
Hati kosong tanpa nama Nya. Gelisah,gundah tanpa ketenangan. Jika ingin tentram mengingat Nya adalah usaha nya. Tapi apakah hatimu tidak akan terlalai kan dengan Nya,jika hatimu penuh dengan kepalsuan dan selimut kabut nan hitam.
Di rumah Sarwenda, disana ada Wardhana dan Sarwenda sendiri yang sedang duduk saling berhadapan. Mereka saling berbincang dengan santai. Tampaknya Sarwenda sudah cukup akrab dengan Wardhana. Pasalnya Sarwenda selalu berkeluh kesah tentang dirinya.
" Jadi? Kamu sudah menikah siri dengan Mas Surya? Sial! Kenapa selalu Surya yang selalu merebut semua yang aku inginkan. Di perusahaan milik keluarga, Surya lah yang menjadi posisi tertinggi di sana. Dan kini, wanita yang aku sukai dari sejak dulu pun, kini sudah dimiliki nya." kata Wardhana penuh dengan kemarahan.
" Wardhana! Tapi kamu tahu dengan jelas,bukan? Mas Surya jarang ke rumah aku. Terakhir kali dua bulan yang lalu." keluh Sarwenda.
" Apa? Mas Surya juga jarang pulang ke rumah kediaman Pak Hartono. Mas Surya pun juga tidak pulang ke istrinya. Lalu dia kemana?" tanya Wardhana penuh teka- teki.
" Tapi bukankah kamu sering menemuinya di kantor? Aku sering melihat kamu di ruangan nya." imbuh Wardhana.
" Kamu memperhatikan gerak-gerik aku yah?" tanya Sarwenda.
" Tentu saja! Kamu adalah wanita yang aku sukai. Apa ada yang salah?" ujar Wardhana.
" Terakhir kalinya aku bersama orang yang menjual properti rumah kayu. Mas Surya hendak membelikan rumah untuk Winda. Itu saja. Hubungan kami terlihat baik-baik saja tapi tidak untuk berhubungan intim lagi." cerita Sarwenda jujur.
" Apa? Sial! Berapa kali kau tidur dengan Mas Surya?" tanya Wardhana penuh amarah.
" Hem? Tiga kali!" jawab Sarwenda singkat.
" Terakhir kapan melakukan nya?" tanya Wardhana dengan muka merah padam.
" Tiga bulan yang lalu." jawab Sarwenda singkat.
" Apa kamu pernah mengancam Mas Surya?" tanya Wardhana.
" Aku selalu mengancamnya. Jika dia berbuat tidak baik terhadap ku, aku akan berbuat nekad untuk mengadu ke mama dan papa Mas Surya. Aku akan mengakui kalau aku istri Mas Surya walaupun pernikahan itu adalah nikah siri. Aku ingin tahu, reaksi apa yang akan dilakukan oleh istri kesayangan Mas Surya itu." cerita Sarwenda sambil menggigit bibirnya.
" Tapi Sarwenda. Bukankah ada aku? Aku bisa menikahi kamu secara hukum dan agama. Aku sudah lama mencintai kamu. Bukankah kamu menikmati hubungan ini dengan aku?" tanya Wardhana serius.
__ADS_1
" Tapi aku tidak menyukai kamu, Wardhana. Dan aku tidak menginginkan kamu menjadi suami aku. Kita berhubungan intim suka sama suka. Dan aku menginginkan kehamilan itu, supaya aku bisa mengaku kalau aku hamil anaknya Mas Surya." ungkap Sarwenda.
" Kamu terlalu naif, Sarwenda! Keluarga Hartono tidak sebodoh itu. Dan Mas Surya pun juga tidak bisa kamu bohongi. Dan aku sudah mengetahui segalanya. Aku bisa menjadi saksi. Karena aku menyukai kamu dan tidak rela jika kamu menghendaki Surya menikahi kamu secara hukum. Dengan kamu berhubungan dengan aku, kamu sudah gugur secara agama dinikahi siri oleh Mas Surya karena Mas Surya sudah tidak menganggap kamu. Walaupun dia masih berbuat baik dengan kamu ketika kamu di kantor." ungkap Wardhana.
" Tolong aku, Wardhana! Aku ingin menikah dengan Mas Surya." rengek Sarwenda.
" Kamu ini, ada laki- laki yang benar- benar menyukai kamu malah memilih laki- laki yang sama sekali tidak menganggap kamu." sahut Wardhana.
