
Cerita itu sudah terukir dan di tuang dalam lembaran kertas. Namun kisah lama itu masih juga dikenang bersama namanya yang masih terpahat di dinding jiwa.
Aku adalah manusia lemah dan hina. Aku adalah makhluk Tuhan yang selalu bergantung dengan Nya tanpa terkecuali. Makhluk yang telah di sempurna kan dari makhluk ciptaan lain Nya.
Aku adalah butiran debu yang mampu menorehkan kepedihan di mata. Melekatkan kotoran yang ber kerak. Membuat noda - noda kecil semakin menebal karena tiada tersuci kan.
$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$
Hari yang di nanti telah tiba di depan mata. Segala acara dan prosesi pernikahan adat Jawa sudah di lalui dengan lancar. Tinggal tahap terakhir adalah sungkeman. Sungkeman adalah berlutut di depan kedua orang tua masing-masing mempelai sebagai bentuk penghormatan. Karena telah membesarkan mereka hingga akhirnya dapat menjalankan kehidupan baru bersama pasangan nya.
Walaupun Ini pernikahan yang kedua bagi Intan Tetapi bagi Andrie ini adalah pernikahan nya yang pertama dan terakhir. Senyum merekah dan kebahagiaan terpancar dari masing-masing wajah mereka. Semburat keceriaan dan kegembiraan terpancar dalam hati mereka.
Di depan papa mama nya Intan berlutut. Papa dan mama Intan mulai terharu dengan prosesi adat Jawa yang terakhir itu. Kenapa tidak? Sudah sekian lama, mereka masih menganggap Intan masih seorang anak kecil, yang perlu dimarahi, diarahkan,dibimbing, diperhatikan dan juga masih dibawah ketiak mama dan papa nya. Kini Intan akan menjadi ibu rumah tangga yang bertanggung jawab terhadap suami dan anak - anak nya kelak.
Di depan mama nya, Intan mulai berlutut sambil bersalaman.
" Mama! Restu dan doa mama sangat saya harapkan untuk kelanggengan rumahtangga saya. Semoga saya bisa menjadi istri yang baik dalam bahtera rumah tangga ini." ucap Intan pelan dengan suara bergetar.
" Aamiin Intan Doa mama selalu menyertai kamu!" sahut Bu Hartini terlihat meneteskan air matanya. Pelukan hangat seorang ibu dan anak itu terjadi.
Kini Intan beralih berlutut di hadapan papa nya sambil berjabat tangan dengan erat.
" Papa! Saya mohon doa restu. Agar saya bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anak saya kelak dan selalu berbuat baik dengan suami serta orang tua saya!" ucap Intan dengan penuh keharuan.
Pak Hartono terlihat berkaca-kaca. Seorang laki-laki yang dikenal sangat tangguh itu pun bisa meneteskan air mata nya ketika putrinya memohon doa restu agar bisa langgeng dalam menjalani mahligai rumah tangga.
" Aaminn! Doa papa selalu menyertai kamu." sahut Pak Hartono.
Demikian juga dengan Intan. Intan mulai sungkeman dari orang tua kandungnya sampai dengan orang tua dari Andrie. Andrie pun beralih berlutut di depan mertuanya. Mengharapkan keikhlasan dan keridhaan orang tua Intan, meminta restu untuk menjadikan Intan sebagai istrinya dan menjadi ibu bagi anak-anak nya kelak.
Keharuan dari prosesi sungkeman itu terlihat jelas. Seorang ayah dan ibu dengan anaknya yang berlutut untuk memohon restu dalam menempuh hidup baru. Mereka butuh pengakuan dan doa restu orang tua. Agar perjalanan rumahtangga mereka bisa dilalui dengan penuh kebahagiaan dan ridlo nya.
Pernikahan Intan dan Andrie tergolong meriah dan mewah. Tamu - tamu undangan yang hadir dari dua keluarga besar dan rekan - rekan kantor Andrie dan Intan sudah mulai ramai berdatangan. Senyum lebar dari kedua mempelai terlihat menawan. Wajah mereka ceria sehingga rasa letih dan capek pun tidak ia rasakan. Betapa tidak dari pagi mereka sudah melalui prosesi awal yaitu prosesi ijab kabul atau akad nikah. Sebagai bukti bahwasanya mereka sah menjadi suami istri secara hukum dan agama. Saling berjanji menunaikan kewajiban masing-masing sebagai istri dan suami.
