Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
TERNYATA DIAM- DIAM TAHU


__ADS_3

Di rumah kediaman Sarwenda.


Sarwenda sedang duduk santai di taman rumahnya bersama anak- anaknya yaitu Dahlia dan Siwa. Sambil menikmati makanan ringan, Sarwenda mulai menghubungi seseorang melalui ponselnya.


" Jadi? Apa yang kamu dapat kan?" tanya Sarwenda dengan tegas.


" Baiklah! Carilah informasi yang lengkap di rumah siapa beliau menginap!" kata Sarwenda lagi masih berbicara dengan orang di seberang sana.


" Oke! Oke! Aku tunggu informasi yang lengkap darimu." ucap Sarwenda akhirnya lalu menutup panggilan keluarnya.


" Santi!" panggil Sarwenda keras.


Mbak Santi yang mendengar panggilan dari Sarwenda si nyonya empunya rumah, langsung berlari kecil menuju ke arah Sarwenda yang sedang duduk.


" Iya, nona!" sahut Mbak Santi sopan.


" Duduklah, Santi!" suruh Sarwenda terlihat serius.


Mbak Santi sedikit curiga dan khawatir tentang hal apa nona nya memanggilnya.


" Santai aja, Santi! Aku cuma sekadar bertanya saja." ucap Sarwenda.


" Non Sarwenda hendak bertanya mengenai apa?" tanya Mbak Santi makin khawatir dan cemas.


" Kamu masih berkomunikasi dengan Rosiana?" tanya Sarwenda. Seketika Mbak Santi mulai gugup. Dirinya sudah mulai negatif pikirannya.


" Kadang-kadang saja, nona! Ada apa nona?" jawab Mbak Santi berusaha bersikap tenang.


" Apakah Rosiana sehat, San?" tanya Sarwenda lagi.


" Sehat, nona!" jawab Mbak Santi singkat.


" Kemarin sebelum Rosiana pamit untuk pulang kampung, bukankah Rosiana sedang mual- mual." ucap Sarwenda.

__ADS_1


" Benar, nona! Itu hanya masuk angin biasa saja nona. " sahut Mbak Santi.


" Mudah-mudahan saja cuma masuk angin biasa saja, yah San?" ucap Sarwenda seolah ada kecurigaan di balik bahasa yang dia ucapkan.


" Iya, nona!" sahut Mbak Santi masih berusaha tetap tenang.


Cukup lama keduanya berdiam dan Sarwenda masih belum bertanya kembali kepada Mbak Santi.


" Setelah Rosiana tidak tinggal di rumah ini, Mas Wardhana mulai sering keluar kota. Itu kata Mas Wardhana yang pamit kepadaku untuk keluar kota." cerita Sarwenda.


" Namun, aku pun juga bukan wanita bodoh, Santi. Selama ini aku diam bukan berarti tidak berusaha mencari informasi atau memastikan kebenarannya. Mas Wardhana yang bersikap romantis dan perhatian secara berlebihan malah membuatku semakin curiga. Apalagi ketika Rosiana masih tinggal di rumah ini. Mas Wardhana lebih suka duduk atau tiduran di ruang tamu. Itu sih kata Mas Wardhana kepada ketika aku bertanya kepadanya dari mana dia." cerita Sarwenda.


" Dalam pikiran ku, apakah Mas Wardhana diam- diam menyukai Rosiana? Apakah Mas Wardhana menyukai wanita yang berasal dari kampung itu? Tetapi kadang aku tidak yakin." cerita Sarwenda yang membuat Mbak Santi seketika demam.


Mbak Santi mulai khawatir jika dirinya tidak hati- hati untuk menjawab pertanyaan dari Sarwenda, bisa bahaya. Rahasia antara Wardhana dan Rosiana akan terbongkar.


" Aku yakin kamu adalah orang terdekat Rosiana. Dan kamu tidak akan tidak mengetahuinya jika mereka benar-benar ada hubungan sejak dari dulu." ucap Sarwenda yang membuat Mbak Santi serasa diinterogasi.


" Asal kamu tahu, Santi! Aku sudah menyuruh orang untuk mengikuti suami aku ketika suami aku berada di luar rumah. Dan kamu tahu?" kata Sarwenda. Mbak Santi seketika membulat matanya karena terkejut dan sangat terkejut.


" Orang ku memastikan siapa yang tinggal di rumah itu dan ternyata yang tinggal di rumah itu adalah seorang wanita yang sedang hamil." kata Sarwenda mulai emosi.


