Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SAMA-SAMA SUKA


__ADS_3

Di dalam ruangan yang ber AC, Hendra sedang sibuk meneliti tumpukan berkas- berkas yang ada di atas mejanya. Di kursi sofa sudut ruangannya masih ada Winda yang diperintahkan menunggu, Hendra. Winda mulai gelisah menunggu Hendra yang belum selesai- selesai dengan tumpukan berkas di meja itu.


" Apa ada laporan yang tidak beres, Bang?" tanya Winda yang mulai mendekati Bang Hendra.


" Tidak! Tidak ada masalah yang serius kok. Maaf yah Win, kamu jadi lama menunggu." jawab Bang Hendra.


" Tidak apa bang!" sahut Winda lalu kembali duduk di kursi sofa paling sudut sambil menatap Bang Hendra yang masih fokus dengan kerjaan nya.


Cukup lama, Winda menatap Bang Hendra nyaris tidak berkedip. Tiba-tiba Orang yang merasa dilihatin melihat balik ke arahnya.


" Ganteng yah, wajahku? Sampai kamu tidak berhenti menatap aku terus, Win!" kata Bang Hendra sambil tersenyum.


" Eh?" Winda terkejut dirinya ketahuan menatap pria yang menjadi bos nya itu. Winda menundukkan kepalanya dan pura- pura bermain dengan ponselnya.


Bang Hendra hanya nyengir saja melihat reaksi yang dimunculkan oleh Winda.


Kembali Winda mencuri pandang ke arah Bang Hendra. Kali ini Winda dengan cepat kembali bermain dengan ponselnya.


" Pria ini kalau lagi serius, Sangat kharismatik sekali." batin Winda sambil nyengir.


Bang Hendra sudah selesai dengan pekerjaan nya. Bang Hendra mulai melihat ke arah Winda yang bermain dengan ponselnya sambil cengar-cengir.


" Kamu ngapain Win? Cengengesan sendiri. Apa yang kamu lihat?" tanya Hendra sambil mengintip ponsel yang dibawa oleh Winda.


" Eh? Tidak apa-apa kok, bang? Sudah selesai kah?" ucap Winda sambil berdiri.


" Sudah!" jawab Hendra lalu melangkah keluar ruangan nya dan diikuti oleh Winda.


Hendra berjalan ke arah mobilnya yang terparkir. Winda mengikuti langkah Hendra di belakang nya. Hari ini, Winda memang tidak membawa mobilnya. Tadi pagi, Hendra sengaja menjemput dirinya. Mau tidak mau, Winda akhirnya berangkat ke kantor satu mobil dengan Hendra. Tatapan tidak senang masih terlihat jelas dari raut wajah Intan, saat Hendra menjemput Winda. Walaupun Hendra menunggu Winda di depan pagar rumah.


Hendra mulai membukakan pintu mobil nya. Winda pun masuk dan duduk di samping Hendra. Hendra dari dulu tidak pernah memiliki sopir pribadi. Semua dia lakukan sendiri. Hendra mulai menjalankan mobilnya pelan- pelan.


" Adik ipar kamu namanya siapa, Win?" tanya Hendra mulai membuka percakapan.


" Intan, bang!" jawab Winda sambil melirik ke arah Bang Hendra.


" Oh iya, Intan yah?" sahut Hendra sambil nyengir.


" Kenapa bang? Abang naksir?" tanya Winda.


" Oh tidak! Aku kan naksir kamu, Winda!" jawab Bang Hendra sambil tersenyum melirik ke arah Winda. Winda yang mendengar jawaban dari Bang Hendra, membuang mukanya karena malu.


Hendra yang melihat reaksi dari Winda hanya tersenyum.


" Ke rumah aku dulu yah, Win! Galuh lagi sakit, katanya kangen kamu." kata Hendra.

__ADS_1


" Alasan!" batin Winda tapi didalam hatinya tertawa geli.


" Hah? Galuh sakit apa?" tanya Winda akhirnya.


" Kecapekan saja." jawab Hendra.


" Kita mampir beli buah, bang! Untuk Galuh." ajak Winda.


" Tidak perlu! Di rumah banyak buah-buahan. Mama dan papa kemarin sudah belanja banyak buah-buahan." ujar Hendra.


" Mama dan papa, Bang Hendra lagi di Jakarta?" tanya Winda.


" Iya! Nanti aku kenalkan kamu ke papa dan mama ku yah, Win." jawab Hendra.


Winda hanya diam sambil tersenyum. Senyuman itulah sebagai jawaban Winda, pengganti kata 'iya'.


" Aku tidak seserius ini, Winda! Aku ingin menjadikan kamu, istri aku. Mungkin saja, ini terlalu cepat bagi kamu untuk membuka kembali hati kamu kepada seorang pria. Tetapi aku sangat sungguh-sungguh dan tidak pernah main- main." kata Hendra masih dengan menjalankan mobilnya.


Winda hanya melihat ke arah Hendra. Tatapan Winda mulai meneliti setiap baris kata-kata yang keluar dari mulut pria yang ada disampingnya.