Galuh yang saat ini tengah ngidam juga bela- belain datang bersama Niga suaminya.
" Wah !!! Intan! Kamu benar-benar bikin pangling! Cuantik nya tidak ketulungan loh!" ucap Galuh sambil mencium pipi kanan dan kiri mantan rival nya itu.
"Selamat Andrie! Akhirnya impian kamu terwujud bisa bersanding dengan Intan yang cantik ini!" ucap Galuh sambil memberi salam kepada Andrie.
" Terimakasih banyak Galuh! Terimakasih Niga!" sahut Andrie dengan senyum mengembang sambil memeluk Niga di belakang Galuh.
Niga dan Galuh hadir di acara pernikahan Intan dan Andrie. Dengan berpakaian yang senada, mereka mulai mencari tempat duduk setelah bersalaman dengan kedua mempelai untuk memberikan ucapan selamat.
*******
"Andrie! Titip Intan ya! Jaga dia baik - baik!" kata Winda kepada Andrie.
"Tentu Winda!" sahut Andrie singkat singkat sambil tersenyum dan menjabat tangan Winda.
" Intan" panggil Andrie sambil berbisik.
"Aku akan mendatangi Hendra dulu!" kata Andrie sambil turun dan melangkah ke arah Hendra.
"Hendra!" panggil Andrie sambil memeluk Hendra sahabatnya itu.
" Eh Andrie!" ucap Hendra pelan dan menjadi terharu.
" Hendra! Aku minta doa restunya. Semoga pernikahan ku dengan Intan bisa langgeng dan berjodoh dunia dan akhirat." ucap Andrie dengan suara bergetar.
" Iya Andrie Ada apa?" tanya Hendra dengan duduk berjongkok.
" Andrie berdiri saja! Gak enak dilihat orang!" ucap Hendra.
" Tidak apa-apa!" sahut Andrie.
__ADS_1
" Selamat menempuh hidup baru ya Andrie! Akhirnya kamu bisa bersanding dengan Intan. Semoga langgeng sampai kakek nenek. Menjadi keluarga yang mawadah warahmah!" ucap Hendra panjang dan lebar sambil melihat ke arah Winda yang berdandan juga di acara pernikahan Intan dan Andrie.
Hatinya seolah teriris ketika mengingat rencana pernikahannya dengan Winda gagal dan berhenti ditengah jalan. Dan sampai sekarang pun, Hendra yang berusaha memperbaiki hubungan dengan Winda pun tidak pernah berhasil. Winda bersikeras untuk sendiri dulu. Lalu sampai kapan? Itu adalah alasan klise bagi seorang wanita untuk menolak cinta dari seorang pria. Dan lamunan Hendra seketika buyar tatkala Andrie permisi kepadanya.
"Sudah yah, Hen! Aku kembali ke singgasana. Ratu ku duduk sendiri menanti aku. " ucap Andrie sambil tersenyum.
Andrie akhirnya berjalan meninggalkan tempat duduk Bang Hendra.
" Intan! " panggil Andrie sambil berbisik setelah kembali duduk disebelah nya.
" Iya mas!" sahut Intan ikut berbisik.
" Terimakasih banyak sudah memilih aku sebagai suami kamu." ucap Andrie sambil memegang tangan Intan.
"Aku juga mas! Terimakasih banyak sudah mencintai aku dengan penuh kesabaran selama ini." kata Intan penuh keharuan.
" Aku bahagia Intan! Bisa menjadikan kamu istriku dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak." ucap Andrie.
" Aku juga bahagia mas! Bisa memegang amanah itu nanti akhirnya." sahut Intan.
" Semoga cinta kita kekal dan abadi Intan" ucap Andrie dengan harap.
" Aamiin! Aamiin ya Allah! " sahut Intan sambil tersenyum.
" Tante Intan!" panggil Wisnu yang berlari mendekati Intan dan Andrie.
