Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
KERINDUAN YANG TAK BISA DIBENDUNG


__ADS_3


Hujan deras pasti cepat reda, menumpahkan tangis awan gelap dengan bongkahan air yang mengkristal. Cepat berlalu segala duka, sepi karena rindu yang tertahan. Aku disini masih menanti dalam sepi, sepinya tanpa kabarmu di sana. Adakah rindu itu untuk aku disini, yang selalu menanti pertemuan indah yang kau janjikan. Kata manis dan indah hanyalah penyemangat hati, mungkinkah nyata dikemudian hari.


*******


" Jikalau rasa ini tak mampu ku tepis kan. Semua salah bukan dari cinta itu sendiri. Mungkin saja, salah kita yang tak rela menjauh dari jarak ini. Mungkin saja terlalu indah untuk berusaha menyingkirkan rasa itu. Terlalu manis kenangan itu, hingga tak mampu dan kuasa menolak rindu n dendam yang sudah sekian lama terpendam." ucap Rosiana dalam seruput kopi hitam di atas mejanya.


" Apakah kamu masih menyimpan rasa itu, Ros? Rasa yang tidak mampu dan hilang begitu saja dari hatiku yang paling dalam." sahut Wardha yang duduk di bawah pohon besar yang cukup rindang di pagi itu.


" Sekarang saya kembalikan pertanyaan itu, terhadap kamu, Mas. Selama ini, masih adakah terselip kerinduan yang dulu itu pada hati kecilmu Mas?" tanya Rosiana.


Wardha hanya terdiam dan berusaha mendekatkan tempat duduknya lebih dekat ke arah Rosiana yang sedang duduk menikmati kopi hitam di pagi itu.


" Tetapi posisi kita sudah lain, Mas. Mas Wardha sudah bahagia bersanding dengan wanita yang berkelas. Sedangkan aku adalah perempuan desa, yang hadir dimasa lalu." sahut Rosiana sambil menatap kosong bukit- bukit villa yang terlihat indah dan asri disekitar itu.


" Tapi cerita masa lalu itu kini telah jelas menari- nari di pelupuk mataku, Rosiana. Kerinduan yang semakin membuncah tatkala, aroma tubuhmu masih sangat jelas dipikiran ku. Apalagi ketika aku melihat Siwa, sorot matanya seperti pantulan dari mata kamu, Ros. Aku tidak bisa membuang, cerita masa lalu ketika bersama kamu. Dan maafkan, aku yang begitu pengecut meninggalkan kamu begitu saja, seolah lari dari tanggung jawab itu. Aku menyesal, Rosiana. Jadi, ijinkan aku menebus kesalahan diwaktu dulu. Menjadikan Siwa sebagai anakku dan aku ingin melihat kamu bahagia disisi ku." kata Wardha sambil cepat meraih pergelangan tangan milik Rosiana.


Rosiana secepatnya menarik tangannya yang sempat digenggaman Wardha.


" Maaf, Mas Wardha! Aku tidak bisa melanjutkan hubungan yang dulu sempat tertunda. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan kamu dengan nyonya Sarwenda. Nyonya Sarwenda sudah begitu baik menerima kami berdua di rumah kalian. Aku tidak ingin merusak pagar ayu di dalam rumah tangga kalian." kata Rosiana.


" Tapi Rosiana! Kehadiran kamu membuat hatiku semakin teriris- iris dan terluka. Menatap wajahmu dan melihat sosok mu, dalam kejauhan tanpa aku bisa menggapai dan merengkuh nya itu begitu menyiksa batin aku. Betapa aku sangat menahan kerinduan bersama kamu. Tolonglah Rosiana, ini sungguh menyakiti aku. Dan apakah kamu tidak sakit, akan perasaan ini. Cerita lama yang kini semakin terbuka kembali, itu tidak mudah aku tepis kan, Rosiana." kata Wardha.


" Kalau begitu, biarkan aku pergi menjauhi kalian." sahut Rosiana sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


" Jangan Rosiana! Jangan kau lakukan itu lagi. Jangan menjauh dari kehidupan ku. Tolong, aku tidak bisa." kata Wardha.


" Tapi Mas, aku tidak ingin kehadiran ku ini menjadi perusak rumah tangga kalian. Aku tidak ingin menjadi orang ketika yang seenaknya menghancurkan kedamaian dan ketentraman istana kalian. Hanya satu yang aku pinta dari kamu Mas. Titip Siwa, dan besarkan dia." kata Rosiana.


