Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
RUMAH BARU


__ADS_3

Dengan apa aku harus berterima kasih? Dengan apa aku bisa membalas ini? Cinta mu yang tulus kau beri tetapi telah aku balas dengan segala kesakitan dan kecewa. Tangis dan air mata telah jatuh karena hasil dari perbuatan ku yang cela. Lalu aku hanya memohon maaf tanpa mampu mengeringkan luka. Aku hanya manusia biasa yang tidak luput dari khilaf dan salah. Salah yang sengaja ini ataukah tanpa aku kehendak ku akhirnya. Biarkan aku datang dan ijinkan untuk menyembuhkan segala luka. Luka yang kurasa akan pulih lama karena parah ku buat kecewa. Kau hanya diam. Diam tanpa mampu mengucapkan sepatah kata. Ini menjadi senjata yang cukup membunuh hatiku yang makin merasa salah. Bicaralah atau berteriak lah dalam kemarahan mu. Agar aku tahu, betapa sakitnya kamu ketika pengkhianatan itu terjadi terhadap jalinan kasih ini.


******


" Wow keren! Selera Surya memang nomer satu. Rumah ini begitu elegan ditambah dengan perabotan nya yang mewah." kata Galuh dengan penuh ketakjuban.


Saat ini Winda, Surya dan juga Galuh sudah berada di rumah baru Winda. Wisnu masih di troli bayi dorong dipegang oleh Galuh. Wajah Winda begitu bahagia ketika masuk kedalam rumah barunya. Harapan nya di rumah itu, akan bisa membawa ketenangan dan kedamaian bersama Wisnu dan juga Surya, suaminya. Saat ini memang Winda masih berusaha bertahan dengan segalanya. Walau pun kekecewaan nya itu perlu waktu untuk bisa dilupakannya.


" Kamu pasti sangat senang dan menyukai nya, bukan?" tambah Galuh kepada Winda sambil tersenyum.


" Apakah kamu menyukai nya, sayang?" tanya Surya sambil merangkul istrinya, Winda.


Winda hanya terpaku melihat suasana rumahnya yang nyaman.


" Tentu saja mas! Terimakasih banyak untuk semuanya. Ini sungguh luar biasa." jawab Winda.


" Syukurlah kalau kamu menyukai nya dan puas dengan apa yang sudah aku berikan ini." ucap Surya sambil tersenyum dan berusaha mengecup kening Winda.


" Eh mas! Ada Galuh di sini, tidak enak." kata Winda sambil berusaha menjauh dan menjaga jarak.


( Wow apakah masih demam Corona kah? Harus menjaga jarak?)


" Ehem.!! Apakah di dapur sudah ada bahan- bahan? Aku kepingin buat kopi." kata Galuh sambil meninggalkan troli bayi yang ada Wisnu di sana.


Winda langsung mendekati Wisnu di troli dorong itu.


" Belum ada, Galuh! Maaf, aku belum sempat belanja dan menyiapkan semuanya." jawab Surya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Eh? Tidak apa-apa mas! Nanti biar aku dan Galuh belanja dulu sebentar." kata Winda sambil tersenyum.


" Baiklah! Kalau mau pergi biar Wisnu, aku yang jaga." sahut Surya.


" Mas Surya yakin?" tanya Winda dengan tatapan tidak percaya.

__ADS_1


" Iya yakin! Aku bisa kok. Kalau nangis tinggal kasih susu formula bukan?" tanya Surya sambil tersenyum.


" Tidak semua bayi nangis itu minta susu atau haus mas. Mungkin saja ngantuk atau minta di gendong. Atau bisa juga ngompol. Hehe." jelas Winda.


" Oh begitu yah!" sahut Surya sambil tersenyum dan menggaruk-garuk kepalanya.


" Besok Baby sitter nya Wisnu akan mulai kerja di rumah ini." kata Surya sambil tersenyum.


" Benarkah? Jadi kamu bisa mulai kerja, Winda." sahut Galuh sambil duduk di sofa baru milik Winda itu.


" Sofa ini nyaman sekali. Aku pasti akan sering-sering kemari, Win." tambah Galuh.


" Kamu itu! Rumah kamu saja bak istana juga loh. Kamu bohong nya terlihat nyata dan jelas." sahut Winda.


" Hahaha. Yang penting aku tidak suka membohongiku kamu!" ujar Galuh sambil terkekeh.


Winda yang mendengar itu seperti merasakan sindiran untuk Surya.


" Eh?" Surya terkejut dengan kata-kata Galuh.


