Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADUKU 2 (EPISODE 10)


__ADS_3

Di rumah Sarwenda.


Sarwenda menatap kosong ke langit- langit kamarnya. Sudah hampir dua minggu Wardhana tidak mengunjunginya. Sarwenda sudah letih untuk menunggu. Dan selalu seperti ini yang Sarwenda rasakan. Sarwenda harus menanti, menunggu kedatangan dari suaminya itu. Setelah kedatangan orang yang ditunggu itu terkadang menyisakan kebencian yang tidak pernah bisa diungkapkan. Diam adalah cara melawan segala ketidaksesuaian tentang apa yang dia inginkan.


Tiba-tiba sosok yang dinanti itu tiba dan masuk kedalam kamarnya. Pria itu langsung memeluk erat wanita yang sudah lama menunggu kedatangan nya. Sebenarnya bukan sekedar sebagai teman untuk bercengkrama dan kawan istirahat di peraduan yang empuk itu ketika penat sepanjang hari bekerja. Namun dirinya juga butuh bercerita akan suka, sedih dan rasa sakit ketika menghadapi segala apa yang dirasa.


Wardhana mulai nakal setibanya di rumah kediaman Sarwenda. Sarwenda mulai geram akan sikap Wardhana yang tiba-tiba datang langsung menyerangnya. Bagi Sarwenda, ini seperti tidak dihargai oleh Wardhana. Tiba-tiba datang lalu hanya menuntut haknya tanpa mengerti akan perasaan istrinya, Sarwenda.


" Cukup mas! Aku ingin bicara!" kata Sarwenda sedikit memekik keras.


" Ada apa sih dengan kamu? Aku baru kembali ke rumah kamu, kamu malah uring-uringan seperti ini. Aku itu kangen loh, yank!" kata Wardhana sambil menarik tangan Sarwenda hingga jatuh ke atas menimpa tubuhnya.


" Ayolah, kita lakukan ritualnya dahulu. Kita sudah lama tidak melakukannya bukan? Setelah itu baru kamu ingin bicara apa saja akan aku dengarkan." ucap Wardhana sambil mengusap lembut rambut Sarwenda.


Sarwenda ingin rasanya menolak dan melepaskan pelukan dari suaminya tersebut. Namun tangan Wardhana begitu kuat mencengkeram tubuh Sarwenda yang masih di atas tubuh Wardhana.


" Lepaskan mas! Aku sudah tidak mau begini terus. Aku minta cerai!" teriak Sarwenda sambil membulat matanya. Wardhana seketika terkejut dan matanya yang awalnya nakal penuh gairah kini mengendur. Pelan- pelan kedua tangan nya yang memeluk tubuh Sarwenda dilepaskan nya. Keduanya memposisikan duduk di atas peraduan itu. Mereka sama- sama saling menatap. Sesaat mereka tanpa suara dan belum ada yang memulai bicara. Wardhana mulai berkaca matanya menatap mata Sarwenda yang mulai tersedu dalam tangisan nya.


" Anak-anak sudah besar! Dan aku pikir ini sudah waktunya aku mengakhiri semuanya. Ini tidak mudah aku hadapi. Berbagi suami membuatku sangat lelah menunggu dan menanti itu. Aku tahu ini berat, tetapi ini harus aku lakukan. Aku sudah tidak sanggup, mas! Aku menyerah untuk ini. Menyerah untuk mempertahankan rumah tangga ini." ucap Sarwenda lirih dan air mata itu mengalir tanpa bisa dibendung lagi.

__ADS_1


" Ini soal harga diri bukan lagi mempertahankan cincin di jari ini. Cukup! Bertahun-tahun aku bertahan dengan keadaan ini. Anak-anak sudah besar. Aku dengan sangat menyesal harus mengakhiri status ini bersama kamu, mas!" kata Sarwenda yang membuat Wardhana ikut merasakan kepedihan hati istrinya itu.


Betapa dirinya tidak bisa adil dengan istrinya. Terutama dengan Sarwenda. Wardhana lebih banyak bersama dengan Rosiana. Dan ini membuat Sarwenda yakin, Suaminya itu lebih mencintai Rosiana dibandingkan dirinya. Cinta pertama Wardhana adalah Rosiana bukanlah dirinya. Ini menyakiti hati Sarwenda.


