
Awan putih berarak-arak. Membentuk sekumpulan negeri khayalan yang membawa harapan. Segerombolan Burung- burung terbang dengan penuh suka cita. Ber payung kan langit biru berlapis-lapis.
Bercintalah denganku seolah aku adalah satu-satunya yang ada di hatimu. Ber kasihlah bersamaku, seakan tiada yang lain yang bisa kamu bahagia kan selain aku. Lakukanlah semua dengan iklhas dan penuh ketulusan, agar kau dapatkan indah itu ketika berdua menyatu dengan ku.
" Apa yang sedang kamu pikirkan, Mas?" tanya Intan yang melihat Niga sedang bengong menatap jalanan di luar pagar rumah di kediaman rumah Winda.
Wisnu berlari-lari kecil dan bermain bola bersama Intan dan pengasuh nya. Intan mulai mendekati Niga yang masih sibuk dengan lamunannya.
" Ada masalah, Mas?" tebak Intan sok tahu.
" Tidak ada! Hanya saja, dadaku terasa sesak dan tidak enak perasaan ku." jawab Niga.
" Apakah Mas Niga sakit? Atau demam?" ucap Intan sambil memberanikan dirinya menyentuh dahi milik Niga. Niga sempat terkejut dengan pergerakan tangan Intan yang tiba-tiba menyentuh dahi miliknya.
" Tidak panas kok!" kata Intan sambil meneliti wajah Niga yang murung.
" Mas Niga pasti lagi kepikiran seseorang yah? Atau Mas Niga lagi kangen berat." tebak Intan.
" Mungkin saja!" jawab Niga dan posisi nya masih tidak berubah, menatap kosong jalan luar pagar rumah itu.
" Siapa, Mas? Siapa wanita yang beruntung itu?" tanya Intan lagi. Kini wajah Intan ada kekecewaan yang disembunyikan dari nya.
" Ada! Dia kawan sewaktu kuliah dulu. Kawan Winda dan juga almarhum Surya." jawab Niga tanpa malu-malu.
Intan terdiam. Dadanya terasa sakit mendengar penjelasan dari Niga. Perasaan tertariknya dengan Niga, mungkin saja tidak akan dikembangkan menjadi cinta. Harapan nya pupus untuk mendekati dan mencoba merebut hati laki-laki di sampingnya itu. Intan mulai lesu dan tidak semangat sebelum nya.
" Kalau kangen dijumpai saja, mas! Kenapa juga ditahan- tahan?" ucap Intan yang lain dari isi hatinya.
" Ya Tuhan! Kenapa aku selalu tidak seberuntung Mbak Winda. Mbak Winda selalu banyak pria yang menyukainya. Sedangkan aku? Mantan suami aku saja, sebenarnya tidak menyukai aku. Apakah di dunia ini, aku tidak layak untuk dicintai? Apakah di dunia ini, tidak ada satupun pria yang menggilai ku?" batin Intan menangis pilu.
" Masalahnya tidak semudah itu, Intan!" jawab Niga.
__ADS_1
" Kenapa? Apakah Mas Niga takut, jika wanita itu menampik cinta Mas Niga?" tanya Intan.
" Aku yakin, dia juga mencintai aku. Cuma dia tidak menginginkan aku mendekati nya kembali." jawab Niga.
" Kok jadi berbelit- belit sih?" sahut Intan.
" Mas Niga gak berani mendekati wanita itu lagi?" tanya Intan lagi.
" Tidak tahu! Masalahnya dia sudah punya kekasih yang baru. Atau mungkin saja pria itu calon suaminya." jawab Niga.
Intan yang mendengar penjelasan Niga, menghela nafasnya. Intan merasa lega dan sangat lega karena wanita yang dicintai Mas Niga, sudah memiliki calon pendamping hidup. Intan tersenyum manis.
" Oh! Lalu apa yang akan Mas Niga lakukan? Tidak mungkin dong, Mas Niga berlarut- larut memikirkan wanita yang tidak memikirkan Mas Niga. Mas Niga. kangen, tetapi wanita yang Mas Niga kangenin tidak kangen sama Mas. Menyedihkan sekali!" kata Intan.
" Entahlah! Mungkin besok aku akan mencoba sekali lagi menjumpai nya. Aku ingin bicara dengan nya. Paling tidak biar lega perasaan ini, jika dia memang yakin dengan pilihannya." ucap Niga serius.