" Eh maaf! Aku tidak bermaksud...." sahut Galuh terlihat tidak enak hati.


" Eh tidak apa-apa. Kenyataannya memang aku sudah buat Salah dan bikin Winda sakit hati." ucap Surya sambil menatap Winda.


" Kalau aku boleh tanya, tadi Galuh bilang kamu akan mulai kerja. Kerja dimana? Kalau boleh aku meminta, biar aku saja yang kerja, Winda. Kamu di rumah saja bersama Wisnu walaupun sudah ada baby sitter." kata Surya.


" Aku ingin kerja juga, mas! Aku mulai merasakan kejenuhan di rumah terus." sahut Winda sambil mendekati Galuh yang duduk di sofa.


" Apakah kamu merasa kurang dengan uang yang aku beri, sayang? Katakan, kamu menginginkan apa, biar aku belikan dan upaya kan untuk kamu." kata Surya.


" Tidak! Tidak! Tidak ada yang kurang mas. Terimakasih banyak untuk semuanya. Tetapi ijinkan aku bekerja mas. Aku perlu, dan ingin menjadi wanita mandiri yang tidak sepenuhnya tergantung kepada suami." kata Winda dengan argumentasi nya.


" Apakah karena kamu kecewa dengan aku, lalu kamu pelan-pelan ingin menjauhi aku dengan kesibukan baru kamu dalam bekerja?" tanya Surya yang pertanyaan nya seperti memojokkan Winda.

__ADS_1


" Mas! Aku perlu suasana baru juga mas!" sahut Winda.


" Tapi Winda! Aku takut, setelah kamu bisa mandiri, kamu jadi lupa akan status kamu sebagai ibu dan istri. Lalu kamu dengan mudah meninggalkan aku, ketika kekecewaan kamu terhadap aku, tidak bisa kamu maafkan." ucap Surya dengan pelan dan terdengar sedih.


Galuh yang berada diantara mereka menjadi tidak enak hati dengan situasi saat itu.


" Eh? Maaf! Seperti nya aku harus ke kamar dengan Wisnu dulu yah." sahut Galuh sambil berdiri dan mengambil Wisnu yang berada di troli bayi dorong itu.


Surya dan Winda hanya terdiam. Mereka saling pandang satu sama lain.


" Winda! Berilah aku kesempatan untuk memperbaiki semua nya. Aku ingin rumah tangga kita seperti dahulu lagi. Dan kamu selalu menjadi wanita yang patuh dan menurut apa kata suami." kata Surya pelan sambil mengambil pergelangan tangan milik Winda.


" Mas! Aku juga perlu waktu mas! Aku perlu obat untuk menyembuhkan segala luka dan kecewa ini. Luka ini masih sangat basah mas. Belum kering juga." ujar Winda yang diam ketika tangan nya di genggam Surya.


" Dahulu dan sekarang sudah berbeda mas. Aku selama ini sudah berusaha menjadi istri kamu yang baik. Aku selalu menuruti kemauan dan kehendak kamu. Ridlo kamu itulah yang aku inginkan. Tetapi mas, berilah aku ijin untuk menyibukkan diri dengan bekerja. Supaya aku bisa melihat rasa kecewa itu." kata Winda dengan serius.


" Apakah kamu dendam terhadap aku, Winda?" tanya Surya seperti menohok Winda.


" Tidak! Tidak! Tidak mas!" jawab Winda sambil menggelengkan kepalanya pelan.


" Kamu bohong! Kamu ingin menjauh dari aku. Kamu masih belum memaafkan aku." sahut Surya.


" Mas?" panggil Winda pelan.


" Baiklah! Tapi berjanjilah padaku! Kamu tidak akan menjauh dan meninggalkan aku." kata Surya.


" Bukankah sejak dari dulu, kalimat ini yang selalu aku ucapkan terhadap kamu kan, mas? Haruskah aku berjanji lagi?" ujar Winda.


" Ini tidak adil! Sekarang berjanji lah padaku, mas! Kalau kamu, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, berkhianat terhadap aku." tambah Winda dengan sorot mata mengintimidasi.


" Baik! Aku berjanji! Aku akan selalu bersama kamu, sampai maut memisahkan kita berdua." kata Surya.


" Hem?" ucap Winda pelan.

__ADS_1


" Iya! Aku janji tidak akan berkhianat dengan kamu." tambah Surya serius.


" Bolehkah aku memeluk kamu, sayang!" kata Surya sambil meraih tubuh Winda pelan.


__ADS_2