
Sarwenda masih di kamar tamu. Cukup lama Sarwenda didalam ruangan itu, yang membuat Wardha, suaminya Intan menjadi khawatir dengan Sarwenda. Kenapa Sarwenda tidak juga keluar dari kamar tamu milik kediaman Pak Hartono tersebut. Kira - kira satu jam, Sarwenda yang ijin ke belakang tapi nyatanya di kamar tamu tersebut Sarwenda masih berlama - lama di sana.
Wardha berjalan menuju kamar tamu itu. Dengan pelan - pelan membuka pintu kamar tamu tersebut. Alangkah terkejutnya, Wardhana ketika melihat Sarwenda tertidur di kasur spring bed ruangan itu. Wardha hanya tersenyum melihat wajah ayu milik Sarwenda ketika tertidur seperti itu. Dalam diam, Wardha berusaha menelanjangi wajah dan tubuh seksi milik Sarwenda. Cukup lama memang, Wardha cinta mati dengan Sarwenda. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan.
Wardha memberanikan diri mendekati Sarwenda yang yang masih pulas tertidur itu. Di belainya rambut panjang milik Sarwenda. Tidak ada pergerakan. Tidur Sarwenda tampak pulas seperti sudah bekerja keras seharian ini.
Di luar Ruangan itu, Surya mengintip kelakuan Wardha. Dalam diam Surya jadi paham, kalau sebenarnya Wardha masih menaruh hati dengan istri muda nya itu.
" Sial! Untung saja aku cepat- cepat keluar dari kamar itu. Kalau tidak, rahasia ini akan cepat terbongkar." gumam Surya lalu melangkah pelan pergi meninggalkan kamar tamu tersebut melalui pintu samping.
Antara Surya dan Sarwenda memang sempat bercengkrama di kamar tamu itu. Karena paksaan dan keinginan Sarwenda, akhirnya mereka melakukan hubungan suami istri itu di kamar itu. Dengan waktu hampir satu jam, cukup untuk melepaskan kerinduan Sarwenda dengan Surya. Pada kenyataannya, Sarwenda kelelahan setelah melakukan pertempuran syahwat yang menguras energi dan keringat.
Wardha masih pelan - pelan membelai rambut milik Sarwenda. Sarwenda pun tidak sadar akan tangan - tangan kurang buruk milik Wardha yang mulai menggerayangi tubuh milik Sarwenda. Tangan itu kini beralih ke pipi Sarwenda. Dengan lembut mengusapnya pelan. Tidak lama, Sarwenda mulai tersenyum sambil memejamkan matanya.
" Mas Surya! Kamu menginginkan nya lagi sayang?" ucap Sarwenda lirih lalu meraih tangan milik Wardha itu lalu mengecupnya. Dengan mata masih terpejam dan malas bangun, Sarwenda masih berbaring di kasur itu.
Wardha yang mendengar ucapan pelan dari mulut Sarwenda membelalakkan matanya. Betapa terkejutnya Wardha dengan apa yang barusan ia dengar. Tidak menunggu lama-lama, Wardha mulai melakukan aksinya. Kata - kata yang keluar dari mulut Sarwenda akan menjadi senjatanya jika Sarwenda tidak mau dan menolak akan apa yang Wardha inginkan.
Dengan senyuman yang nakal, Wardha mulai melakukan aksinya. Pelan - pelan mempermainkan bibir seksi milik Sarwenda lalu turun ke bawah dan ke bawah lagi. Sampai Sarwenda mulai menggeliat menikmati semua sentuhan itu.
Satu persatu semua yang melekat di badan Sarwenda, Wardha lepas. Dan ketika Wardha mulai menyerang Sarwenda dengan senjatanya. Sarwenda membuka matanya dan terkejut melihat wajah siapa yang kini sedang menimpanya.
" Kamu! Apa yang kamu lakukan?" ujar Sarwenda yang sudah tidak bisa lepas dari cengkraman Wardha.
" Hahaha! Diam lah! Dan nikmati saja semuanya. Seperti kamu menikmati ini semua dengan Mas Surya!" ucap Wardha mengancam.
__ADS_1
" Hah??" Sarwenda terkejut bukan main. Kenapa Wardha bisa mengetahui hubungan nya dengan Surya? Sarwenda. masih penuh tanda tanya besar.
" Kamu sendiri tadi yang bilang, jadi aku tahu dari ucapan kamu. Jadi nikmati saja! Bukankah ini akan menguntungkan diri kamu? Aku sudah mencintai kamu cukup lama, dan kamu selalu menolak aku. Jadi penuhilah keinginan dan hasrat aku kali ini." Kata Wardha sambil tersenyum.
" Aku tidak perduli! Lepaskan aku!" kata Sarwenda. berusaha berontak. Tapi Wardha sudah lebih dulu menyerang Sarwenda. dengan senjatanya yang tegang. Senjata yang keras tapi bukan tongkat. Senjata yang tegak tapi bukan keadilan. Senjata yang menegak tapi bukan kayu. Senjata yang tumpul tapi bisa membuat rasa ngilu dan mengantar kenikmatan.