" Kamu ingin menjauh, setelah perasaan ku ini sudah semakin meluap- luap ingin menggapai mu, Ros? Kamu sangat jahat. Aku rela melakukan apa saja, supaya aku bisa kembali lagi dengan kamu. Kamu harus yakin dan percaya itu." ucap Wardha.


" Hahahahahaha! Oh ya? Benarkah? Apakah kamu akan rela meninggalkan kemewahan yang sudah kamu miliki ketika bersama dengan Sarwenda? Aku tidak akan pernah yakin itu, Mas." sahut Rosiana.


" Kamu menantang aku, Ros?" ujar Wardha kembali mendekat ke arah Rosiana dan berusaha meraih tubuh mungil Rosiana.


Pelukan Wardha itu begitu erat dan kuat sehingga Rosiana tidak mampu melepaskan tangan kokoh milik Wardha. Pagi yang cukup buta, se buta cinta Wardha yang tidak. mampu terelakkan. Perasaan dan kerinduan nya terhadap Rosiana tidak bisa ditahannya. Jauh dari sepasang laki-laki dan perempuan itu, ada sorot mata yang tajam menatap keduanya.


" Rosiana! Wardha! Aku tahu hal ini akan bakal terjadi lagi. Cinta yang dulu pernah terpendam, kini mencuat kembali. Kalian sama-sama laki-laki dan wanita dewasa. Apakah aku bisa mencegah dan melarang hubungan terlarang tersebut? Ya Tuhan, Rosiana. Akhirnya kamu tidak mampu menepis segala rasa itu. Rasa yang dulu pernah membuat hatimu hancur berkeping-keping, dan kini kamu begitu mudah memaafkan laki-laki yang dahulu pernah meninggalkan kamu. Cinta yang buta dan buta karena cinta." kata Mbak Santi.


*******


" Ki.. kita mau kemana, Mas?" tanya Rosiana yang hanya mengikuti Wardha menarik tangan nya masuk ke dalam mobil pribadi milik Wardha.


"Menurut kamu?" tanya Wardha dengan senyuman yang menggoda. Pintu mobil itu pun di tutup nya dan Wardha mulai dengan aksinya mendekati wajah Rosiana dan dengan cepat menciumi wajah halus dan polos itu.


" Mas!" ucap Rosiana pelan.


" Aku kangen, Ros! Aku hanya ingin mencium kamu saja." kata Wardha dengan nafas yang mulai tidak beraturan.


Wardha mulai bereaksi mencium kedua pipi Rosiana. Kini beralih ke dahi Rosiana. Rosiana hanya diam sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Sorot mata Wardha memang nyata menyatakan kerinduan itu.


" Apakah kamu juga merindukan aku, Rosiana?" tanya Wardha dengan sorot mata yang mengiba.


" Apakah aku pantas, merindukan suami orang, Mas? Iya, bukankah kamu sudah menjadi suami orang? Apakah aku pantas memiliki rindu pada kamu lagi?" tanya Rosiana.


" Kamu lebih dahulu hadir sebelum Sarwenda, Rosiana. Kamu boleh kok, rindu dengan aku." ucap Wardha sambil mendekati bibir mungil milik Rosiana.


Rosiana hanya diam dan merasakan hembusan nafas Wardha yang mulai tidak beraturan.


" Maafkan aku, Rosiana!" ucap Wardha sambil mengecup bibir seksi milik Rosiana yang seolah pasrah ingin dicium oleh Wardha. Suasana saat itu seperti telah mendukung mereka berdua untuk melakukan yang lebih dari itu. Di dalam mobil yang hanya mereka berdua, sudah cukup bagi mereka untuk melakukan aksi yang lebih intim untuk mereka lakukan.


" Kamu boleh membalas nya, Ros!" pinta Wardha memohon.


" Aku tahu, kamu sangat ingin membalasnya bukan?" tambah Wardha sambil tersenyum nakal. Akhirnya ciuman itu semakin memanas dan menggila.


" Cukup Mas!" kata Rosiana sambil berusaha menepisnya.


" Baiklah! Lain kali, aku ingin lebih dari ini, sayang!" kata Wardha sambil keluar dari mobil pribadi nya itu.


Rosiana hanya terdiam sambil mengusap bekas ciuman dengan Wardha.


" Aku.. aku, Apa yang aku lakukan?" kata Rosiana dalam penyesalan sambil keluar dari mobil itu dan kembali berjalan ke villa yang ditempatinya.


" Aku tidak bisa berbohong dengan Mbak Santi. Aku harus bagaimana?" gumam Rosiana.

__ADS_1


__ADS_2