ayo masuklah!" kata Bu Hartini sambil menarik tangan Winda hingga masuk ke dalam kamar pribadi mertuanya itu.
Bu Hartini mengambil barang yang akan diberikan ke Winda itu dari lemari besi yang berkode itu.
" Ini ambillah, sayang! Mama ingin kamu mengenakannya." kata Bu Hartini sambil tersenyum.
" Mama! Ini terlalu mewah dan berlebihan, ma." sahut Winda setelah membuka kotak yang berisi beberapa perhiasan yang lengkap dan mahal.
" Tidak sayang! Dulu sewaktu pernikahan kamu dengan Surya, mama belum sempat memberikan ini. Dan hal itulah yang membuat mama masih sedih dan dalam penyesalan karena belum menerima kamu saat itu sebagai keluarga besar kami." kata Bu Hartini.
" Mama! Yang sudah berlalu jangan diungkit kembali." sahut Winda sambil memegang tangan mama mertuanya itu.
__ADS_1
" Iya sayang!" kata Bu Hartini sambil memeluk erat Winda dengan penuh kasih.