
Ketika hati resah tanpa tahu penyebab nya, kegundahan berselimut tebal di jiwa. Alam mulai gerah karena cuaca yang tidak menentu. Antara panas terik ataukah dingin menusuk tulang. Sukma melayang menjelajahi ruang gelap tak bercahaya. Tanpa sinar penerang petunjuk jalan. Aku dan kamu masih cukup diam. Menyimpan rasa rindu dendam yang masih rapat - rapat tiada terungkap. Segala masalah- masalah yang menjadi beban. Segera terungkap dalam pecahan kaca kristal. Serpihan tajam yang menggoreskan luka. Jikalau kita sama - sama dalam diam dan menyakiti hati satu sama lain. Biarkan berlalu, rasa yang rumit menghimpit. Kembalilah kamu dengan duniamu. Jangan pernah mengganggu, hati dan pikiran ku. Biarlah aku tenang menelusuri jalan ku. Dengan segala tujuan tanpa rongrongan kasih dan perhatian mu.
Siang itu, Winda kedatangan tamu. Di dalam kamarnya ada seorang wanita yang cukup cantik jelita dengan paras nya. Penampilan wanita karier modern zaman sekarang. Dia adalah Galuh. Galuh adalah sahabat nya sewaktu duduk di bangku kuliah dulu. Bersama Galuh lah, hubungan antara Surya terjalin lebih dekat karena peran Galuh lah, Winda lebih mengenal dengan Surya dan akhirnya pacaran. Tidak semulus jalan tol, hubungan dengan Surya itu terjalin. Betapa tidak, kedua orang tua Surya dulu tidak menyetujui hubungan diantara mereka. Surya akan di jodohkan dengan putri dari rekan bisnisnya yaitu tidak lain adalah Sarwenda. Karena Surya bersikeras menentang perjodohan itu, akhirnya pergi meninggalkannya rumah Kediaman Hartono dan memulai menata hidupnya dengan Winda walaupun jauh meninggalkan kemewahan dunia. Itulah pilihan Surya saat itu. Walaupun sekarang pada akhirnya, kini Surya terjerat kembali dengan kisah dan hubungan yang rumit dengan Sarwenda.
Galuh menggendong anaknya Winda. Wisnu yang ada di atas pangkuan Galuh hanya tidur memejamkan matanya. Sesekali menggeliatkan tubuhnya merasakan kehangatan dari pangkuan.
" Aku ikut senang Winda. Kamu bisa berada di rumah keluarga Hartono. Di terima baik oleh mereka. Oh iya? Bagaimana kabar Surya? Adakah yang berubah dari Surya?" tanya Galuh sambil mengusap lembut kepala Wisnu, si bayi mungil yang mulai montok itu.
" Mas Surya, masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Hanya saja, perhatian nya terkadang melebihi dosis. Terlalu khawatir dengan aku atau memang dia semakin sayang dengan aku." cerita Winda.
" Oh ya? Syukurlah kalau begitu. Tetapi, jika seorang suami atau laki- laki yang perhatian nya melebihi batas dari sebelumnya, ini harus kita waspadai, Winda." ungkap Galuh.
" Eh? Apa maksudmu?" tanya Winda jadi membulat matanya.
" Hehe. Lupakan saja!" sahut Galuh.
" Aku sebenarnya ingin mengajak kamu keluar. Kira - kira Wisnu sudah bisa kita ajak keluar rumah tidak?" tanya Galuh.
" Kurasa tidak apa-apa. Sudah kuat ini." jawab Winda.
" Tapi, aku pamit dulu dengan mama. Biasanya mama belum kasih ijin jika aku keluar ngajak Wisnu." cerita Winda.
__ADS_1
" Iyalah. Disini kan banyak asisten rumah tangga. Pekerjaan rumah pun tidak berat. Hanya menjaga, Wisnu yang masih bayi mungil ini, tidak akan repot." ujar Galuh.
" Iya deh. Ada sesuatu yang hendak kamu ceritakan kepada aku yah, Luh?" tanya Winda.
" Tentu saja! Otakku sudah penuh dengan beban permasalahan. Aku harus cerita dan curhat semuanya dengan kamu. Setidaknya supaya aku lega dan juga bisa menjadi pelajaran buat kamu nantinya, Winda. Jangan sampai mengalami kejadian seperti aku." ungkap Galuh.
