Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
HARUS BERANI AMBIL KEPUTUSAN


__ADS_3


Hai! Seseorang yang pernah menyakiti mu kenapa kau pertahankan? Hai, cantik! Di luar sana, masih banyak yang menganggap mu sebagai tuan putri yang membuatmu terbang tinggi bagaikan seorang ratu. Kau yang dipuja, kau yang di manja, kau yang bisa menjadi teman bicara, kau yang bisa menjadi tempat berkeluh kesah untuk sandaran dan kekuatan hati yang lemah. Lalu? Apa yang kau cari, cantik? Dunia ini sempit, carilah yang mau menerima kamu sepenuh hati. Yang merasa kuat di depanmu adalah orang yang lemah. Seseorang yang tidak sanggup menatap bola matamu ketika dia salah adalah pengecut. Seseorang yang tidak pernah mengakui kesalahan nya ketika dia salah terhadap mu, itu adalah kelemahan dia sesungguhnya. Jadi, tinggal kan dia dan kembalilah kepada seseorang yang menjadikan mu seorang ratu dan tuan putri untuk mu.


Apa ada? Tentu saja! Huh! Kejar! Buka lah matamu lebar- lebar pada seseorang yang menomorsatukan kamu di atas segalanya. Seseorang yang dekat slalu memperhatikanmu dan memberi bentuk kasih sayang begitu tidak terlihat dibandingkan yang jauh yang hanya memberikan kata- kata indah dan manis tanpa bentuk dan pembuktian yang nyata akan kasih sayangnya.


*******


" Jadi? Begitu saja kamu menerima perlakuan tuan Wardha kepadamu, Ros? Kamu lupa begitu saja, dengan dahulu pernah mencampakkan kamu, Ros? Ketika kamu bunting dan mengandung Siwa, ditinggal begitu saja oleh tuan Wardha. Memang aneh cinta itu, yah?" kata Mbak Santi dengan sinis nya.


" Mbak Santi! Aku... aku aku sungguh tidak bisa membohongi diriku sendiri, bahwasanya aku juga masih rindu. Rasa itu begitu kuat sekali setelah kami berjumpa kembali disini. Apalagi, Siwa anak aku sudah semakin dekat dengan ayah kandungnya itu. Hal itu membuat lembaran kertas lama yang sudah tertutup, kini terbuka kembali untuk dibaca. Rasa itu semakin hari semakin membuncah." ungkap Rosiana.


" Rosiana!" sebut Mbak Santi pelan sambil mengusap lembut kepala milik Rosiana.


" Lalu? Apa yang kau inginkan dari hubungan ini selanjutnya?" tanya Mbak Santi dengan tatapan tajam.


" Hubungan apa Mbak?" tanya Rosiana tersentak kaget.


" Iya! Apa yang kau hendaki dari hubungan kamu ini dengan Tuan Wardha? Apakah kamu akan menjadi perusak hubungan rumah tangga mereka, Rosiana?" tuduh Mbak Santi.


" Ti... ti.. tidak mungkin Mbak Santi. Aku tidak menginginkan hal itu terjadi. Aku tidak ingin merusak hubungan suami istri itu." jawab Rosiana.

__ADS_1


" Jadi? Apa yang akan kamu lakukan setelah satu langkah telah diperbuat oleh tuan Wardha. Dia sudah berani mendekati kamu, berani mencium kamu, bahkan di kemudian hari pasti dia menginginkan yang lebih dari itu. Dengan alih- alih, dia tidak bisa melupakan kamu. Tuan Wardha masih menyukai kamu dan ingin membahagiakan kamu." tebak Mbak Santi serius dengan tatapan tajam.


" Mbak Santi! Lalu apa yang harus aku lakukan, Mbak? Siwa sudah di sini bersama ayah kandungnya dan dianggap sebagai anak mereka." ucap Rosiana.


" Nah, itu dia! Kamu harus secepatnya meninggalkan rumah ini dan menjauh dari sini. Sebelum kalian sama- sama saling membutuhkan dalam rasa ingin memiliki. Kamu harus berani menjauhi tuan Wardha." nasihat Mbak Santi.


" Tetapi Mbak, Tuan Wardha tidak mengijinkan aku pergi dari rumah ini. Tuan Wardha tidak rela jika aku menjauh darinya." sahut Rosiana.


" Dan kamu pun, tidak rela jika menjauh dan pergi dari Tuan Wardha, bukan?" tuduh Mbak Santi.