" Eh? Wisnu!Kamu ganteng banget! Mengalahkan Om Andrie loh!" sahut Intan sambil mencium pipi Wisnu.
"Om Andrie juga ganteng tante. " ucap Wisnu akhirnya.
" Terimakasih Wisnu, sayang!" kata Intan sambil mengusap puncak rambut keponakan kesayangan nya, Wisnu.
*******
" Intan. " panggil Andrie pelan.
" Eh??" sahut Intan sambil tersenyum dan mencubit pinggang Andrie.
" Loh! Kita sudah halal loh sayang!" ucap Andrie menggoda lagi.
" Iya! Kamu mau berapa nanti!" ujar Intan menantang.
" Tujuh!" sahut Andrie singkat.
" Astaga!" keluh Intan sambil tersenyum dan menoel pinggang Andrie.
" Banyak anak banyak rezeki loh,sayang!" sahut Andrie sambil berbisik.
" Iya!" ucap Intan terlihat Intan mengeluh sambil menarik nafas panjang.
" Hehehe!" Andrie terkekeh melihat reaksi Intan yang hanya tersenyum malu-malu.
*******
Di hari berikutnya, di sore hari, hari kamis, di depan makam suaminya Almarhum Surya.
Dengan bertelanjang kaki tanpa alas kaki, Winda berdiri di depan makan suaminya sambil mengirimkan doa- doa. Kedua tangannya menengadah mengirimkan hadiah bacaan surat, doa- doa kepada suami tercintanya yang sudah pergi mendahului nya. Tidak ada tangis di air matanya. Winda sudah ikhlas akan semua takdir nya. Takdir nya harus ia jalani menjadi janda yang ditinggal mati oleh suaminya.
Setelah memberikan hadiah dari bacaan ayat-ayat dan doa- doa yang dibacanya. Kini Winda duduk berjongkok di depan makam itu sambil menaburkan bunga yang berwarna- warni lalu menyiramkan air ke atas gundukan tanah yang sengaja sudah ditanami rumput yang rapi. Kini Winda seolah-olah berbicara dengan suaminya.
" Mas! Aku disini mas! Aku kembali datang karena rindu dan kangen dengan kamu. Sungguh kangen banget dengan kamu." kata Winda sambil tersenyum.
" Intan adik kamu sudah menikah dengan Andrie, Mas! Walaupun dia dulu sangat berharap bisa menikah dengan Niga, sahabat kamu. Tapi Intan sudah berjodoh dengan Andrie, mas." cerita Winda pelan sambil mengusap rumput yang ada di depannya.
" Mas! Aku menunggu kamu menjemput aku, mas!" ucap lirih Winda sambil tersenyum.
__ADS_1
" Aku tidak mau menikah lagi. Aku mau membesarkan Wisnu anak kita, mas! Kamu tahu mas? Wisnu saat ini sudah semakin kritis kepadaku, mas. Apalagi jika banyak laki-laki yang berusaha mendekati aku." cerita Winda sambil tertawa kecil.
" Mas? Aku menunggu dengan setia, kamu menjemput aku yah, mas!" kata Winda lagi.
" Jangan lama- lama yah, mas! Apakah kamu di sana sudah ada yang bikinkan kopi? Apakah di sana kamu sudah ada yang menyiapkan baju untuk bekerja, mas?" kata Winda sambil terkekeh sendiri.
" Jadi jangan lama-lama, Mas! Aku masih selalu menunggu kamu datang menjemput aku, mas!" kata Winda.
" Kalau kamu tidak segera menjemput aku, mas. Aku takut, aku akan menikah kembali mas. Dan Apakah kamu rela jika aku menikah kembali mas?" ucap Winda sambil mengusap pelan batu nisan yang bertuliskan nama suaminya itu.
" Apa? Kamu ingin aku menikah kembali? Dengan siapa? Hendra? Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan pria itu, Mas." cerita Winda seolah berbicara dengan Surya nyata- nyata di depannya.
Memang selama ini Winda selalu bercanda ketika bercerita dan berkeluh kesah dengan almarhum suaminya itu.