" Aku jadi penasaran. Baiklah! Aku akan menemui mama dulu. Minta ijin keluar rumah." kata Winda sambil bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar kamar utamanya.
Aku pernah sengaja menghilang, agar di cari tapi aku lupa bahwa yang hilang bisa di gantikan. Aku sadar! Ternyata aku bukan siapa-siapa. Ternyata aku bukanlah orang penting yang di cari orang ketika keberadaan ku tiada lagi di kenal. Ternyata aku terlalu naif dan percaya diri karena kebanggaan diri. Padahal mereka tidak butuh diriku, melainkan aku memerlukan mereka dalam loyalitas ku. Lalu aku kembali mengasah keahlian ku agar aku memiliki kompetensi sesuai keahlian dan bakat ku.
" Hai Galuh! Melamun saja loh!" kata Winda yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar yang membuat lamunan Galuh buyar.
" Iya boleh! Tapi Wisnu gak boleh di bawa. Mau di jagain oleh Mbk Atik." jawab Winda.
" Ya sudah! Ganti baju kamu!" suruh Galuh sambil mendorong tubuh Winda untuk bergegas membuka lemari pakaian untuk memilih baju mana yang hendak di pakainya.
" Winda! Coba kamu pakai celana jeans!" tambah Galuh mulai mengatur.
" Hahaha! Aku pakai baju gamis saja!" sahut Winda.
" Weleh! Yang sudah mulai belajar pakai hijab." kata Galuh.
__ADS_1
" Sekarang aku sudah menjadi istri dan juga ibu, Luh! Kalau buka - buka an entar di kira aku masih gadis." ujar Winda sambil tersenyum.
" Sok cantik loh! Tapi Winda, kamu jangan salah. Sekarang ini, laki- laki lebih menyukai wanita yang sudah memiliki suami. Tantangan sendiri baginya." cerita Galuh.
" Benarkah? Apa alasannya?" Winda mulai terkejut dan membulat bola matanya lagi.
" Apalagi cewek berjilbab pun sudah umum di dekati. Berhijab sekarang ini sudah menjadi trend model. Kelakuan dari manusia itu sendiri yang sekarang menjadi pembeda." cerita Galuh.
" Iya! Paling tidak setiap manusia berusaha ingin menjadi baik. Kesempurnaan dan kebenaran hanya Milik Nya. Aku pun juga masih banyak belajar, Galuh. Aku pun bukan wanita yang sempurna. Ada kelemahan ku sebagai manusia yang belum bisa aku tutupi dengan segala kelebihan yang ku miliki." ucap Winda.
" Kamu dari dulu tidak berubah, Winda! Tidak neko-neko dan selalu nurut. Aku yakin, kamu adalah istri yang patuh dengan suami dan keluarga. Berbeda dengan aku. Aku selalu berontak jika tidak sesuai dengan keinginan atau pandangan aku. Tapi kamu lain. Bisa menerima semuanya." kata Galuh.
" Lalu! Aku harus bagaimana? Aku sudah sangat bersyukur dengan mendapatkan Mas Surya dan memiliki keluarga besar yang sayang dengan aku." ujar Winda.
" Amin! Semoga kebahagiaan dan ketentraman selalu berpihak kepada kamu, Winda." sahut Galuh.
" Galuh! Ucapan kamu seolah kamu sudah gagal atau kecewa dengan pilihan kamu dengan laki - laki yang kau pilih waktu itu." ucap Winda.
" Sudahlah! Nanti aku ceritakan semuanya kepada kamu. Ini kamu harus kasih polesan dikit dong sayang. Jangan seperti gadis kampung lagi. Kamu harus lebih jaga penampilan kamu lagi. Supaya apa? Mas Surya mu akan lebih menyayangi kamu dan makin perhatian dengan kamu." kata Galuh sambil merias wajah putih bersih milik Winda.
" Galuh! Jangan terlalu menor dong!" sahut Winda.
" Tidak! Kamu selalu cantik dari dulu, walaupun tanpa perawatan. Hehe." ucap Galuh.
__ADS_1
" Bukankah kamu yang lebih paham aku, Galuh." ujar Winda sambil tersenyum menatap Galuh.