Rosiana hanya terdiam dan akhirnya hanya menunduk.


" Satu pertanyaan lagi untuk kamu? Apakah kamu, menikmati ketika waktu di cium oleh tuan Wardha?" tanya Mbak Santi.


" Hahaha. Ya sudahlah! Terserah saja! Mungkin kamu ingin merebut kembali cinta pertama kamu yang pernah hilang. Mungkin saja, kamu ingin mengulang kembali kisah cinta di masa remaja dahulu bersama kekasih pujaan hati kamu, Ros. Kamu sudah dewasa. Kamu bisa memilih dan menentukan apa yang kamu rasakan." kata Mbak Santi.


" Mbak Santi! Aku tidak ingin merusak hubungan rumah tangga mereka, Mbak Santi. Namun, aku juga tidak ingin pergi menjauh dari Mas Wardha." ucap Rosiana akhirnya.


" Apakah kamu ingin, Mas Wardha kamu bahagia?" tanya Mbak Santi.


" Iya!" jawab Rosiana singkat.

__ADS_1


" Ya sudah! Menjauh lah dari Mas Wardha mu itu. Ikhlaskan Tuan Wardha bahagia tanpa jeratan yang menggoda mu itu. Kehadiran kamu itu, membuat hati Mas Wardha kamu itu dalam kebingungan antara posisi nya dengan keluarga kecilnya dengan bayang- bayang kehidupan masa lalu itu yaitu dengan kamu, Rosiana." kata Mbak Santi.


" Iya, Mbak! Aku aku akan menjauh dari Mas Wardha. Aku akan pergi dari rumah ini." ucap Rosiana akhirnya.


" Syukur lah! Aku akan membantu kamu. Aku akan memperkenalkan kamu dengan keluarga baru supaya kamu bisa bekerja di sana." kata Mbak Santi memberi semangat.


" Benarkah?" tanya Rosiana.


" Tentu saja, Rosiana. Aku akan membantu kamu. Aku tidak ingin dan tidak rela jika kamu harus kembali menjalin hubungan dengan tuan Wardha terlepas tuan Wardha sangat menyukai kamu. Tetapi posisi tuan Wardha saat ini sudah menjadi suami orang. Dan kamu sudah paham itu bukan?" kata Mbak Santi.


" Iya, Mbak Santi. Terimakasih banyak atas nasihat dan arahannya Mbak Santi." kata Rosiana sambil memeluk erat tubuh Mbak Santi.


" Rosiana! Aku yakin, kamu pasti bisa lepas dari jerat rasa ini. Ini hanya godaan yang terlihat indah di rasa. Kamu yakin, suatu hari nanti kamu akan lebih mendapatkan gantinya dibanding tuan Wardha. Tuan Wardha hanyalah masa lalu yang harus kamu kubur dan jangan lagi kamu bongkar lagi. Biarlah menjadi cerita lampau yang tidak perlu diungkit lagi." kata Mbak Santi.


" Tapi Siwa, Mbak!" sahut Rosiana.


" Siwa jangan lagi menjadi alasan kalian untuk lebih dekat dan menjalin lagi suatu hubungan. Siwa adalah buah hati kalian di masa lalu. Itu jangan menjadi alasan kalian supaya bisa lebih intim lagi. Buang rasa itu jauh- jauh. Kamu harus fokus dengan kehidupan kamu, Rosiana." kata Mbak Santi.


" Ingat! Tuan Wardha sudah pernah meninggalkan kamu ketika kamu hamil. Tuan Wardha sudah pernah menyakiti kamu dengan tidak bertanggung jawab atas perbuatan nya. Ingat itu saja. Jangan lagi kamu buka hatimu untuk laki-laki brengsek seperti dia. Kamu harus ingat suami kamu, almarhum suami kamu yang sudah menikahi kamu. Menghargai kamu dengan kondisi kamu yang saat itu telah hancur." kata Mbak Santi sambil membelai kepala Rosiana.


" Iya, Mbak Santi. Aku sampai lupa atas almarhum suami aku ketika aku sudah dihadapkan dengan sosok Mas Wardha." sahut Rosiana.

__ADS_1


" Nah! Ingat Rosiana!" tambah Mbak Santi.


" Iya Mbak Santi. Terima kasih atas semua nasihat nya." ucap Rosiana kembali memeluk Mbak Santi.


__ADS_2