" Wardha! Hentikan!" teriak Sarwenda.
" Diam! Atau semua akan tahu dan kamu tidak akan diterima menjadi menantu di rumah ini!" kata Wardha sambil membungkam mulut Sarwenda.
Akhirnya Sarwenda diam dengan apa yang telah dilakukan oleh Wardha. Matanya terpejam.
" Kamu jangan menolak! Nikmati saja semuanya. Aku tidak akan kalah seperti Surya, Sayang! Karena aku benar-benar mencintai kamu dari dulu." ucap Wardha sambil tersenyum puas ketika pada akhirnya Sarwenda hanya menatap wajah dirinya dengan penuh diam dan pasrah.
" Aku bisa membuat kamu bahagia, tidak seperti Surya, Sarwenda!" tambah Wardha.
" Aku tidak pernah dihina seperti ini, aku tidak pernah diperlakukan seperti binatang seperti ini, Wardha!" ucap Sarwenda.
" Apa kamu bilang? Aku memperlakukan nya dengan lembut. Karena aku tulus mencintai kamu. Aku tidak bermaksud menghina dan merendahkan kamu, sayang." ucap Wardha yang mulai bersalah.
" Tapi kamu memaksakan aku dengan melakukan ini semua. Lalu ini apa artinya? Kalau kamu tidak menganggap aku sebagai budak nafsu kamu?" ucap Sarwenda pelan dengan amarah yang tertahan.
" Kalau aku tidak memaksamu, apakah kamu dengan rela dan senang hati menerima aku?" sahut Wardha.
Sarwenda hanya menatap tajam kearah wajah Wardha. Wardha terdiam dan kembali melaksanakan aksinya. Wardha lupa, Kalau dirinya sudah menjadi suami dari Intan. Dia adalah seorang laki-laki yang juga sudah ber istri. Kenapa tidak mendatangi istrinya ketika hasrat dan keinginan nya memuncak? Kenapa harus dengan Sarwenda?
__ADS_1
Wardha berkali- kali menunjukkan kemampuan nya sebagai laki - laki yang tulen dan perkasa. Dia ingin juga membuat Sarwenda terdiam, dan pada akhirnya bisa menikmati segalanya.
" Kamu sudah mulai menikmati nya sayang?" tanya Wardha dengan tersenyum nakal.
" Hahaha! Begitu saja lebih baik kan, sayang? Kamu tidak akan rugi loh!" tambah Wardha tertawa kecil yang tertahan melihat Sarwenda yang pada akhirnya seperti pasrah dan tidak ada perlawanan terhadap tindakan yang dilakukan nya.
" Kamu ingin di atas, sayang?" tanya Wardha sambil tersenyum nakal.
" Tidak! Lakukan apa yang ingin kamu lakukan! Sebelum istri kamu tahu akan kebenaran semua ini." ucap Sarwenda.
" Oh ho! Kamu menantang aku? Aku pun bisa melakukan yang sama loh! Akan aku bongkar hubungan kamu dengan Mas Surya!" ancam Wardha.
" Aku tidak takut! Malah itu yang aku harapkan!" tantang Sarwenda.
" Memangnya kamu bisa di terima keluarga ini setelah mengetahui kelakuan kamu yang mau dan senang hati tidur selain dengan Mas Surya juga mau tidur dengan aku?" ancam Wardha.
" Kamu???" sahut Sarwenda.
" Sudahlah! Nikmati saja, pergumulan kali ini. Kalau kamu merasa terpuaskan dengan pelayanan aku, kamu bisa datang kepadaku kembali. Oh tidak! Aku akan kembali datang ke rumah kamu, sayang!" kata Wardha dengan senyuman nakalnya.
Sarwenda terdiam. Matanya terpejam. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain bisa berusaha menikmati segala yang sudah terjadi dan sedang terjadi. Bagi nya tidak buruk juga, jika Wardha sudah masuk dalam perangkap nya. Paling tidak, hatinya tidak akan sakit hati dan kesepian lagi ketika Surya tidak pulang dan menjauhi dirinya. Ada Wardha yang akan mengganti posisi Surya dalam kesepian nya dirumah.
Dunia memang sudah gila. Segila situasi dan keadaan saat ini.
"Aku dan kamu sama - sama mau. Aku dan kamu sama - sama suka. Lakukanlah seperti keinginan mu saat ini. Jangan munafik lagi, Sarwenda! Hahaha." ucap Wardha sambil tersenyum puas dan penuh kemenangan.
__ADS_1
( Yang gila Author nya atau Sarwenda sih? Maaf selalu telat dalam melanjutkan cerita novel ini. Selain ada beberapa aktivitas dan kerjaan dari author. Mood nulis Author lagi menurun drastis. Untung saja ketika mood menulis hilang, ada selingan dubbing novel disini. Lihat hasil dan dengar kan dubbing novel saya yah! Lihat di profil saya. Terimakasih banyak atas kunjungan nya. See you!