Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
PILIHAN


__ADS_3


Semesta selalu memberikan harapan indah bagi makhluk yang berusaha menikmatinya. Hijaunya daun seperti memanjakan mata bagi yang melihatnya. Rasa syukur Hadir ketika manusia dalam ikhlas akan ketentuan nya. Ketetapan yang sudah diberikan pada dirinya. Tidak ada keluh kesah dan penyesalan akan takdir yang ada di kehidupannya. Kebahagiaan itu sejatinya adalah jika manusia rela dan ridlo akan apa yang sudah menjadi titahNya. Dengarkan, jalankan segala kebaikan sesuai kewajiban kita.


" Aku tidak akan sesakit ini jika sebelumnya tidak mengenal dan menjadi dekat padamu. Ketika cinta ini sudah tumbuh, kamu menjauh begitu saja kepada ku. Kamu pergi dan memilih nya dibandingkan dengan aku." kata Andrie kepada Galuh yang sedang duduk di kursi kayu panjang yang terletak di taman depan rumah Galuh.


Galuh hanya terdiam menundukkan kepalanya. Air matanya mulai jatuh yang dengan cepat dihapus nya perlahan. Kesedihan itu terasa berat dirasakan oleh Galuh. Tetapi saat ini, dirinya benar-benar dilema. Hati kecilnya sungguh- sungguh tidak bisa menepis sosok Niga. Ketika sepi sendiri, pikiran nya hanya tertuju pada Niga dan bukan kepada Andrie. Padahal jelas-jelas, Andrie lah yang lebih banyak memberikan perhatian dan mengembalikan senyumnya ketika kecewa itu hinggap dihati nya.


" Katakan lah sekali lagi, Galuh! Kamu akan memilih Niga atau aku?" tanya Andrie dengan suara bergetar. Tangannya mulai meraih lembut pergelangan tangan milik Galuh.


" Aku...aku...aku.." sahut Galuh dengan suara pelan. Butiran air matanya kembali jatuh di matanya yang bulat.


Andrie terdiam menunggu Galuh untuk beberapa saat supaya bisa melanjutkan kalimatnya. Akhirnya genggaman tangan itu, Andrie lepaskan. Andrie mulai berdiri dan mengusap kepala Galuh.


Galuh menengadah melihat wajah Andrie yang berdiri di depan nya.


" Kamu tidak bisa menjawabnya, Galuh? Itu artinya kamu lebih memilih Niga dibandingkan dengan aku, kan? Satu lagi pertanyaan buat kamu. Apakah kamu sedikit pun tidak menyukai aku?" ucap Andrie.


" Suka...aku suka kamu." jawab Galuh.


" Jadi?" tanya Andrie lagi.


" Tapi aku...aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini dengan kamu, bang." jawab Galuh.


" Baiklah! Cukup! Aku sudah tahu jawabannya. Terimakasih sudah bersama ku selama ini. Terimakasih sudah memberikan kasih sayang mu kepadaku kemarin lalu. Walaupun akhirnya kamu membuang aku ketika aku sedang sayang-sayang nya padamu." ucap Andrie.


" Bukan begitu, bang!" sahut Galuh.


" Ya sudahlah! Perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Aku sangat tahu kamu, Galuh. Ya sudah, aku pulang yah! Pesanku terhadap kamu, jangan sampai pisah lagi dengan Niga. Jaga, rawat hubungan kamu dengan Niga selayaknya kamu merawat tumbuhan itu. Disiram, di pupuk tanaman itu." kara Andrie.


" Abang! Terimakasih banyak, Abang bisa memahami perasaan ku." sahut Galuh.


" Iya! Walaupun sebenarnya hati aku sangat sakit sekali, Galuh. Tapi apa boleh buat. Kamu lebih mencintai Niga." kata Andrie.


Galuh terdiam dan kembali menunduk kan kepalanya. Tangannya mengutak-atik kuku- kukunya.


Andrie mulai melangkah pergi meninggalkan Galuh yang masih larut dalam kesedihan nya. Galuh masih duduk di kursi kayu panjang itu untuk sementara waktu. Sampai akhirnya, Andrie benar-benar meninggalkan rumah itu.


Bunyi ponsel Galuh mulai berdering. Galuh melihat siapa yang menelepon nya.


Satu nama yang sudah bertengger dihatinya cukup lama. Satu nama yang selalu menjaga hatinya agar tidak ada nama lain di jantung itu, walaupun sesaat Galuh menjalin hubungan dengan Andrie. Tetapi kenyataannya, hatinya tidak bisa dibohongi. Galuh masih selalu rindu dengan Niga.

__ADS_1


" Sudah makan, sayang?" tanya Niga di seberang sana setelah Galuh mengangkat telepon masuk itu.


" Sudah!" jawab Galuh singkat.


" Ada apa dengan kamu, sayang?" tanya Niga yang bisa menebak gaya bicara Galuh yang terkesan ada masalah yang disimpannya.


" Tidak ada! Saya baik-baik saja!" jawab Galuh akhirnya sambil mendengarkan tawanya yang lirih.


" Sudah berapa lama aku mengenal kamu, sayang? Kamu sudah tidak bisa menyembunyikan semua yang membuat hati kamu gundah. Apalagi ikatan batin ini begitu kuat dengan hati kamu, sayang." ucap Niga sambil terkekeh di seberang sana.