" Kalau begitu anggap saja, aku ingin membalas dendam Mas Surya atau menghancurkan rumah tangganya." kata Sarwenda.
" Sial! Aku semakin tidak mengerti jalan pikiran kamu, Sayang." sahut Wardhana.
" Apakah kamu tidak cukup jika berhubungan dengan aku? Aku bisa membahagiakan kamu, Sarwenda!.Aku bisa segera menceraikan Intan. Tapi bersabarlah. Aku bisa mengurusnya." janji Wardhana.
" Tidak! Aku tidak menginginkan kamu, Wardhana. Aku ingin Mas Surya!" bentak Sarwenda.
" Jika kamu tidak mendengar ucapan aku waktu itu, aku pun tidak mau berhubungan dengan kamu. Tapi aku rasa kamu cukup menghibur aku." imbuh Sarwenda.
" Bukankah kamu menyukai dan menikmati nya? Karena kamu menyukai aku, Wardhana." sahut Sarwenda.
" Tidakkah sedikit saja hatimu menyukai aku? Bukankah aku sudah sering kemari dan menemani kamu?" tanya Wardhana.
" Sedikit sih. Cuma hati aku masih dengan Mas Surya. Ketika aku berhubungan dengan kamu, dalam khayalan aku adalah Mas Surya." ungkap Sarwenda.
" Sial! Begitu kejamnya kamu, Sarwenda." teriak Wardhana.
" Aku harus minum obat itu jika harus berhubungan dengan kamu, Wardhana." kata Wardhana.
" Astaga! Tapi baiklah! Apa mau kamu sekarang?" tanya Wardhana.
" Aku akan mengakui kehamilan ini adalah anak Mas Surya." kata Sarwenda penuh dengan rencana.
__ADS_1
" Memang nya kamu sedang hamil, Sayang?" tanya Wardhana.
" Iya! Aku sudah terlambat satu bulan. Dan ini adalah anak kamu, Wardhana!" jujur Sarwenda.
" Ya sudah! Biar aku yang bertanggung jawab. Sudah sekian lama aku belum memiliki anak dari Intan. Ternyata aku bisa mempunyai anak." kata Wardhana bersemangat dan penuh kegembiraan.
" Aku tidak mau menikah dengan kamu, Wardhana! Aku akan mengakui kalau aku sudah menjadi istri nya Surya sejak beberapa bulan yang lalu." ucap Sarwenda.
" Terserah kamu sajalah! Tapi jika Mas Surya tidak mau mengakui nya aku yang akan bertanggung jawab, Sarwenda." kata Wardhana.
" Papa dan mama aku sudah mengenal baik keluarga Pak Hartono. Jika kamu benar-benar menyayangi aku, kamu harus berbahagia jika melihat aku menikah secara resmi dengan Mas Surya. Karena kebahagiaan aku adalah bisa menjadi istri Mas Surya." ucap Sarwenda.
" Apa enaknya kamu menikah dengan suami yang tidak menyukai kamu?" sahut Wardhana.
" Cukup! Jangan kamu ulangi kata- kata itu terus Wardhana. Yang penting aku menyukai Mas Surya. Aku akan menyingkirkan istrinya itu, Winda!" ancam Sarwenda.
" Jadi akulah yang akan menjadi istri satu-satu nya Mas Surya." imbuh Sarwenda.
" Astaga!" sahut Wardhana.
Sarwenda mulai meninggalkan Wardhana yang masih duduk di sofa. Senyuman Sarwenda penuh kemenangan.
" Anak? Aku bisa mempunyai anak?" gumam Wardhana.
" Baiklah! Paling tidak aku bisa melihat anak kandung aku dari Sarwenda." kata Wardhana pelan.
" Apa bagusnya Surya dari aku? Aku cukup ganteng juga. Kenapa Sarwenda tidak menyukai aku?" keluh Wardhana.
Cinta macam apa seperti ini? Penuh ambisi dan keegoisan diri. Cinta adalah dorongan. Didalam nya ada keinginan tetapi bukan berarti segala cara akan ditempuh nya untuk mendapatkan nya, tanpa batas dan norma yang ada. Cinta atau ambisi? Bukankah cinta tidak harus memiliki?
Rasa ini begitu menggoda tatkala melihat nya. Tapi gejolak ini tiada bisa dilawannya. Selalu ingin dan peduli dengan nya. Ingin selalu dekat dan dengan dirinya. Hati tenang jika sudah mendengar suara dan melihat wajahnya.
__ADS_1