Intan kembali termenung. Mendengar perjuangan Mas Niga untuk mendapatkan kembali wanita yang dicintainya, Intan menjadi merasakan penuh dadanya. Kerongkongan menjadi tersendat. Rasanya ini pukulan yang menyakiti jantungnya. Rasanya jantung itu seperti mau retak. Tetapi berusaha di rekatkan dengan kuat keyakinannya, bahwa segala kemungkinan akan terjadi. Dan wanita itu tetap bersikeras dengan kekasih barunya tidak memilih Niga.
" Wisnu, sayang! Om Niga balik dulu yah!" kata Niga sambil menggendong Wisnu sebentar.
" Doakan Om, bisa mendapatkan hati Tante Galuh lagi. Supaya Om bisa memperistri nya." bisik Galuh ke telinga Wisnu. Wisnu yang merasa kegelian tertawa terbahak- bahak.
" Wisnu, malah tertawa sih!" kata Niga sambil kembali menciumi pipi kiri dan kanan milik Wisnu.
Niga menurunkan Wisnu dari gendongan nya. Dan mulai melangkah menuju mobilnya yang dia parkir kan didepan rumah itu.
Lambaian tangan Niga, membuat Intan semakin tidak menentu. Hati Intan teriris- iris pedih karena dirinya mengetahui perasaan nya bertepuk sebelah tangan. Badannya semakin lunglai tidak bersemangat.
" Wisnu! Kita masuk ke dalam yuk!" ajak Intan sambil menggendong Wisnu yang menunjukkan senyumannya yang mengembang.
Aku tidak akan sesakit ini, jika mengetahui bahwa hatimu tidak ada namaku. Aku tidak se gundah ini, tatkala perasaan tak bersambut. Aku seperti berjalan sendiri, memberikan harapan kosong ke pikiranku. Aku dalam kesepian ketika rindu itu datang tetapi orang yang ku rindu kan mengharapkan yang lainnya.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah, menanti uluran kasihnya mendekati aku dan menerima ku. Membalas rasa ini. Jika tidak? Aku akan mundur alon- alon melupakan nya. Melupakan khayalan indah untuk bersamanya. Melupakan mimpi berdua dengan nya.
__ADS_1
*******
" Galuh! Aku akan ke rumah kamu!" kata Niga pelan.
" Kamu menerima aku atau tidak, yang penting aku harus berjuang terlebih dahulu." gumam Niga penuh semangat.
Bunyi ponsel Niga terdengar. Niga mengangkat ponselnya sambil menepikan mobilnya.
" Ada apa sayang?" tanya Niga lembut.
"Ayah! Rosa di rumah nenek!" kata anak gadis di seberang sana.
" Oh iya, hati- hati dijalan, sayang!" sahut Niga penuh kasih sayang.
"Iya, ayah! Ayah juga hati-hati!" kata Rosa melalui sambungan ponsel itu.
" Tentu sayang! Oh iya, jangan makan yang pedes- pedes dulu, ya nak! Perut Rosa belum bisa makan yang pedes- pedes." nasihat Niga kepada Rosa.
" Baik ayah! Assalammualaikum!" sahut Rosa.
" Waalaikum salam!" ucap Niga lalu kembali meletakkan ponselnya di samping kursi mobilnya dan melanjutkan perjalanan nya ke rumah Galuh.
" Semoga Galuh bisa menjadi Bunda yang terbaik untuk Rosa." kata Niga pelan sambil tersenyum sendiri.
Khayalan Niga sudah terbang kemana- mana. Mungkin saja sudah sampai ke planet Mars. Impian- impian indah dan konyol bersama Galuh sudah sering menari- nari dibenak dan pikirannya.
" Hahaha! Aku bisa gila kalau seperti ini terus!" ucap Niga sambil tersenyum sendiri.
" Memang jatuh cinta, bisa membuat gila seseorang. Jadi tertawa, tersenyum sendiri. Mengkhayal yang bukan-bukan. Jadi males makan, susah tidur. Terbayang selalu wajah nya. Ya Tuhan! Mau- maunya aku menjadi gila seperti ini." kata Niga sambil menjalankan mobilnya.
Tiba-tiba ada mobil dari arah berlawanan nyaris menabrak nya. Untung saja, Niga dan mobil di depannya dengan sigap bisa mengatasi situasi itu.
" Astagfirullah! Maaf Pak!" teriak Niga setelah membuka kaca mobilnya.
__ADS_1