" Asyik!" sahut Galuh yang kini kembali ceria tidak lesu lagi.


" Ayo cerita! Atau kamu akan mendapatkan hukuman dari aku sebentar lagi." ucap Niga mengancam.


" Sebentar lagi? Memang Mas Niga ada dimana sekarang?" tanya Galuh.


" Kamu lihat lah ke seberang jalan!" jawab Niga yang sudah memarkirkan mobilnya tidak jauh dari rumah milik Galuh tersebut.


Galuh menatap ke seberang sesuai petunjuk dari Niga. Benar saja, mobil berwarna putih itu sudah cukup lama terparkir disana tanpa Galuh memperhatikan nya sedari tadi.


" Eh?" Galuh hanya menutup sambungan telepon itu dan melangkah keluar dari pagar rumah nya untuk menghampiri Niga yang masih di dalam mobilnya.


Niga tersenyum melihat Galuh yang datang menghampirinya. Pintu mobil itu dibuka oleh Galuh dan masuklah di samping Niga.


" Lumayan lah! Lihat bidadari ku yang sedang duduk sendiri di taman itu dengan raut wajah yang penuh kesedihan." jawab Niga sambil tersenyum.


" Ada apa, sayang? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Niga sambil mendekati Galuh lalu dengan cepat menyerobot mencium kening milik Galuh.


" Eh?" Galuh terkejut tapi hanya bisa tersenyum dengan reaksi Niga yang mencium nya dengan tiba-tiba.


" Tidak ada! Lupakanlah. Dengan ada Mas Niga, semua kegundahan dan kesedihan itu seketika hilang." jawab Galuh.


Niga hanya menatap dan kembali terkekeh mendengar rayuan maut dari mulut Galuh.


" Mau masuk kedalam atau disini saja sampai kering seperti ikan asin." ucap Galuh menyindir.


" Disini saja sampai kamu memberikan sesuatu yang tidak bisa aku lupakan seumur hidup ku." sahut Niga dengan sorot mata yang penuh kenakalan.


Galuh hanya nyengir tidak bisa berucap. Sesaat Galuh melihat paper bag di belakang mobil milik Niga.


" Itu apa?" tanya Galuh yang berusaha meraih paper bag dibelakang jok mobil yang ia duduki.

__ADS_1


" Oh itu untuk kamu! Lihat lah!" jawab Niga sambil tersenyum.


" Wow bagus!" sahut Galuh sambil melihat isi dari paper bag yang dibawa oleh Niga di mobilnya.


" Kamu suka, sayang?" tanya Niga.


" Sesuatu yang dari kamu, semuanya pasti aku akan menyukainya." jawab Galuh akhirnya.


" Mulai kumat merayunya." sahut Niga terkekeh.


" Ayo kita masuk kedalam!" ajak Galuh sambil meraih tangan milik Niga setelah Galuh keluar dari mobil itu dan membuka pintu samping mobil Niga.


" Ais! Kamu jangan menggodaku,sayang!" sahut Niga.


" Menggoda gimana sih?" kata Galuh sambil melotot matanya.


" Ini kenapa tangan ku, kamu pegang terus?" ucap Niga sambil tersenyum.


" Eh?" seketika Galuh melepaskan tangannya yang memegang tangan Niga.


" Hehe!" Niga terkekeh melihat reaksi dari Galuh yang mulai merah wajahnya seperti kepiting rebus.


" Di rumah masak apa, sayang? Kebetulan ingin makan nih." tanya Niga.


" Gak tahu! Belum lihat ke meja makan." jawab Galuh.


" Oh!" sahut Niga.


" Kenapa berhenti?" tanya Galuh yang tiba-tiba Niga menghentikan langkahnya sebelum masuk dan membuka gerbang rumah milik Galuh itu.


" Kita makan di luar saja yuk!" ajak Niga lalu meraih tangan Galuh dan menariknya ke tempat mobilnya yang terparkir.


" Eh? Tapi saya belum mandi, Mas!" kata Galuh ingin protes.


" Belum mandi pun, kamu masih sangat cantik bagi aku." sahut Niga.


Galuh hanya diam dan tersenyum melihat Niga. Niga baginya bisa memberikan warna dan kekuatan baru bagi hidupnya saat ini. Semangat nya semakin berkobar ketika Niga selalu memberikan perhatian baginya.


*******


Weleh! Lalu semangat menulis aku muncul karena siapa dong? Iya, tentu saja semua karena dukungan dari reader semua. Terimakasih banyak, sudah mengikuti jalannya cerita novel dari penulis Abal-Abal ini.

__ADS_1


Kunjungi tulisan saya yang lain ya! Dan yang suka mendengarkan audio books dengarkan suara saya yang saya dubbing kan. Kritikan dan saran yang membangun sangat saya terima dengan senang hati, agar kedepannya saya bisa lebih baik dalam menciptakan karya-karya.


Ucapan terimakasih banyak kepada sahabat yang selalu memberikan dukungan ketika saya berusaha menyalurkan hobi menulis dan dubbing saya. Matur Sukma 🙏 dan saya sangat merindukan pertemuan dengan kalian semuanya.


__ADS_2