Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
INGIN MEMILIKI SEPENUHNYA


__ADS_3

Di kediaman rumah Sarwenda. Di kamar Rosiana.


"Kamu ngapain ke sini mas? Nanti kamu di cariin istri kamu loh!" kata Rosiana yang seperti merajuk. Wardhana hanya tersenyum melihat Rosiana yang bersikap seperti merajuk dan cari perhatian.


" Bukannya kamu juga istriku?" sahut Wardhana sambil dengan cepat memeluk tubuh Rosiana dari belakang.


" Maksud aku Sarwenda. Lebih tepatnya nyoya Sarwenda!" sahut Rosiana.


" Hahaha, apakah kamu sedang merajuk? Kamu juga sudah menjadi nyonya Wardhana sekarang."kata Wardhana sambil tetap memeluk Rosiana supaya memberi tenang wanita itu.


"Tidak! Aku tidak merajuk, cuma lagi kesal aja." sahut Rosiana.


" Kamu kesal kenapa, sayang!" tanya Wardhana sambil mencium leher Rosiana dan sedikit menghembuskan nafasnya ke telinga Rosiana supaya sedikit bikin merinding tubuh Rosiana.


" Ah Wardhana. Kamu ini seharian tidak menganggap aku ada. Aku mondar-mandir di hadapanmu tapi kehadiran ku bahkan bayangan ku pun seolah tidak kamu hiraukan. Aku sakit hati, kamu hanya fokus dan tertuju pada wanita itu." ungkap jujur Rosiana.


Wardhana tersenyum senang melihat Rosiana yang terlihat cemburu dan tampak menggemaskan seperti anak kecil.


" Hahaha, mana mungkin aku bersikap manis di depan Sarwenda, sayang! Nanti bisa ketahuan dong!" sahut Wardhana sambil menurunkan gaun tidur yang dikenakan oleh Rosiana. Wardhana mulai mencium pundak halus milik Rosiana.

__ADS_1


" Tapi ini sungguh menyakiti aku, mas! Aku juga istri kamu." sahut Rosiana.


" Jangan menuntut terlalu banyak kepadaku dulu, Sayang. Nanti kalau Sarwenda mengetahui hubungan kita ini, bisa berantakan kita." kata Wardhana.


" Biarkan saja! Lebih cepat tahu lebih baik, bukan?" sahut Rosiana sambil cemberut.


" Jangan dong sayang! Nanti kamu tidak bisa tinggal disini dan bersamaku lagi." ucap Wardhana sambil membalikkan tubuh Rosiana menghadap kehadapan nya. Kini tangannya membelai lembut rambut Rosiana yang dibiarkan diurai.


" Tapi aku sudah sangat bosan mas. Kucing- kucing an seperti ini." keluh Rosiana sambil bergelayut manja.


" Sayang! Sabar dong sayang! Toh aku tiap malam mendatangi kamu di kamar ini bukan?" sahut Wardhana dengan tersenyum.


" Kamu juga ngarep bukan? Kamu juga suka bukan?" ujar Wardhana sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Rosiana lebih dekat dan dekat sekali. Hingga hidung mereka kini sudah saling menempel.


" Apakah istri kamu sudah tidur?" tanya Rosiana sambil mengusap lembut bibir Wardhana dan memainkan dengan jari lentiknya.


" Sudah! Apakah kamu ingin kita mulai sekarang?" tanya Wardhana dengan senyuman yang mengembang.


" Tidak! Aku mau makan!" jawab Rosiana.

__ADS_1


" Apa? Kamu belum makan, sayang?" tanya Wardhana.


" Belum! Malas makan! Habis dari tadi lihat mas Wardhana dengan si itu, mesra melulu. Aku jadi berasa kenyang dan malas makan." keluh Rosiana.


" Astaga naga! Maaf sayang! Kamu jadi tidak selera makan gitu. Tapi kenapa kamu menjadi malas menyebutkan nama Sarwenda sih? Si itu? Haha, Kenapa?" ucap Wardhana sambil tersenyum.


" Karena aku cemburu." jawab Rosiana.


" Asyik! Kamu bisa cemburu, berarti kamu sangat mencintai aku bukan?" ujar Wardhana.


" Lebih tepatnya aku sudah sangat egois. Aku tidak ingin berbagi dengan wanita itu. Kamu seharusnya menjadi milik aku saja, mas!" keluh Rosiana.


" Hahaha. Tidak boleh begitu dong sayang! Saat ini untuk urusan gituan, kamu sekarang yang memonopoli aku loh, sayang!" kata Wardhana jujur.


" Mana aku tahu dengan pasti soal itu mas! Bukankah aku tidak bisa melihat kamu ketika sudah masuk di kamar kalian yang super megah, mewah itu."protes Rosiana dengan cemberut.


" Ya sudah! Sekarang mau makan atau mau makan aku dulu. Terserah kamu deh. Aku pasrah aja!" sahut Wardhana sambil membanting tubuhnya sendiri ke atas kasur empuk milik Rosiana yang sempit itu.


Rosiana tersenyum melihat Wardhana yang berbaring pasrah. Dan pura- pura tidur dan memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2