Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
MAIN


__ADS_3

Sepulang dari kantor, Winda mendapati Wisnu telah bermain- main dengan Herika. Hari ini Winda ke ketemuan dengan klien bersama Intan dalam urusan kontrak kerja di bidang konstruksi tersebut. Sehingga hari ini Winda berangkat ke kantor sendiri dengan mobil matic nya.Herika dan Wisnu terlihat cepat akrab bermain bola. Senyum diantara keduanya sangat lepas, apalagi Herika kalau sudah bermain bola seperti itu, jiwa anak- anak nya kembali muncul. Seolah masa kecil dikala itu kurang bahagia.


Winda sebelum masuk ke dalam rumah duduk di depan bangku kayu panjang di taman, menyaksikan keduanya yang sedang bermain sore itu. Winda pun ikut terbawa suasana hati yang penuh ceria dan kegembiraan. Tiba-tiba bola yang dimainkan mereka tertendang jauh ke arah Winda duduk. Seketika Winda menjadi terkejut dan tidak bisa menghindarinya. Bola itu mengenai kepala Winda. Spontan saja Herika dan Wisnu melongo lalu mendatangi Winda yang duduk di bangku kayu itu sambil mengeluh kesakitan.


" Winda! Sakit yah? Maaf, kami tidak sengaja." kata Herika sambil mengusap lembut kepala Winda yang terkena bola itu.


Wisnu pun tidak kalah ikut memberikan perhatian kepada mama nya.


" Mama! Sakit nya dimana ma?" ucap Wisnu sambil ikut mendekati mama nya sambil meniup dengan mulutnya tempat yang terkena bola tadi. Winda yang melihat reaksi Wisnu yang imut hanya tersenyum.


" Sudah tidak sakit lagi kok, sayang! Wisnu yang mengobati nya kan?" ujar Winda sambil memeluk Wisnu lalu mencium pipinya.


" Mama yang salah! Kami lagi bermain bola, mama malah duduk di sini. Itu sangat berbahaya, mama." kata Wisnu yang dengan lucunya mengkritik mama nya.


Herika hanya tersenyum dengan tingkah imut Wisnu.


" Maaf! Soalnya mama lihat, kalian asyik bermain bolanya sih." sahut Winda.


" Kamu tidak apa- apa kan, Win?" tanya Herika masih mengusap pucuk kepala Winda.


" Eh, tidak apa- apa kok! Kamu tumben, sudah datang ke mari? Tidak datang ke perusahaan kamu?" tanya Winda seperti wartawan yang masih magang, pertanyaan nya sungguh tidak penting banget.


" Hari ini sengaja pulang cepat kok, Win! Aku mau ajak Wisnu bermain rollercoaster di pusat pembelanjaan di kota." kata Herika dengan mata berbinar.


" Eh rollercoaster? Serem ah!" sahut Winda sambil melihat Wisnu.


" Serem juga mak Lampir, ma!" sahut Wisnu sambil tersenyum.


" Katanya Wisnu, nunggu mamanya kasih ijin. Baru bisa main ke sana." kata Herika sambil meraih Wisnu supaya duduk di dekatnya.


" Boleh kan, ma? Mam kalau gak berani, biar Wisnu dengan papa Herika saja." ucap Wisnu serius.


" Sekarang?" tanya Winda bertanya kepada Herika.

__ADS_1


" Iya!" jawab Herika singkat.


" Aku gak ikut. Kalian saja berangkat sendiri, yah! Aku masih banyak kerjaan, mana belum mandi juga habis ketemuan dengan klien tadi." kata Winda.


" Gak asyik, kalau mama tidak ikut!" sahut Wisnu.


" Wisnu sayang! Lain kali saja, kalau mengharuskan bermain dengan mama. Mama masih ada kerjaan yang harus selesai hari ini. Besok mama harus ke tempat lokasi proyek dalam urusan perjanjian kontrak dengan klien itu." kata Winda lebih memberikan penjelasan kepada Herika. Wisnu mana sudah paham dalam urusan bisnis konstruksi seperti itu.


" Mama, nanti Wisnu bantuin deh!" sahut Wisnu serius dengan bola mata yang membulat membentuk bola kelereng.


Herika yang mendengar sikap, tingkah, bicara Wisnu seperti orang dewasa hanya tersenyum saja.


" Tidak! Tidak! Wisnu bermain saja dengan papa Herika. Mama ijinkan deh." sahut Winda akhirnya sambil berdiri dari duduk nya dan melangkah masuk ke dalam rumah.


Wisnu dan Herika saling pandang.


" Bagaimana pa? Kita berangkat sendiri, gak papa?" tanya Wisnu.


" Mama!" panggil Wisnu yang mulai mengikuti Winda masuk ke dalam rumah.


" Iya, sayang!" sahut Winda sambil berhenti menanti Wisnu yang menghampiri dirinya.


" Wisnu berangkat sekarang dengan Papa Herika, ma!" kata Wisnu.


" Oke! Tapi jangan nakal dan jangan bikin repot papa Herika yah." pesan Winda.


" Siap!" kata Wisnu singkat sambil melihat ke arah Herika.


" Oke! Wisnu pakai jaket dulu lalu kita berangkat." ajak Herika.


" Oke!" sahut Wisnu sambil masuk ke kamarnya untuk mengambil jaketnya. Namun, Mbak Ita, asisten rumah tangga Winda yang mendengar Wisnu mau pergi segera mengikuti Wisnu untuk mencarikan jaket dan sepatu yang akan ia pakai.


" Kamu mau dibeliin apa, mama cantik?" tanya Herika dengan suara pelan.

__ADS_1


Winda hanya nyengir mendengar Herika memanggilnya dengan mama cantik.


" Parfait strawberry dan bakso beranak." jawab Winda.


" Itu saja, ma?" tanya Herika lagi.


" Iya, cukup itu saja, papa Herika!" jawab Winda kembali nyengir.


"Eh tunggu!" tambah Winda lagi.


" Ada apa, mama cantik!" sahut Herika masih berusaha menggoda Winda.


" Jangan bercanda lagi, dengan memanggil aku dengan itu, Herika!" kata Winda dengan wajah serius.


" Baik, mama cantik!" sahut Herika sambil terkekeh.


" Eh, Herika?" protes Winda sambil memukul lengan kekar milik Herika.


" Ayo pa! Aku sudah siap!" teriak Wisnu yang keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah rapi.


" Gantengnya, anak mama!" sahut Winda sambil tersenyum dan membentangkan kedua tangannya untuk memeluk Wisnu.


" Ini karena papanya ganteng, jadi Wisnu pun ikut tertular kegantengan nya." ucap Herika.


" Papa siapa?" tanya Wisnu yang kini ada didalam pelukan mama nya, Winda.


" Papa Wisnu siapa?" malah Herika balik bertanya.


" Semua papa Wisnu ganteng, termasuk papa Herika." jawab Wisnu akhirnya sambil melepaskan pelukan dari mama nya.


" Ya sudah! Hati-hati Herika! Jangan ngebut!" pesan Winda kepada Herika.


" Siap mama cantik!" sahut Herika kembali menggoda Winda dengan sebutan mama. Wisnu yang mendengar itu malah jadi tertawa terpingkal- pingkal.

__ADS_1


__ADS_2