" Sarwenda, aku minta maaf! Tapi tolong pikirkan kembali, kita sudah mulai berumur. Jangan lagi ada perceraian itu. Aku ingin bisa bersama- sama berkumpul dengan istri- istri dan anak- anakku dimasa tua ku. Ini bukan lagi soal perasaan namun ini sudah harus saling menjaga. Menjaga dari semua hati jangan lagi ada yang disakiti lagi." ucap Wardhana.


" Tapi aku yang selalu kamu sakiti, mas! Iya! Apakah kamu tidak sadar itu?" sahut Sarwenda mulai dengan suara yang tinggi.


Wardhana hanya terkejut dengan keras nya hati Sarwenda.


" Ini sudah final, mas! Aku sudah memikirkan semuanya. Aset- aset yang ada segera akan aku urus untuk anak-anak kita. Bukan lagi atas nama kamu. Dan kamu mau tidak mau harus ikut aturan ini." kata Sarwenda tegas.


" Bagus! Akhirnya kamu mengakui nya bukan? Bukan aku yang kamu harapkan dalam mendampingi masa tua kamu? Aku mengerti!" sahut Sarwenda sambil terisak tangisan nya. Hatinya terasa sakit ketika Wardhana mengatakan kalimat dan ungkapan itu.


" Kamu lagi- lagi selalu mengungkit akan semua harta kamu. Kamu selalu membanggakan akan kepemilikan semua aset- aset yang kau miliki. Seolah-olah aku di matamu hanyalah benalu dan numpang di kehidupan mu." kata Wardhana mulai menghujam jantung Sarwenda.


" Aku? Ketika di rumah Rosiana, dialah yang selalu sibuk menyuruh aku kemari. Supaya Rosiana tidak merasa bersalah akan hal ini. Namun kalau boleh aku jujur. Ketika aku disini, kamu melihat aku seperti benalu. Yang hanya menumpang makan dan tidur di rumah kamu." kata Wardhana lagi.


" Aku juga bekerja beras, Sarwenda. Walaupun hasilnya tidak lebih banyak dari kamu. Kamu hanya cukup berdiam diri di rumah saja kamu sudah mendapatkan penghasilan itu. Kamu tidak memandang aku sebagai laki-laki. Kamu tidak menghargai aku. Karena kamu sudah memiliki segalanya dari aku." kata Wardhana dengan suara bergetar.

__ADS_1


" Bukan aku yang minta akan nama kepemilikan itu. Tapi semua atas kehendak mu bukan?" kembali Wardhana mengeluarkan uneg- uneg itu.


Sarwenda semakin tersedu-sedu. Tangisan nya mulai pecah memenuhi ruangan kamar itu.


" Semua aku kembalikan kepadamu. Aku ikut saja semua yang menjadi mau kamu. Kamu ingin kita bercerai? Aku akan menerima itu. Kamu ingin kata talak aku?" kata Wardhana lagi. Sarwenda menatap tajam Wardhana dengan kebencian yang sudah lama terpendam.


" Iya!" jawab Sarwenda singkat.


" Baik! Mulai hari ini, kamu bukan lagi istri aku dan aku menceraikan kamu! Aku menceraikan kamu, Sarwenda!" kata Wardhana dengan lantang.


Sarwenda makin histeris tangisannya. Dirinya tidak pernah menyangka akan menyudahi status nya dengan Wardhana. Kini dirinya sudah bukan lagi istri Wardhana.. Hatinya sudah bertekad hendak menuntut perceraian itu dengan Wardhana. Namun ucapan talak Wardhana sudah semakin membulatkan rencananya itu. Bukan karena dirinya sudah menemukan pengganti Wardhana. Namun dirinya sudah letih karena apa yang dia hadapi setiap harinya menguras energi dan emosinya. Ini membuat berat badannya setiap hari semakin menurun karena memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipikir.


" Terima kasih mas, kamu semakin membuat aku yakin akan keputusan ini." ucap Sarwenda akhirnya.


" Bukankah ini yang kamu kehendaki sedari dulu? Aku hanya memenuhi semua apa yang kamu ingin." kata Wardhana pelan.


" Ini soal harga diri bukan lagi mempertahankan cincin yang sudah melingkar di jari." tambah Wardhana mempertegas dan mengulangi kalimat nyang sudah dilontarkan oleh Sarwenda.


" Dan aku juga memiliki harga diri itu, Sarwenda!" ucap Wardhana sambil keluar meninggalkan kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2