" Sekarang aku hanya fokus dengan Wisnu dulu mas." kata Winda mengulangi kalimat itu.
" Jangan lupa yah, mas! Cepat segeralah menjemput aku, mas? Apakah kamu lupa jalan untuk menjemput aku, mas?" ucap Winda terkekeh sendiri.
" Ya sudah yah, Mas! Aku pamit pulang! Aku akan selalu mendoakan kamu mas! Mas Surya! Aku rindu mas." kata Winda yang terakhir sebelum meninggalkan makam itu dan memeluk batu nisan yang bertuliskan nama suaminya.
Tidak jauh dari tempat makam itu, ada beberapa pasang mata memperhatikan Winda yang sendirian di makam, diantara nya adalah Haidar, Herika dan Hendra. Ketiga pria yang masih sama- sama menunggu kepastian dari Winda. Mereka masih belum lelah mengejar cinta mereka. Lalu apakah Winda pada akhirnya menikah kembali? Yang pasti saat ini dirinya sudah nyaman sendiri.
*******
Takdir manusia sudah diatur oleh Nya. Jodoh, rejeki,maut sudah tertulis dalam lauhul mahfudz, Kitab Allah yang mencatat seluruh kejadian di alam semesta ini. Siapa yang akan mengira? Awal nya Winda lebih dekat dan pernah berpacaran dengan Hendra ternyata masih juga belum berjodoh dengan Hendra. Rahasia Tuhan siapa yang tahu?
Manusia bisa berencana. Tetapi ketetapan Nya sudah mutlak dan sudah digariskan. Manusia punya segala pilihan. Tetapi dari pilihan itu manusia lah yang akan menentukan nasibnya sendiri.
Jangan pernah menyalahkan Tuhan. Ketika kita gagal dalam menjalankan rencana - rencana indah kita. Bisa jadi sesuatu yang luput dari diri kita, itu lebih baik menurut Tuhan. Kita tidak tahu. Rahasia yang tersembunyi, dibalik setiap permasalahan diri kita. Dengan kekuatan mata hati kita yang tajam,mudah - mudahan kita bisa menemukan hikmahnya. Di balik semua peristiwa.
Tidak seterusnya manusia berbuat kejahatan. Tidak seterusnya manusia berbuat kebaikan. Adakalanya manusia berbuat salah dan khilaf. Tidak ada musuh yang kekal dan tidak ada kawan sejati yang abadi. Adakalanya manusia berpikiran egois dan tidak perduli dengan orang lain.
Demikian juga yang pernah dilalui oleh segelintir orang. Mereka tidak selalu berbuat khilaf. Adakalanya akan sadar dititik jenuh dan kembali ke jalan Tuhan. Jalan yang menjadikan mereka malu dengan perbuatan yang tidak sesuai. Karena malu lah sifat kecil dari keimanan seseorang dalam beragama.
*******
Alhamdulillah!
Akhirnya selesai juga cerita ini. Semoga ada nilai - nilai baik yang bisa menjadi pelajaran. Semoga tidak terkesan menggurui walaupun bermula dari cerita yang sebenarnya tidak layak di uraikan. Tetapi maksud dan tujuan saya,ada penyelesaian dari semua perbuatan yang tidak sesuai dengan norma susila. Mohon maaf lahir batin! Semoga novel ini bisa menghibur bagi peminat karya sastra. Walaupun tulisan ini belum layak di sebut karya sastra.
Wassalam!
T
A
M
A
T
BACA NOVEL AKU YANG LAIN :
Terimakasih untuk semua reader yang sudah mengikuti cerita ini. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian semua yah, supaya nama kalian sempat aku baca dalam hati ketika nama kalian masuk dalam daftar fans harian maupun bulanan.
Tulisan ini jauh dari kata sempurna karena pada dasarnya penulis nya terlalu memaksa dirinya untuk membuat tulisan. Semoga kedepannya, ketrampilan menulis ini bisa semakin baik dan lebih baik lagi bagi penulis novel ini NAIM NURBANAH.
Mohon maaf lahir batin, jika tidak sesuai dengan pandangan bagi pembaca semuanya.
__ADS_1
W assalammualaikum Wr Wb.