"Dan kamu tahu siapa dia, Santi?" tanya Sarwenda dengan amarah dan suara yang sedikit berteriak. Mbak Santi sampai terkejut mendengarnya.


" Wanita itu adalah Rosiana!" ucap Sarwenda penuh dengan amarah.


" Dan kenapa kamu yang selama ini aku percaya, dan sudah aku anggap sebagai saudara aku sendiri, menyembunyikan itu semua kepadaku." kata Sarwenda.


" Mengapa, Santi?" teriak Sarwenda penuh emosi.


Mbak Santi begitu ketakutan akan kemarahan Sarwenda.


" Ma... ma.. maaf nona! Saya dalam hal ini sangat dilema." sahut Mbak Santi sambil menunduk dan tidak berani melawan.

__ADS_1


Sarwenda menarik nafasnya dengan kasar. Lalu melihat ke arah Siwa yang sedang bermain dengan Dahlia bersama pengasuh nya yang jauh dari mereka sedang berbicara.


" Siwa? Kamu pun pasti sudah tahu bukan? Dia anak siapa?" kata Sarwenda masih bergejolak emosinya.


" Siwa anak dari Rosiana, sudah aku anggap sebagai anak aku sendiri, ibunya malah tega kepadaku. Mengambil suami aku! Merebut Mas Wardhana dari aku." ucap Sarwenda.


" Dan aku bukannya tidak tahu, kenapa Mas Wardhana sangat bersemangat ketika ingin mengasuh dan mengangkat Siwa sebagai anaknya. Mas Wardhana adalah ayah kandungnya Siwa." ucap Sarwenda dengan suara bergetar karena marah dan tangis nya.


" Maaf, nona! Saya salah telah menutupi semua itu dari nona Sarwenda." kata Mbak Santi pelan.


" Tapi kenapa?" tanya Sarwenda mulai memelankan suaranya.


Mbak Santi hanya diam menundukkan Kepala nya.


" Ya sudahlah! Santi, buatkan aku kopi!" suruh Sarwenda sambil menarik nafasnya dengan pelan.


Sesaat matanya terpejam. Hatinya sungguh sakit dengan kenyataan yang dia dengar dari orang nya yang mencari informasi mengenai Wardhana. Dan ternyata Wardhana telah lama menjalin hubungan dengan Rosiana bahkan mereka secara diam-diam telah menikah di kampung tanpa ijin darinya.


Tidak terasa butiran air matanya terjatuh di sudut matanya. Rasanya sakit karena dirinya menganggap hanyalah dirinya saja sebagai satu-satunya wanita yang di cintai dan nikahi oleh Wardhana. Namun ternyata Wardhana sudah bermain gila dengan wanita lain dibelakang nya. Pandai nya Wardhana dalam menyembunyikan kebohongan nya.


" Aku harus bagaimana, Tuhan?" keluh Sarwenda sambil berurai air matanya.


" Mas Wardhana sudah aku percaya ternyata sering membohongi aku."


Mbak Santi datang membawa secangkir kopi untuk nona nya. Mbak Santi masih diam tanpa bisa bercakap. Diambilkan nya tisu untuk nona nya yang terlihat menangis.


" Kamu bersiaplah, Santi! Setelah ini aku akan mengajak kamu ke rumah itu. Rumah dimana suami aku sering menjumpai istri mudanya di rumah itu." kata Sarwenda sambil menyeruput kopi buatan Mbak Santi.


" Nona!" kata Mbak Santi pelan.


" Kamu jangan khawatir, Santi! Aku ingin melihat ekspresi kedua manusia itu ketika aku tiba-tiba datang ke rumah itu." kata Sarwenda dengan tersenyum getir.


" Nona! Saya minta maaf!" kata Mbak Santi kembali meminta maaf karena merasa bersalah dalam masalah ini, menutupi semua nya dari nona nya padahal dirinya sangat tahu dengan jelas akan hubungan mereka.

__ADS_1


" Sudahlah, Santi! Semua sudah terjadi. Kehadiran Rosiana di rumah ini,kembali menumbuhkan rasa cinta Mas Wardhana di masa remajanya dulu. Dan Siwa adalah buah hati dari mereka di kala itu." kata Sarwenda.


" Dalam hal ini aku harus menyalahkan siapa, Santi? Aku pun juga tidak tahu." ucap Sarwenda.


__ADS_2