" Kamu tahu Win? Adik ipar kamu, Intan. Masih belum rela, jika kakak iparnya di dekati oleh seorang pria. Hehe." cerita Hendra sambil tertawa kecil.


" Hehe iya aku sangat tahu dan paham mengenai itu." sahut Winda.


" Kamu juga menyadari nya? Kalau adik ipar kamu berusaha memblokir jalan untuk mendekati kamu." ucap Hendra sambil nyengir.


" Iya betul! Kata adik ipar kamu, kamu lagi tidak ada di rumah. Hahaha." cerita Hendra.


" Abang percaya begitu saja?" tanya Winda.


" Tidak! Aku tidak ingin adik ipar kamu semakin membenciku. Aku pikir belum waktunya aku bermain di rumah kamu, Win. Jadi aku putuskan untuk pulang saja." ungkap Hendra sambil tersenyum melirik ke arah Winda.


" Lagi pula aku masih bisa leluasa bertemu kamu di kantor dan bisa membawa kamu pergi sepulang kantor, bukan?" ucap Hendra.


" Tuh kan benar? Pria ini banyak tipu muslihat nya kan?" batin Winda sambil membuang muka nya ke samping.


" Kamu bahagia bukan, Win? Ada seorang pria ganteng, masih perjaka, menyukai kamu." kata Hendra.


" Siapa?" tanya Winda sambil menoleh ke arah Hendra.


" Aku! Siapa lagi kalau bukan aku?" ujar Hendra.


" Sudah beberapa kali aku mengungkapkan perasaan ku, Win. Kamu hanya tersenyum mendengarnya saja. Kamu tidak ingin menjawabnya?" kata Hendra sedikit memaksa.


" Menjawab apa? Yang mana yang harus aku jawab bang?" tanya Winda.

__ADS_1


" Astaga! Aku lama- lama bisa gila karena kamu selalu pura- pura tidak tahu dengan semua ini." sahut Hendra.


" Hehe!" Winda hanya terkekeh saja.


Cukup lama Winda diam dan Hendra pun lebih memilih diam dan fokus dengan nyetir nya. Akhirnya Winda mulai angkat bicara.


" Aku perlu waktu, bang! Aku tidak ingin terburu-buru menikah kembali. Aku masih belum bisa melupakan suami aku." ucap Winda sambil menunduk.


" Winda! Maaf!" sahut Hendra.


" Tetapi apakah hatimu tidak berusaha membuka pria manapun yang berusaha mendekati kamu?" tanya Hendra.


" Kalau aku tidak membuka hatiku ini, mana mungkin aku mau diajak ke rumah Abang? Abang ingin mempertemukan aku dengan kedua orang tua Abang, bukan?" tanya Winda. Hendra nyengir mendengar semua kalimat yang dilontarkan Winda.


" Hehe iya! Aku serius Win! Jadi aku ingin memperkenalkan calon istriku kepada mama dan papa. Mereka sangat ingin kenal dengan wanita yang aku cintai." kata Hendra serius.


" Winda! Aku mencintai kamu!" kata Hendra serius ketika mobilnya sudah berhenti di depan rumah nya.


Winda hanya diam dengan menatap Hendra yang serius mengatakan pernyataan cinta nya.


" Aku akan sabar menunggu. Sampai kamu siap untuk menjadi istri aku." kata Hendra.


" Aku yakin, kamu pun sudah mulai menyukai aku bukan?" tuduh Hendra tanpa malu.


" Enggak! Abang GR!" sahut Winda sambil tersenyum.


" Ayolah Win! Kamu jangan berbohong terus padaku! Katakan kalau kamu juga menyukai aku." pinta Hendra.


" Apa itu harus?" tanya Winda yang tersenyum sambil membuang mukanya karena malu.


" Iya! Coba katakan sekali saja." pinta Hendra seperti anak kecil.


" Nanti saja. Ayo kita turun!" ujar Winda.


" Tidak! Kita akan tetap di dalam mobil ini, sampai kamu mengakui perasaanmu terhadap ku." kata Hendra.


Cukup lama mereka diam di dalam mobil itu. Hendra harap- harap cemas menanti kalimat apa yang akan keluar dari mulut Winda. Winda melirik ke arah Hendra yang pura-pura tidur memejamkan matanya.


" Iya, aku suka Abang!" kata Winda pelan sambil menunduk malu.


Hendra yang mendengar suara Winda pelan, pura-pura tidak mendengarnya. Hendra masih diam memejamkan matanya.


" Aku suka Abang!" kata Winda Lagi. Kali ini suaranya dibuat keras sambil melihat ke arah pria yang pura-pura tidur itu.


Hendra tersenyum manis menatap Winda. Winda memalingkan mukanya karena malu.

__ADS_1


" Ayolah turun! Kita sudah lama didalam mobil." rengek Winda mulai keluar manja nya.


" Hahaha! Baiklah!" sahut Hendra.


__ADS_2